Penutupan ratusan gerai itu akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk memulihkan kinerja bisnis.
Jumlah tersebut setara sekitar 1 persen dari total 18.000 gerai Starbucks di Amerika Utara. Ini menjadi kali kedua perusahaan melakukan penutupan gerai dalam jumlah besar di kawasan tersebut.
"Gerai yang terdampak tidak memberikan pengalaman yang kami inginkan bagi pelanggan dan mitra atau tidak layak secara finansial," kata Starbucks dalam pernyataannya dikutip CNBC International Sabtu, 26 September 2026.
Berdasarkan laporan regulasi yang dirilis perusahaan, Starbucks memperkirakan penutupan tersebut akan menimbulkan biaya restrukturisasi sekitar 300 juta Dolar AS atau setara Rp5,37 triliun.
Sekitar 200 juta Dolar AS dari biaya tersebut dialokasikan untuk mengakhiri kontrak sewa lebih awal serta membayar pesangon karyawan.
Starbucks belum mengungkap daftar lengkap lokasi yang akan ditutup. Pengumuman mengenai gerai terdampak akan dipasang langsung di lokasi mulai akhir pekan ini, sementara informasi penutupan juga akan diperbarui melalui aplikasi seluler perusahaan.
Meski memangkas sejumlah gerai, Chief Operating Officer Starbucks Mike Grams mengatakan perusahaan masih melihat peluang pertumbuhan di pasar Amerika Utara.
"Kami tetap antusias dengan peluang pertumbuhan jangka panjang yang signifikan di Amerika Utara," tulis Grams dalam surat kepada karyawan.
Menurutnya, Starbucks tetap aktif membuka gerai baru di lokasi yang dinilai lebih strategis. Namun, jumlah pembukaan gerai baru secara global pada tahun fiskal ini diperkirakan hanya sekitar 440 lokasi, turun dari target sebelumnya sebanyak 600-650 gerai.
BERITA TERKAIT: