Mengutip laporan yang diterima redaksi Minggu, 27 September 2026, salah satu persoalan berkaitan dengan pengelolaan bantuan di Italia dan aktivitas Fatima Mahfoud, yang disebut sebagai perwakilan Polisario di Roma.
Sejumlah aktivis dan kelompok yang berbeda pandangan dengan kepemimpinan Polisario mempertanyakan transparansi sejumlah program bantuan.
Namun, tuduhan terkait pengelolaan dana itu masih memerlukan pemeriksaan dokumen keuangan dan penyelidikan independen.
Kontroversi lain berkaitan dengan Infravest for Contracting and Investment yang dilaporkan beroperasi di kamp sejak 2022 di bawah arahan Sallamou Abba Ali.
Setelah perusahaan tersebut kolaps, warga, pedagang, dan koperasi di Rabouni serta Chahid El Hafed dilaporkan menuntut pengembalian dana.
Nilai kerugian yang disebut dalam laporan mencapai sekitar 886 juta dinar Aljazair atau sekitar 6,6 juta dolar AS. Angka dan mekanisme operasional perusahaan tersebut tetap perlu diverifikasi melalui penyelidikan berwenang.
Infravest dituding menggunakan kegiatan sponsor budaya dan proyek konstruksi untuk membangun kredibilitas sebelum diduga menjalankan skema Ponzi.
Dugaan keterlibatan tokoh-tokoh senior Polisario juga mencuat, tetapi tanggung jawab hukum setiap pihak harus ditentukan berdasarkan bukti yang terverifikasi.
Situasi ini kembali memunculkan seruan agar mekanisme pengawasan bantuan internasional diperkuat.
Uni Eropa sebelumnya telah menerapkan audit dan menyalurkan bantuan melalui organisasi mitra seperti WFP dan UNHCR untuk meningkatkan pengawasan distribusi bantuan di kamp Tindouf.
BERITA TERKAIT: