Kebijakan tersebut ditempuh untuk meringankan biaya produksi industri sekaligus menyediakan alternatif bahan baku pengganti nafta di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan langkah itu merupakan arahan Presiden sebagai respons terhadap kondisi global yang masih bergejolak.
“Arahan Bapak Presiden dengan ketidakpastian situasi, maka pemerintah memberikan insentif untuk impor LPG dan bahan baku plastik. Nah, pemerintah menetapkan Bea Masuk 0 persen untuk impor LPG bagi industri petrokimia," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Selasa 23 Juni 2026.
Menurut Airlangga, insentif tersebut diperkirakan mampu menciptakan manfaat ekonomi hingga Rp2,25 triliun, terutama melalui efisiensi biaya bagi industri dan dampak pengganda terhadap aktivitas ekonomi.
“Dengan ini, (Bea Masuk 0 persen) diharapkan bisa meningkatkan nilai manfaat bagi sektor ekonomi sebesar Rp2,25 triliun berupa pengurangan cost bagi industri terkait dan efek multiplier efek atau efek pengganda yang bisa didorong,” kata dia.
Pemerintah memangkas tarif Bea Masuk LPG dari sebelumnya 5 persen menjadi nol persen. Kebijakan ini diharapkan dapat meredam tekanan biaya produksi, mengingat harga LPG mengalami kenaikan seiring konflik yang berlangsung di Timur Tengah.
Selain LPG, pemerintah juga menetapkan Bea Masuk 0 persen untuk impor bahan baku plastik. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kestabilan harga produk plastik di dalam negeri, terutama karena plastik masih menjadi material utama kemasan berbagai produk pangan.
"Pemerintah mengharapkan dengan adanya bahan baku plastik yang 0 persen ini juga akan membantu terkait dengan inflasi, terutama hampir seluruh packaging makanan dibungkus dengan plastik sambil kita menunggu perkembangan daripada situasi," jelasnya.
Dalam paket stimulus yang sama, pemerintah turut menghapus Bea Masuk impor suku cadang pesawat guna meningkatkan daya saing industri penerbangan dan sektor perawatan pesawat dalam negeri.
“Pemerintah juga terus mendorong untuk impor suku cadang pesawat ini diturunkan menjadi 0 persen. Ini juga untuk mendukung industri penerbangan dan industri MRO (maintenance, repair, and operations) agar daya saing industri MRO juga lebih bisa ditingkatkan,” jelas Airlangga.
BERITA TERKAIT: