PAN Masih “Kuasai” Gedung Biru di Mampang

Sudah Diwakafkan, Bakal Jadi Pusat Bisnis Muhammadiyah

Rabu, 06 Juni 2012, 09:00 WIB
PAN Masih “Kuasai” Gedung Biru di Mampang
Rumah PAN
RMOL.Seorang pria muda merebahkan badannya di sofa empuk berlapis kain cokelat. Matanya terus menatap BlackBerry yang dipegang dengan kedua tangan. Di meja lainnya seorang pria juga sibuk mengutak-atik gadget besutan Research In Motion itu. Sepiring menu makan siang belum disentuhnya.

Suasana cafetaria ini tampak sepi kemarin siang. Hanya ada se­orang pria berseragam biru hitam yang melayani pemesanan ma­ka­nan maupun minuman. Lukisan wa­jah Amien Rais, pendiri dan be­kas ketua umum Par­tai Amanat Nasional (PAN) di­pajang di din­ding samping meja bar. Beberapa or­namen di tempat ini ini dicat de­ngan warna biru khas partai itu.

Cafetaria ini terletak di lantai da­sar gedung yang terletak di ka­wa­san Mampang Prapatan, Ja­karta Selatan. Gedung berlantai tu­juh ini diberi nama Rumah PAN. Di sinilah partai berlogo ma­tahari terbit itu bermarkas.

Plang nama berukuran besar bertuliskan “Rumah PAN” dipa­sang di atas gedung. Plang yang dilengkapi lampu sorot itu bisa terlihat jelas dari kejauhan. Se­buah bendera partai berkibar-ki­bar diterpa angin. PAN terancam angkat kaki dari gedung ini. Pasalnya, Soetrisno Bachir (SB), pe­milik gedung te­lah meng­hi­bah­kannya ke Mu­hammadiyah.

SB adalah ketua umum PAN periode 2005-2010. Pada 2007 pengusaha batik asal Pekalongan ini membeli gedung Wisma Bak­rie di Jalan Warung Buncit Raya 17, Mampang, Jakarta seharga Rp 17 miliar.

Gedung ini lalu dipakai men­jadi kantor DPP PAN. Lantai ter­atas menjadi kantor SB. Ketika me­mimpin PAN, SB berniat meng­hibahkan gedung ini untuk partai. Namun terbentur peratu­ran. UU Pemilu hanya mem­per­bolehkan sumbangan per­se­ora­ngan ke partai maksimal Rp 1 miliar.

Untuk menyiasatinya, dibentuk Yayasan Amanat Nasional (YAN). Yayasan ini bertindak se­bagai pengelola gedung. Yayasan lalu me­nyewakan gedung ke PAN de­ngan harga Rp 1 (satu rupiah) per tahun. Perjanjian sewa sam­pai 2010. Pada tahun SB lengser dari kursi ketua umum partai dan digantikan Hatta Rajasa.

April lalu, SB menemui Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin untuk mewakafkan gedung yang kini ditempati DPP PAN ke Muhammadiyah. “Saya ingin berkhidmat ke Mu­ham­ma­diyah karena sudah jenuh de­ngan politik,” aku SB.

Saat pengujian di Gedung Pu­sat Dakwah Muhammadiyah 1 Juni lalu, Din mengumumkan wa­kaf itu. PAN pun geger lan­ta­ran merasa memiliki gedung itu. Menurut Asman Abnur, Penga­was Yayasan Amanat Nasional, gedung ini sudah diwakafkan SB ke PAN sehingga dianggap se­bagai aset partai.

“Tahun 2005, Mas Tris terpilih. Ter­cetuslah dari beliau akan mem­berikan gedung. Artinya tercetus saat beliau menjadi ketua umum PAN. Kemudian tereali­sa­si­lah saat beliau menjadi ketua umum PAN,” terangnya. Mas Tris adalah sapaan akrab SB.

Ketua Majelis Ekonomi Mu­ham­madiyah Syafruddin Anhar mengaku sudah membaca doku­men mengenai status ge­dung. Da­lam dokumen itu di­se­but­kan PAN hanya meminjam. “Itu perjanjian pinjam-pakai yang habis tanggal 24 April 2010,” katanya.

Ia menambahkan proses wakaf sudah selesai. Bahkan, akad wakaf sudah dikeluarkan Kantor Urusan Agama dan Kementerian Agama sejak tiga minggu lalu.

Sekarang, pihaknya sedang me­ngurus proses balik nama ke­pemilikan gedung. “Sertifikat ke notaris sedang diurus. Kita ting­gal administrasi saja. Segala per­sya­ratan sudah selesai,” katanya.

Menurut Syafruddin, bila PAN masih ngotot mengklaim gedung ini miliknya silakan selesaikan di pengadilan. “Tapi nggak enaklah masak PAN mau ribut dengan Mu­hammadiyah pakai proses hu­kum. Baik-baiklah, silaturrahim atau secara kekeluargaan,” katanya.

Sikap PAN akhirnya me­nge­n­dur. Wakil Ketua Umum Dradjad Wibowo mengatakan persoalan wakaf gedung ini diselesaikan secara baik-baik. “Saya sendiri merasa malu kalau urusan wakaf ini jadi ramai, apalagi sampai ribut. Janganlah,” katanya.

Menurut dia, langkah SB yang menghibahkan gedung ini ke Muhammadiyah perlu dihormati. “Urusan administrasi dan detail lainnya kita selesaikan baik-baik. Saya yakin DPP PAN akan me­ngambil solusi yang besar man­faat­nya bagi kemashalatan um­mat dan masyarakat, termasuk jika perlu pindah kantor,” katanya.

Syafruddin mempersilakan PAN untuk mengambil barang-ba­rang yang sudah telanjur dipa­sang di gedung tersebut. “Kalau soal PAN pernah merenovasi atau apa, ya silakan sajalah diambilin interiornya, kursi-kursi, meja-meja, lemari-lemari,” katanya.

Muhammadiyah akan meng­gu­na­kan gedung ini sebagai pu­sat bis­nis, institut bisnis dan lem­baga dak­wah. Tapi rencana itu ditunda.  “Saat ini kantor ter­se­but masih di­gu­na­kan sekretariat DPP PAN,” katanya.

Hingga kemarin, PAN masih menempati gedung ini. “Kami ma­­sih beraktifitas secara normal dan tidak ada permintaan untuk dari ata­san untuk siap-siap pin­dah,” kata Ita, staf informasi DPP PAN.

Hatta Tawarkan Pindah Kantor

Setelah terpilih jadi ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) pada 2010 lalu, Hatta Ra­jasa pernah menawarkan pin­dah kantor dari gedung ber­lantai tujuh di Mampang, Ja­kar­ta Selatan. Namun kader partai berlogo matahari terbit masih kerasan di situ.

Menurut Ketua DPP PAN Asman Abnur,  keinginan untuk pindah kantor itu akhirnya di­pendam. “Ada sejarah PAN di­situ yang tidak bisa kita pi­sahkan. Sudah enam tahun kita di sana dan itu tidak bisa kita pisahkan,” kata dia.

Belakangan, Soetrisno Bachir (SB), pemilik gedung menyatakan telah mewakafkan gedung yang jadi markas PAN itu ke Muhammadiyah. Pihak Mu­hammadiyah mengklaim sudah memiliki akad wakaf itu.

Menyikapi itu, pihak DPP PAN berencana membicarakan soal gedung ini dengan Mu­ham­madiyah. “Mudah-muda­han ada solusi karena sebagian pengurus PAN juga ada disitu. Nanti kita akan putuskan seperti apa keputusan kita dengan Mu­hammadiyah,” kata Asman yang duduk sebagai pengawas di Yayasan Amanat Nasional (YAN). Selama ini, YAN yang ditunjuk mengelola gedung ini.

Gedung yang disebut Rumah PAN berada di Jalan Warung Bun­cit Raya.  Berada di sisi kiri dari arah Kuningan menuju Ra­gu­nan. Untuk masuk ke dalam ge­­dung warna biru tersedia pin­tu selebar dua meter dari kaca. Pin­tu ini selalu terbuka. Di atas pintu dipasang papan nama warna putih bertuliskan “Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional”.

Melewati pintu masuk, ter­da­pat ruang lobby yang tak terlalu luas. Di tempat ini terdapat meja recepsionis. Tidak ada orang yang menjaga meja ini. Di se­belah kanan lobby tersedia dua lift untuk naik ke atas.

Masuk lebih dalam terdapat dinding kaca. Di tengah-te­ngah­nya terdapat pintu. Inilah pintu menuju cafetaria. Tempat kong­kow ini cukup luas. Di sebelah kanan pintu tersedia sofa yang bisa menampung lima orang.

Di samping kanan sofa itu di­bangun panggung kecil. Sebuah televisi layar datar berukuran besar melengkapi panggung ini. Alunan lagu dangdut mengalun dari layar kaca itu.

Di tengah cafetaria diletakkan meja bundar dengan empat kursi mengelilingi. Kursi itu memiliki tempat sandaran badan yang tinggi. Meja dan kursi itu meng­ha­dap ke meja bar, tempat pe­me­sanan makanan dan minuman.

Pengurus DPP PAN berkantor di lantai tiga. Untuk mencapai lantai ini bisa menggunakan lift. Sebelum masuk ke ruangan pe­ngurus disediakan meja infor­masi yang dijaga seorang pe­rem­puan. Setiap tamu yang hen­dak masuk harus mengisi buku tamu terlebih dulu.

Foto pendiri PAN Amien Rais, Ketua Umum Hatta Rajasa dan Sekjen Taufik Kurniawan dipajang di ruang pengurus. Ruangan sepi karena pengurus sedang ke luar daerah. [Harian Rakyat Merdeka]

ARTIKEL LAINNYA