Insiden ini bermula pada Jumat, 3 April 2026, ketika pesawat tersebut jatuh dan kedua awaknya terpaksa melompat menyelamatkan diri.
Salah satu awak segera ditemukan, sementara pilot lainnya menghilang dan menjadi fokus operasi pencarian besar-besaran. Pilot tersebut dilaporkan bertahan sendirian selama lebih dari 24 jam di wilayah pegunungan terpencil, dalam kondisi berbahaya, sambil menghindari kejaran dan hanya berbekal sebuah pistol.
Situasi semakin genting karena pihak Iran turut melakukan pencarian. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengerahkan pasukan bersama warga sipil untuk menyisir area tersebut. Mereka bahkan menawarkan imbalan sekitar 66.000 dolar AS bagi siapa pun yang berhasil menangkap pilot tersebut dalam keadaan hidup. Ratusan orang dilaporkan terlibat, sehingga meningkatkan risiko pilot jatuh ke tangan Iran.
Di tengah tekanan tersebut, AS meluncurkan operasi penyelamatan besar-besaran yang melibatkan puluhan pesawat serta dukungan intelijen canggih. CIA berperan penting dalam melacak posisi pilot di celah-celah pegunungan dan mengirimkan koordinat akurat kepada militer.
Untuk menjaga kerahasiaan misi, AS juga menjalankan strategi pengelabuan dengan menyebarkan informasi bahwa pilot telah ditemukan. Langkah ini bertujuan mengalihkan perhatian pihak Iran dari lokasi sebenarnya.
Operasi penyelamatan akhirnya berhasil dilakukan pada Sabtu malam. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan langsung keberhasilan tersebut dan memuji misi itu sebagai aksi luar biasa.
“Kami menemukannya... ini adalah salah satu operasi pencarian dan penyelamatan paling berani dalam sejarah AS,” ujar Trump, dikutip dari BBC, Senin, 6 April 2026.
Pilot yang berhasil diselamatkan dilaporkan mengalami luka akibat proses pelontaran, namun dipastikan akan pulih. Ia juga disebut sebagai seorang kolonel yang dihormati di militer AS.
Meski operasi berakhir sukses, insiden ini tidak berlangsung tanpa konsekuensi. Media Iran melaporkan adanya korban jiwa di pihak mereka selama proses penyelamatan.
BERITA TERKAIT: