Menurut Sugiono, berbagai kemajuan yang dicapai dunia dalam delapan dekade terakhir berjalan beriringan dengan munculnya beragam krisis dan konflik.
Karena itu, ketahanan nasional menjadi pijakan awal untuk membangun multilateralisme yang tangguh.
Indonesia, kata dia, memperkuat ketahanan nasional melalui kemandirian pangan dan ketahanan energi, investasi pada pendidikan dan kesehatan, serta pembangunan ekonomi yang mampu menghadapi berbagai guncangan.
“Pelajarannya jelas, yaitu agar perdamaian dan kemakmuran dapat bertahan, multilateralisme juga harus tangguh. Ini berarti multilateralisme harus mampu beradaptasi, merespons, dan yang terpenting, memberikan hasil,” tegasnya dalam Pernyataan Nasional Indonesia pada Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Amerika Serikat, dikutip Senin, 28 September 2026.
Sugiono juga menekankan bahwa ketahanan nasional Indonesia turut ditopang persatuan dalam keberagaman, demokrasi, HAM, dan supremasi hukum.
“Dari Aceh sampai Papua, dari Miangas sampai Rote, Indonesia adalah satu rakyat, satu bangsa,” ujarnya.
Ketahanan nasional tersebut, lanjut Sugiono, menjadi fondasi bagi ketahanan kawasan, sebagaimana ASEAN yang selama hampir enam dekade mampu mengelola perbedaan, menjaga komunikasi, dan mencari titik temu.
Di tingkat global, Sugiono menggarisbawahi peran PBB yang tidak tergantikan, namun sistem multilateral tetap harus bertransformasi agar lebih representatif, tangkas, dan mampu memberikan hasil konkret.
Indonesia juga menegaskan komitmennya terhadap penyelesaian krisis Palestina serta mencalonkan diri sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029–2030 dengan tema “Fostering Unity, Advancing Peace.”
“Hanya melalui ketahanan bersama, PBB akan cukup kuat untuk memenuhi janji yang kita buat 81 tahun lalu: masa depan yang damai bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: