Washington dilaporkan telah menekan Austria untuk mencegah Eslami memasuki negara tersebut.
Menteri Energi AS Chris Wright membenarkan bahwa Washington memberikan tekanan agar Eslami tidak dapat menghadiri pertemuan tersebut.
Menurutnya, Eslami merupakan individu yang telah dikenai sanksi sehingga tidak seharusnya dapat menghindari pembatasan yang diberlakukan terhadapnya.
Wright mengatakan Eslami sebelumnya telah mengajukan permohonan pengecualian dari sanksi, namun permintaan tersebut ditolak.
“Dia meminta keringanan sanksi dan permintaannya ditolak,” ungkap Wright, dikutip dari
AFP, Selasa, 15 September 2026.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan Eslami bersama delegasi Iran telah menaiki penerbangan reguler menuju Wina pada Sabtu, 13 September 2026. Namun, mereka disebut terhalang dalam perjalanan akibat diblokir AS.
Pejabat senior badan nuklir Iran Behrouz Kamalvandi mengecam tindakan tersebut sebagai tekanan politik yang bersifat intimidatif dan menilai keputusan itu dapat menjadi preseden yang berdampak lebih luas.
Seorang sumber diplomatik di Wina sebelumnya juga mengatakan tekanan AS menjadi penyebab di balik penolakan masuk terhadap Eslami.
Eslami seharusnya menghadiri konferensi umum tahunan IAEA yang berlangsung pekan ini. Ia bahkan menghadiri pertemuan serupa tahun lalu dan menyampaikan pidato atas nama Iran, meski sanksi terhadap dirinya telah berlaku.
Pemerintah Iran kemudian memanggil kuasa usaha Austria sebagai bentuk protes. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menilai keputusan Austria tidak dapat dibenarkan.
“Penolakan pemerintah Austria untuk menerbitkan visa bagi delegasi Republik Islam Iran merupakan keputusan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan. Bagi kami, jelas bahwa insiden ini terjadi akibat tekanan Amerika, namun hal itu tidak melepaskan pemerintah Austria dari tanggung jawab," tegasnya.
BERITA TERKAIT: