Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Pengerukan Terkendala Sempitnya Akses Jalan

Melongok Pedangkalan & Pencemaran Beberapa Waduk di Jakarta

Sabtu, 13 April 2019, 09:01 WIB
Pengerukan Terkendala Sempitnya Akses Jalan
Foto/Net
rmol news logo Banjir masih jadi ancaman nyata di sejumlah wilayah di DKI Jakarta. Apalagi, musim hujan masih akan berlangsung. Sayangnya, normalisasi waduk maupun saluran air lainnya, masih menemui sejumlah kendala. Salah satunya akses jalan.

Sore itu, langit mulai tampak gelap. Awan tipis mulai bergel­ayut di langit Jakarta dan sekitarnya. Pertanda hujan akan datang. Namun, itu tak menghalangi niat Kholid, pergi memancing di Waduk Surilang, Kelurahan Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Sekitar jam empat sore, Kholid melangkahkan kakinya ke waduk tersebut. Tak lupa, alat pancing turut serta diba­wa. Alatnya sangatsederhana. Hanya potongan bambu tipis, yang dipasangkan benang jenis kenur, yang biasa dipakai untuk permainan layang-layang.

Tak sampai lima menit berjalan kaki, hingga Kholid sampai. Rumahnya hanya sekitar 100 meter, dari titik dia biasa memancing, di sebuah jalan setapak yang berada di sisi selatan waduk. Di tempat itu, telah ada beberapa pemancing lain. "Sehari-hari begini, enggak rame, dan enggak terlalu sepi juga. Mancing iseng-iseng aja," ujar Kholid.

Di titik Kholid memancing, waduk terlihat sangat dangkal. Dalamnya tak sampai setangah meter. Di lokasi itu, air terlihat keruh, karena bercampur lumpur dari beberapa saluran pembuan­gan. Masih di sisi selatan, terdapat dua empang yang biasa dijadikan tempat memancing warga.

Untuk orang yang bukan warga sekitar, cukup sulit menemukan waduk tersebut. Letaknya berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk. Ada dua akses jalan untuk mencapainya, Jalan Surilang, dan Gang Remaja.

Jika diakses dari Jalan Surilang, jarak yang ditempuh mencapai sekitar 400 meter. Melewati jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil. Lebar jalan maksimal hanya tiga meter. Bahkan, menjelang lokasi waduk, jalan menyempit hingga tinggal sekitar dua meter. Cukup sulit bagi kendaraan dengan ukuran besar untuk mencapai waduk.

Sedangkan dari Gang Remaja, sama saja. Bahkan jalan terlihat lebih sempit. Hanya cukup untuk satu mobil, dengan jarak yang cukup rapat dengan tembok-tembok rumah warga. Jalan itu tidak mungkin bisa dilalui ken­daraan besar untuk mengang­kut alat berat untuk mengeruk Waduk Surilang.

Kholid mengatakan, tadinya, ada akses jalan yang bisa di­pakai untuk mengangkut alat berat menuju waduk. Namun, kata dia, jalan tersebut sudah dibangun rumah-rumah warga, shingga tidak bisa lagi dilalui kendaraan besar. "Di sebelah utara ada," terangnya.

Sebelumnya, jalan itu dipakai untuk mengeruk waduk saat pengerukan yang dilakukan pada 2012 dan 2017. Dia mencatat, sudah dua kali waduk itu dikeruk oleh dinas terkait. "Dulu itu alat­nya masuk dari Jalan Raya Condet, dekat Rindam Jaya," tuturnya.

Namun, dia menolak akses jalan yang sempit dijadikan alasan tertundanya pengerukan. Menurutnya, pihak terkait bisa menggunakan berbagai cara agar bisa memperdalam waduk tersebut. "Ya, kalau emang niat, pasti bisa ya. Seperti sebelum­nya," tuturnya.

Di tempat sama, Andri warga sekitar waduk menuturkan, satu tahun lalu pemerintah memang menerjunkan satu beko ukuran kecil. Namun, kegiatan yang dilakukan hanya menata bagian pinggir Waduk. Menurutnya hasil pengerjaan yang dilakukan selama satu bulan itu nyaris tak menghasilkan perubahan.

Berbeda dengan kegiatan pengerukan yang dilakukan tahun 2012 lalu. Saat itu, beko yang dipakai berukuran besar. Setelah dikeruk itu kedalaman air sekitar 1,5 meter. "Makannya habis dikeruk itu enggak banjir lagi," ungkap Andri.

Dia menambahkan, kedala­man Waduk Surilang sekarang hanya sebetis, karena nyaris tujuh tahun timbunan lumpur dan sampah tak dikeruk pemer­intah. Padahal Waduk Surilang yang dulunya merupakan sawah milik warga merupakan tempat resapan air satu-satunya yang berada di Kelurahan Gedong.

Karena waduk yang semakin dangkal, lanjut Andri, warga mulai khawatir akan terjadi banjir parah saat hujan deras. "Sekarang sih belum hujan saja," katanya. Dul, warga lain­nya menyebut, banjir terakhir yang dialami warga terjadi tahun 2007. Saat itu, ketinggian air di wilayah sektiar waduk mencapai perut orang dewasa. Banjir baru surut setelah tiga hari.

Dia bilang, RW 12, RW 3, dan sebagian permukiman warga RW 1, merupakan yang terdampak paling parah jika terjadi banjir. Kata dia, wilayah itu berada di dataran rendah, atau sama dengan ketinggian air Waduk Surilang.

Lebih lanjut, dia mengatakan, sebelum pengerukan tahun 2012 setiap hujan pasti banjir. Saat ini, kondisinya berbeda, karena memang hujan yang turun tidak begitu lebat dan tidak berlang­sung lama. "Makanya ini waduk penting sekali," tegasnya.

Dul heran dengan sikap pemerintah yang tak kunjung melaku­kan pengerukan. Padahal, dia meyakini, pemerintah tahu wilayah tempatnya bermukim merupakan wilayah langganan banjir.

Dia membenarkan bila ada masalah kepemilikan tanah Waduk Surilang. Namun, meru­juk kegiatan yang dilakukan tahun 2012, Dul optimis masalah sudah beres, sehingga pemerin­tah dapat melakukan pengeru­kan. "Kalau belum beres, kenapa tahun 2012 bisa ada pengerukan? Kalau belum beres harusnya kan yang punya marah," ucapnya.

Waduk Rawa Bambon

Selain Surilang, tercatat ada empat waduk lainnya di Jakarta Timur, yang belum dikeruk karena terkendala akses. Salah satunya Waduk Rawa Bambon. Waduk tersebut berada Jalan Raya PKP, Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas.

Tak seperti Surilang, Waduk Rawa Bambon berada di pemukiman yang tidak terlalu padat. Untuk mengaksesnya, salah satunya bisa melalui Jalan Raya PKP yang lumayan lebar, dan cukup leluasa untuk dilewati kendaraan besar yang mengang­kut alat berat. Lalu lintas di jalan tersebut pun terhitung ramai lan­car. Ada pagar yang membatasi jalan tersebut dengan waduk.

Dari pengamatan, waduk itu membentang seluas sekitar 10 hektare. Kedalamannya pun bervariasi, dengan titik terdalam sekitar enam meter. Airnya cu­kup bersih. Namun, ada sedikit sampah yang mengambang di pinggir waduk, tempat biasa para pemancing berkumpul melakukan aktivitasnya.

Didi, warga sekitar mengaku, tak ingat persis kapan terakhir kali waduk itu dikeruk. Namun menurutnya, saat ini kondisi waduk terbilang aman. Itu ter­bukti dari tidak adanya banjir di pemukiman di sekitar waduk, meski saat ini sedang musim hu­jan. "Terakhir banjir tahun 2016, itu juga karena pintu airnya rusak," ujar Didi.

Latar Belakang
Sebelum Dikeruk, Sementara Ditanami Pohon
Lima waduk di Jakarta Timur mengalami pendangkalan. Namun, hingga kini belumdilakukan pengerukan. Kendalanya, akses alat berat yang sulit masuk membuat pengerukan tak bisa dilakukan.

Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Timur Mustajab mengatakan, ada lima waduk yang mengalami pen­dangkalan dan belum dikeruk. Di antaranya waduk Surilang, Waduk Rawa Bambon, Waduk Haji Dogol, Waduk Penganten Ali, dan Waduk Cendrawasih. "Semua akibat akses jalan kurang, kita lagi cari cara gimanaalat berat bisa masuk," kata Mustajab.

Karena masalah itu, kata Mustajab, pihaknya belum dapatmemastikan kapan kelima waduk yang semuanya terletak di dataran rendah itu dikeruk. Dia pun berharap, ada solusi terbaik dengan dukungan dari Pemkot Jakarta Timur untuk menyiapkan akses masuk. "Ya mudah-mudah­an tahun ini bisa segera dilakukan pengerukan," ujarnya.

Untuk saat ini, kata Mustajab, pihaknya baru dapat mengeruk dan melakukan naturalisasi di Waduk Pulomas dan Embung Cakung Timur yang akses masuk alat beratnya mudah. Pengerjaan itu pun sudah rampung dilaku­kan dan diharapkan bisa menam­pung lebih banyak air.

Selanjutnya, pihaknya kemungkinan akan menarik alat-alat dari tempat tersebut. "Tinggal naturalisasinya. Terus Pulo Mas rencananya akan kita laku­kan pengerukan," ujarnya.

Salah satu upaya untuk menyiasati kendala pengerukan, Mustajab menyebut Pemkot Jakarta Timur bakal melakukan penanaman pohon yang mampu menyerap air sehingga debit air berkurang. Namun, dia tak merinci seberapa efektif penanaman pohon itu dapat mengurangi banjir. "Kita konservasi pakai penanaman po­hon, membuat sumur resapan, tapi belum mulai," tuturnya.

Sebelumnya, untuk mengan­tisipasi puncak musim hujan, Pemprov DKI sedang pengeru­kan di 14 waduk. Pengerukan dilakukan untuk mengantisipasi banjir menjelang musim hujan.

"Dinas Sumber Daya Air (SDA) sudah melakukan kegiatannormalisasi di 14 lokasi," kata eks Kadis SDA DKI Teguh Hendarwan, beberapa waktu lalu.

Saat itu, pihaknya menuturkan, ancaman banjir diperkirakanterjadi di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. "Memang diprediksi sama seperti tahun sebelumnya," jelasnya.

Teguh menuturkan DKI Jakarta juga berkoordinasi dengandaerah penyangga, yakni Bogor, Depok, dan Tangerang. Teguh optimistis banjir di Jakarta akan jauh berkurang dari tahun-tahun sebelumnya. "Yang jelas, kalau dihitung secara kuantitas, jumlah titik banjir dan titik genangan ini jauh berkurang," sebutnya.

Adapun keempat belas waduk yang dikeruk di antaranya Setu Babakan, Waduk Kampung Rambutan 1, Waduk Kampung Rambutan 2, Waduk Pondok Rangon, Situ Rawa Minyak, Waduk Cilangkap Gili Kencana, Waduk Cimanggis, Waduk Jalan Kaja, Waduk Jalan Kaja II, Waduk Pekayon, Embung Aselih, Situ Rawa Minyak, dan Waduk Jagakarsa.

Lebih lanjut, Teguh mengata­kan, selain waduk, pengerukan juga sudah dilakukan di aliran sungai. Adapun, SDA menger­ahkan 241 unit alat berat yang dimiliki dinasnya.

"Sehingga pengerukan dapat kita lakukan secara swakelola," kata Teguh. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA