Suu Kyi menjelaskan bahwa Myanmar adalah negara yang baru saja belajar berdemokrasi setelah lebih dari separuh abad dikuasai junta militer. Sehingga butuh waktu cukup untuk proses transisi.
"Transisi bagi kami adalah transisi menuju demokrasi setelah lebih dari separuh abad berada dalam kepemimpinan otoriter. Kami sedang berupaya membentuk bangsa, dengan demokrasi yang belum sempurna," ujarnya dalam sebuah pidato di Naypyidaw pada Senin (18/9) malam.
Ia juga menjabarkan bahwa Myanmar adalah negara yang rumit. Kerumitan semakin bertambah karena semua pihak meminta negara untuk segera semua tantangan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Padahal, partai yang dipimpin Suu Kyi masih seumur jagung memimpin Myanmar.
"Saya ingin mengingatkan kembali bahwa pemerintahan kami bahkan belum mencapai 18 bulan, dan ini adalah waktu yang sangat singkat untuk memenuhi seluruh harapan," jelasnya seperti dikutip
AP.
Sementara menanggapi masalah eksodus 400 ribu warga rohingya ke perbatasan Bangladesh, peraih nobel perdamaian itu mengaku sedang menyelidiki penyebabnya. Pasalnya, di Rakhine State masih ada warga rohingya yang tidak ikut melarikan diri. Sehingga butuh penyelidikan khusus untuk mengetahui akar masalah.
"Kami ingin bicara dengan mereka yang melarikan diri dan mereka yang tetap tinggal. Saya kira hanya sedikit yang tahu bahwa sebagian besar warga Muslim di Rakhine tidak ikut melarikan diri. Mereka masih ada di sana dan kami ingin tahu mengapa," pungkasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: