Biayanya Cuma Rp 8 Juta Dijamin Bebas Banjir Lho

Drainase Vertikal Mulai Dibangun Di Balai Kota

Kamis, 25 April 2019, 09:33 WIB

Foto/Net

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKIJakarta mulai membangun drainase vertikal. Tujuannya, mencegah banjir dan menambah cadangan air tanah di ibukota.

Selasa sore (24/4), empat pekerja sibuk membuat lobang di depan Balai Kota Jakarta. Tak besar. Hanya 1 meter. Namun kedalaman mencapai 2 meter. Tidak ada alat berat yang mem­bantu. Hanya berbekal pacul dan timba. Setelah 5 jam menggali, sepetak tanah telah berlobang cukup dalam. Siap diisi screen.

"Kami akan buat drainase vertikal untuk mengatasi banjirdan cadangan air tanah," ujar Kontraktor Konservasi Air Tanah (Konata) Jakarta, Zantar H Ambadar saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.

Berdasarkan pengamatan, di sepanjang Jalan Medan Merdeka Selatan terdapat beberapa titik lobang untuk drainase vertikal. Seluruhnya berada di jalur bus Transjakarta. Tapi aman. Sudah ditutup dengan spanduk cukup besar yang mengeliling lobang itu. Tulisannya, "Gerakan Menabung Air Hujan" Jakarta Pasti Bebas Banjir.

Di spanduk juga terdapat gambar-gambar cara pembuatan drainase vertikal. Belum cukup, puluhan karung berisi pasir dan batu juga ditempatkan mengelil­ing lobang itu.

"Kami akan buat 25 drainase di sekitar Balai Kota," ujar pria yang akrab disapa Boy ini.

Dibalik spanduk itu, empat pekerja sibuk memasukkanscreen yang cukup besar. Warnanya hijau. Diameter satu meter. Tingginya dua meter. Pelan-pelan mereka memasukkan screen berbentuk bulat itu ke dalam tanah. Setelah seluruhnya tertanam, di bagian pinggir-pinggirnya di semen. Ini dilakukan agar tanah tidak menimbun screen tersebut.

Selain itu, diujung atas screen dibuat kali kecil mengarah ke drainase horizontal. Jaraknya hanya 1 meter. Terakhir, pekerja kemudian menutup drainase dengan beton berlobang. Setelah tuntas, pekerja kemudian beralih membuat lobang yang lain.

“Jarak lobang satu dengan yang lain hanya 4 meter agar efektif menyerap air hujan,” ujar Boy.

Boy menyebut drainase akan dibangun di sepanjang Jalan Merdeka Selatan sebanyak 13 ti­tik dan di Jalan Medan Merdeka Utara 12 titik.

"Pembuatan dilakukan mulai 9 April 2019. Hari ini baru tuntas 11 titik," sebut dia.

Untuk membangun seluruh drainase, Boy mengatakan, hanya melibatkan 6 karyawan. Alatnya yang digunakan juga sederhana. Pacul dan timba. "Setiap pembuatan satu drainase (vertikal) hanya butuh waktu selama 15 jam," sebut dia.

Dengan itu, dia menargetkan pembangunan seluruh drainese vertikal di kawasan ibu kota akan tuntas pada 4 Mei 2019. "Ini proyek percontohan. Kalau berhasil akan dipasang di tempat lain," ucapnya.

Boy mengatakan tujuan uta­ma dibangun drainase vertikal adalahuntuk mencegah air hujan masuk ke drainase horizontal yang akhirnya berujung ke laut. Dengan adanya drainase ini, air hujan akan ditampung terlebih dahulu. "Jadi air hujan akan terserap habis di drainase ver­tikal sebelum masuk ke drainase horizontal," jelasnya.

Ia menjelaskan secara cara membuat drainase vertikal. Langkah awal, mencari lahan yang paling rendah di sekitar lahan yang akan dibuat lobang . Setelah ketemu, tanah kemudian digali sedalam dua meter dengan diameter satu meter. Setelah itu, dimasukkan screen berongga setinggi dua meter.

"Bahannya dari plastik karena tahan korosif dan tidak berkarat dalam waktu lama," klaim dia.

Screen dibuat berongga, kata dia agar air mudah terserap ke dalam tanah dan juga sebagai dinding pembatas agar tanah tidak longsor.

"Kalau screen dari beton air susah meresap ke dalam tanah," sebut dia.

Selanjutnya di bagian bawah screen tetap menggunakan tanah agar air mudah meresap. "Jadi air akan meresap ke tanah dan berfungsi sebagai cadangan air tanah," ujarnya.

Terakhir ditutup dengan cor berlobang untuk tempat masuk air. "Cor tersebut sangat kuat dan bisa dilintasi kendaraan roda empat," klaim dia.

Untuk biaya pembuatan, Boy menyebut tidak mahal. Hanya sebesar Rp 8 juta untuk setiaplobangnya. "Jadi masih terjangkaubuat masyarakat," klaim dia.

Sebelum menggarap drai­nase vertikal di tempat ini, Boy mengakutelah membuat banyak drainese di sejumlah tempat sejak tahun 2010. Mulai dari Depok, Tangerang, Bogor, hingga Bandung.

"Tapi kebanyakan pengem­bang swasta," ucapnya.

Pembangunan drainase ver­tikal ini, Boy mengatakan, harus dilakukan ahlinya. Sebab, bila tidak paham cara membuatnya akan cepat rusak karena lobang biasanya tidak dibuat secara bulat. "Kalau lobang tidak pas, screen cepat rusak," imbuhnya.

Untuk itu, ia menyarankan masyarakat yang membutuhkan drainase serupa agar mengontak dirinya. Pasalnya, ia telah me­matenkan penemuan tersebut ke Kementerian Hukum dan Ham.

"Jadi untuk pembuatan drai­nase secara rinci rahasia. Ini terkait hak cipta," tandasnya.

Dengan adanya belasan titik drainase vertikal yang dipasang di depan Balai Kota, Boy men­jamin kantor gubernur itu akan bebas banjir, berapapun derasnya hujan. "Jadi tidak ada lagi banjir di kawasan ini,"klaim dia.

Yang penting lagi, kata Boy, drainase tersebut juga berfungsi sebagai sumur resapan dan sebagai tambahan cadangan air tanah di Jakarta. Apalagi, ibu kota saat ini mengalami defisit air bersih sebanyak 67 juta kubik air setiap tahunnya. "Jadi drainase ini menjadi solusinya," pungkasnya.

Latar Belakang
18 Juta Drainase Vertikal Akan Dibangun Di Jakarta


 Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mem­bangun 18 juta drainase vertikal untuk mengatasi masalah banjir di ibu kota. Pembangunan drai­nase vertikal ini akan dilaku­kan di kompleks gedung dan permukiman.

Intruksi pembuatan drainase vertikal tercantum dalam Instruksi Gubernur Nomor 131 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Drainase Vertikal di Lahan Milik Pemprov DKI Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menginstruksikan seluruh perkantoran di wilayah DKI Jakarta agar memasang drainase vertikal. Tujuannya, untuk menangkal banjir di ibu kota. "Kita akan siapkan ang­garan yang bisa digunakan masyarakat membangun (drainase vertikal) di kampung-kampung," ujar Anies.

Menurut Anies pembangunan drainase vertikal di rumah-rumah merupakan hal penting. Sehingga setiap rumah dapat menangkal banjir dengan menampung air hujan di dalam tanahnya masing-masing.

Selain itu, kata Anies Pemprov DKI juga telah membuat aturan agar setiap gedung pemerintahan menerapkan sistem zero run off. Artinya setiap gedung pemer­intahan memiliki kewajiban mengendalikan genangan air hujan di areanya sendiri. "Tidak boleh aliran air hujan dikirim ke halaman dan ke luar lahan sejak 31 Maret 2019," tegasnya.

Untuk memaksimalkan upaya pencegahan banjir, Anies ber­harap setiap masyarakat sadar akan pentingnya kontribusi masing-masing masyarakat untuk mecegah banjir dengan mengalirkan air ke dalam tanah.

"Jadikan rumah kita rumah yang tidak mengeluarkan air hujan dari halaman," saran dia.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta, Ricki Marojahan Mulia menambahkan, pihaknya sudah menguji coba tiga drai­nase vertikal dangkal dan 1 drainase vertikal sedang pada objek berbeda.

Seperti, di halaman sekolah, di jalanan, dan di lapangan. Hasilnya, di halaman sekolah menunjukkan bahwa sebelum ada drainase vertikal, genangan baru surut sekitar 24 jam. "Setelah ada (drainase vertikal) genangan hilang dalam waktu 15 menit," ungkap dia.

Begitu juga genangan di jalanan, sebelum adanya drainase vertikal air baru surut sekitar 10 jam. Tetapi pada tanggal yang sama setelah ada drainase genangan hilang dalam waktu 15 menit. "Kami yakin akan efek­tivitas drainase vertikal sebagai upaya untuk menangani banjir, asalkan penempatannya di lokasi yang tepat," ucapnya.

Selain itu, kata Ricki drainase vertikal juga berfungsi untuk mengatasi penurunan permu­kaan air tanah. Sebab, drainase itu untuk menginjeksikan air ke lapisan bawah batuan bumi.

"Kita akan bangun di daerah-daerah yang kita anggap sudah mulai menurun permukaan ta­nahnya," ucapnya.

Menurut Ricki, air yang kerap diambil dari lapisan batuan itu bakal menyebabkan lumpur mengering. Lama-lama, lanjut dia, permukaan tanah berpotensi menjadi cekung. Hal inilah yang menyebabkan penurunan permukaan tanah.

"Drainase vertikal sedang dengan kedalaman 30-40 meter dibuat untuk mencegah penu­runan tanah itu," kata dia.

Ricki mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengkaji lokasi dan rencana pemasangan drainase vertikal sedang sebagai antisipasi penurunan permukaan tanah. Dia menargetkan doku­men untuk keperluan lelang bakal diserahkan pada April 2019.

"Soalnya rencana Mei 2019 sudah mulai pembangunan," pungkasnya.
Editor:

Kolom Komentar


Video

Futsal 3 X Seminggu Tingkatkan Kecerdasan Otak

Selasa, 16 Juli 2019
Video

Garuda Perlu Tinjau Ulang Aturan Mengambil Foto dan Video

Rabu, 17 Juli 2019
Video

Mulai Panas, Nasdem Sindir PKB

Kamis, 18 Juli 2019