Insiden tersebut dilaporkan televisi pemerintah Iran. Dikatakan bahwa kapal meledak setelah menonaktifkan sistem pelacak ketika memasuki perairan Selat Hormuz.
"Sebuah kapal tanker minyak meledak di Selat Hormuz setelah mematikan sistem pelacakannya saat memasuki jalur air strategis tersebut," ungkap laporan tersebut, dikutip Minggu, 4 Oktober 2026.
Namun, belum ada informasi mengenai identitas kapal, penyebab pasti ledakan, maupun ada tidaknya korban jiwa dan kerusakan material.
Sebelumnya, kantor berita Mehr News Agency melaporkan terdengar suara ledakan di lepas pantai Pulau Qeshm.
Ledakan itu diduga berkaitan dengan tembakan yang menyasar kapal-kapal yang melintasi jalur maritim tersebut karena dianggap melanggar aturan yang diberlakukan Iran.
Informasi terkait insiden ini belum dapat diverifikasi secara independen. Laporan media Iran juga belum menjelaskan pihak yang bertanggung jawab atas ledakan maupun kondisi kapal setelah insiden.
Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengatakan Washington mengendalikan wilayah udara Iran dan mengamankan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Dia juga menyatakan pengiriman minyak melalui jalur tersebut berada di atas level sebelum konflik.
Iran sebelumnya membatasi pelayaran melalui Selat Hormuz setelah serangan AS dan Israel dimulai pada Februari.
Jalur tersebut sempat dibuka kembali berdasarkan kesepakatan pada Juni, sebelum ketegangan kembali meningkat dan AS melanjutkan blokade pada pertengahan Juli.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan hingga 30 September pasukannya telah mencegat 125 kapal komersial untuk menegakkan blokade.
Sebanyak 10 kapal di antaranya dialihkan dalam sepekan sebelumnya.
BERITA TERKAIT: