Rambu Peringatan Ditebar Hingga Ke Lokasi Wisata

Gempa Akibat Pergeseran Sesar Lembang

Sabtu, 27 April 2019, 10:50 WIB

Foto/Net

Sesar Lembang menjadi ancaman nyata di masa depan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan memasang 30 titik rambu peringatan yang disebar di wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.

Tahap awal, BNPB telah memasang di tiga titik. Yaitu, dua rambu di kaki Gunung Batu dan lapangan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Udara (Sesko AU) di Kabupaten Bandung Barat. Sisanya di Geowisata Tebing Keraton, Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Berdasarkan pengamatan, rambu yang dipasang di lapan­gan Sesko TNI AU berbentuk bendera segitiga warna orange. Bendera yang dipacak di tiang setinggi dua meter itu cukup mencolok dari kejauhan. Sebab, tepat dipasang dipinggir lapan­gan. Berdiri berjejer dengan pohon-pohon yang baru di­tanam. Tidak ada tulisan apapun di tempat itu.

Namun, satu meter sebelahbarat bendera itu ada yang ber­beda. Kontur tanah tampak menurun. Hingga dua meter. Tidak ada bekas dikeruk. Alias turun secara alami.

"Setiap tahun sesar bergerak aktif (turun) 3-5 milimeter setiaptahun," ujar Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Widjaja di Lembang, Bandung, kemarin.

Selanjutnya, rambu kedua dipasang tak jauh dari komplek Sesko TNI AU. Jaraknya sekitar500 meter. Menuju lokasi terse­but cukup sulit. Jalannya sempit. Hanya selebar 3 meter. Kondisinya curam. Dengan kemiringan hingga 50 derajat. Sementara, sisi kanan jalan tebing curang. Dalamnya mencapai 100 meter. Meski telah beraspal kendaraan yang lewat di jalan itu harus ekstra hati-hati. Bila tidak, bisa meluncur ke dalam jurang.

Tepat di sisi kiri jalan dipasang plang warna kuning. Tingginya sekitar dua meter. Cukup menarik perhatian masyarakat dan pemilik kendaraan. Sebab, di­pasang tepat di pertigaan Jalan Desa Pager Melati, Lembang, Bandung Barat. Tulisannya: Anda Berada di Zona Sesar Lembang.

Selain itu di plang tersebut juga terdapat informasi tentang langkah yang harus dilaku­kan warga ketika terjadi gempa. Yaitu, hindari membangun di atas sesar Lembang, patuhi aturan bangunan tahan gempa, atur perabotan agar anda tidak tertimpa, siapkan tas siaga ben­cana. Belum cukup, rambu tersebut juga menginformasikan apa yang harus dilakukan warga saat gempa terjadi.

Yaitu, jangan panik, lindungi kepala, segera menuju tempat terbuka dan jauhi pohon, tiang, sumber listrik dan bangunan. "Tahap awal kami pasang tiga rambu," sebut Wisnu kembali.

Walaupun dipasang di lokasi strategis, tak banyak warga yang membaca rambu peringatan. Mereka hanya melihat sekilas dan berlalu pergi. "Saat ini kita tidak langsung pasang di per­mukiman. Tapi yang strategis di kawasan sesar Lembang," jelas Wisnu.

Terakhir, rambu dipasang cu­kup jauh. Tepatnya di Geowisata Tebing Keraton, Cimenyan, Kabupaten Bandung. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari rambu kedua. Menuju lokasi juga tidak mudah. Jalannya curam. Sisi kanan dan kirinya jurang. Jalan juga sempit. Hanya bisa dilewati satu kendaraan roda empat. Bila berpapasan, salah satu harus ada yang mengalah.

Namun, jalan menuju lokasi tersebut cukup ramai. Sebab, tebing Keraton sudah menjadi lokasi wisata. Lokasinya berada di puncak bukit dengan pemandangan yang sangat indah.

Rambu peringatan sesar Lembang dipasang tepat di depan tangga menuju lokasi wisata. Sehingga, menarik perhatian masyarakat. Beberapa dari mereka tampak serius membaca rambu yang baru dipasang. Rambu tersebut juga dilengkapi denganquick response code atau QR Code. Dengan menscan kodetersebut, masyarakat bisa mengetahui lebih dalam tentang sesar Lembang dan bahayanya seperti apa.

Wisnu mengatakan, pemasan­gan rambu-rambu di wilayah sesar Lembang dilakukan untuk menyosialisasikan tentang sesar Lembang dan potensi gempa yang diakibatkannya. Juga memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat sehingga tahu bagaimana cara menghadapi ancaman gempa.

"Kami akan pasang bertahap. Ada 30 rambu penanda yang akan dipasang," sebut dia.

Dalam rambu tersebut, kata Wisnu juga dipasang QR code berisi informasi seputar sesar Lembang. Seperti, kapan gempa terakhirnya, dan kenapa bisa terjadi gempa. "Ini untuk pendidikan khususnya bagi kaum milenial," imbuhnya.

Selain tanda rawan bencana, kata dia, BNPB juga mendorong masyarakat untuk mengakses aplikasi Inarisk yang berisi peta daerah rawan bencana. "Saat membuka (aplikasi) akan mun­cul tandanya, apakah merah, itu gempa bumi dan apa yang harus dilakukan," jelasnya.

BNPB memang tidak mung­kin memaksa masyarakat untuk pindah dari tempat tinggalnyayang berada di kawasan rawan bencana. "Kami berharap masyarakat lebih waspada dan melakukan upaya mitigasi mandiri," ucapnya.

Selain itu, kata Wisnu BNPB juga mendapatkan usulan dari RSUD Lembang yang mem­inta agar mengecek kondisi infrastruktur bangunan yang be­rada di tebing terjal. "Saran kita agar perkuat bangunannya tapi harus oleh ahlinya," kata dia.

Namun demikian, Wisnu khawatir ancaman pencabutan rambu-rambu sesar Lembang yang dilakukan oleh warga yang tidak senang. "Soalnya dampak (sekitar rambu) macam-macam, seperti harga tanah akan turun," ungkapnya.

Sementara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jabar, Supriyatno menambahkan, akan menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait potensi gem­pa bumi akibat sesar Lembang.

"Kami akan melakukan simu­lasi kepada masyarakat su­paya sadar, berpengetahuan, dan terampil, saat bencana terjadi sehingga bisa menyelamatkan diri," kata Supriyatno.

Berdasarkan informasi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kata Supriyatno dalam waktu dekat sesar Lembang akan melepaskan energi yang bisa menimbulkan gempa hingga 7 skala richter.

"Kami akan sosialisasi khusus­nya sekolah yang ada di koridor sesar Lembang," katanya.

Supriyatno mengatakan, edu­kasi kebencanaan begitu penting dalam penanggulangan bencana karena secara ilmiah, 90 persen masyarakat bisa selamat bila memiliki kesadaran, pengeta­huan, dan keterampilan bencana. Saat ini, dia masih merancang cetak biru west java resillience culture blue print. Cetak biru ini mengatur semua hal yang berkaitan dengan bencana di Jawa Barat untuk diterapkan di masyarakat.

"Penanganan bencana itu sekarang sudah bergeser, yang tadinya responsif jadi pencega­han," pungkasnya.

Latar Belakang
Waspada! Sesar Lembang Sudah Lama "Tidur"


Sesar Lembang adalah pa­tahan di dalam bumi yang melin­tang di utara cekungan Bandung, Jawa Barat sepanjang 29 kilo­meter. atahannya dari mulai Kecamatan Ngamprah, Cisarua, Parongpong, hingga Lembang atau dari Batu Loceng sampai Padalarang (Ciburuy).

Karakteristik sesar Lembang adalah sesar aktif yang berpotensi menimbulkan gempa bumi dan akan terulang di tempat yang sama. Setiap tahun, sesar Lembang juga ak­tif bergerak 3-5,5 milimeter. Selain itu, ada beberapa daerah yang terangkat akibat aktivitas sesar Lembang, yaitu Gunung Palasari, Gunung Lembang, Observatorium Bosscha di bagian timur, Jambudipa di bagian ba­rat, Batu Nyusun, Gunung Batu, Cihideung dan Bukit The Peak.

Peneliti LIPI, Mudrik R Daryono mengatakan, sesar Lembang saat ini memasuki fase siklus pelepasan energi. Biasanya, kata dia, selama 560 tahun sekali terjadi kembali gempa pada sesar Lembang.

"Posisi sekarang (Sesar Lembang) pada fase range ulang tahun gempa bumi dan ujung batasan gempa bumi. Maka bisa terjadi gempa 100 tahun ke depan," ujar Mudrik.

Berdasarkan penelitian, kata Mudrik, sesar Lembang memiliki panjang 29 kilometer. Kecepatan gesernya 3 milimeter pertahun. Tidak hanya itu, terdapat dua kejadian gempa bumi pada 60 sebelum masehi dan abad 15.

"Dari situ ada konklusi sesar Lembang memiliki periode ulang gempa bumi pada 170 tahun sampai 670 tahun. Dari abad 15, sudah 560 tahun tidak bergerak," katanya.

Ia mengungkapkan, potensi gempa dari Sesar Lembang bisa menghasilkan 6,5-7 magnitudo. Kekuatan gempa sebesar itu bisa muncul bila enam bagian sesar Lembang bergerak bersamaan. Keenam bagian "ular panjang" yang meliuk-liuk itu adalah Cimeta, Cipogor, Cihideung, Gunung Batu, Cikapundung, dan Batu Lonceng.

"Getaran yang dihasilkan bisa mengancam wilayah Kota Bandung, Bandung Barat, Kabupaten Bandung dan Cimahi," sebut dia.

Namun ia tidak tahu kapan akan terjadi gempa pada sesar Lembang. Apalagi, sampai saat ini tidak ada ilmuwan atau teknologi manapun yang bisa memprediksi kapan persisnya suatu gempa akan terjadi. "Yang bisa ditelaah hanya ulang tahun gempa," ucapnya.

Mudrik menambahkan, gempa yang menggetarkan Kampung Muril Rahayu di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada pertengahan 2011 merupakan bentuk pelepasan energi sesar Lembang dan bisa jadi pertanda adanya energi lebih besar yang bakal dilepaskannya. "Sudah lama Sesar Lembang itu "tertidur tenang". Tak ada gempa besar yang dihasilkannya lagi sejak tahun 1.400-an lalu," sebut dia.

Melihat fakta tersebut, Mudrik mendorong masyarakat untuk siaga. Hal yang bisa dilakukan adalah memperoleh informasi tentang sesar Lembang. "Kami sudah terus membicarakan masalah sesar Lembang ke semua pihak," kata dia.

Termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang terus melakukan sosialisasi besar-besaran. "Di jalur (Sesar Lembang) itu, ada macam-macam (bangunan). Ada peruma­han, gedung, sekolah dan bangunan militer," ungkapnya.

Mudrik menambahkan, infor­masi sesar Lembang harus dis­ampaikan ke masyarakat melalui edukasi tentang apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa. "Juga melakukan hal-hal yang sederhana dalam mengurangi risiko bencana," kata dia.

Koordinator Pusat Studi Gempa Nasional Masyhur Irsyam menambahkan, gempa bumi tidak pernah secara langsung membunuh manusia. "Tapi bangunan roboh yang mematikan. Bangunan itu bisa roboh karena gempa, karena ada gaya yang terjadi hanya pada waktu gempa," ujar Masyhur.

Untuk itu, Masyhur menekankan pentingnya masyarakat yang tinggal di sekitar sesarLembang untuk mendirikanbangunan tahan gempa. Bangunan tahan gempa adalah bangunan yang dipersiapkan untuk menerima guncangan gempa.

"Jadi kita mengacu pada peta percepatan gempa Indonesia, ada nilainya," tutur Mirsyam.

Dia mencontohkan sesar Lembang bisa menghasilkan percepatan gerakan horizontal sebesar 0,6 gravitasi. Maka besar minimal gaya yang harus kuat ditanggung bangunan di dekatnya sebesar percepatan kali massa bangunan itu sendiri.

"0,6 kita kalikan massa bangunan itulah gaya yang bekerja. Bangunannya harus direncanakan mampu menerima goncangan tadi. Itulah yang dinamakan bangunan tahan gempa," jelasnya.

Selain itu, kata dia, masyarakat juga perlu tahu cara mendirikan bangunan tahan gempa, masyarakat juga butuh paham cara menghadapi gempa saat sedang berada di dalam maupun luar bangunan. Pemahaman seperti inilah, lanjut dia yang perlu dimiliki warga Kampung yang hidup di dekat sesar Lembang.

Kolom Komentar


loading