Jumlah pemilih tersebut terdiri dari 49,85 persen laki-laki dan 50,15 persen perempuan. Dibandingkan dengan semester II tahun 2025, jumlah pemilih meningkat sebesar 1,17 persen. Dari total tersebut, sebanyak 212.406.069 pemilih berada di dalam negeri dengan tersebar di 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, 7.285 kecamatan, dan 83.737 desa/kelurahan.
Ketua Divisi Data dan Informasi KPU RI Betty Epsilon Idroos menjelaskan bahwa generasi milenial mendominasi jumlah pemilih terbesar dalam pemilu 2029. Berdasarkan generasi paling banyak generasi milenial (Gen Y) sebanyak 32,13 persen, kelompok pemilih terbesar berikutnya adalah generasi X sebesar 27,13 persen, disusul dengan generasi Z sebesar 24,56 persen, sedangkan generasi baby boomer sebanyak 14,29 persen, generasi pre-boomer sebanyak 1,89 persen.
Direktur Eksekutif Laboratorium Politik Hukum (Labpolhum) MHZ Centre, Muhammad Haris Zulkarnain mengapresiasi keberadaan generasi milenial sebagai pemilih yang mendominasi untuk pemilu 2029.
“Generasi milenial dapat berpartisipasi dalam pemilu 2029 baik sebagai pemilih, peserta pemilu, atau pemantau pemilu. Sehingga peran apapun yang dijalankan oleh generasi milenial ini sangat menentukan nasib bangsa ini ke depan,” ujar Haris dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu malam, 22 Juli 2026.
Ia mengajak generasi milenial untuk tidak apatis dengan kondisi perpolitikan saat ini, sebab semua kebijakan negara dan terkait hajat hidup orang banyak diatur lewat politik.
“Generasi milenial dapat berperan nyata dengan mengedukasi masyarakat di lingkungan di sekitarnya, selektif dan kritis dalam memilih pemimpin pusat dan daerah serta wakilnya di parlemen, terlibat langsung sebagai penyelenggara pemilu, terlibat sebagai pemantau pemilu, mengkritisi setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, atau terjun langsung sebagai peserta pemilu,” imbuhnya.
“Sudah saatnya generasi milenial diberikan kesempatan untuk menentukan arah dan masa depan bangsa saat ini, generasi milenial ini generasi paling tangguh, karena mereka ada di pertengahan antara generasi-generasi lainnya sebagai penyeimbang antara generasi boomer dan Gen Z,” tambah Haris.
Lanjut dia, partai politik di pusat dan daerah saat ini juga harus memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi generasi milenial, baik di struktur kepartaian dan jabatan strategis di partai.
“Karena mereka memiliki ide dan kreativitas yang relevan terhadap keberlangsungan dan tata kelola partai politik di era modern seperti sekarang,” pungkas Haris.
BERITA TERKAIT: