Faktor pertama, kurangnya koordinasi di pemerintahan. Menurut Dillon, hal ini yang menyebabkan program Nawa Cita dan Trisakti yang dikampanyekan Presiden Jokowi belum tersentuh.
"Koordinasi ini sangat perlu, termasuk koordinasi dengan penegak hukum," sebut pakar pangan dan pertanian ini dalam perbincangan dengan redaksi beberapa saat lalu (Minggu, 26/7).
Dillon menilai, selama ini menteri koordinator (menko) kurang melakukan fungsi koordinasi dengan para menteri di bawahnya. Akhirnya para menteri jalan sendiri-sendiri, dan menko bingung mau laporan apa kepada Presiden.
Selanjutnya adalah faktor independensi Kepala Nagara. Presiden kata Dillon tidak boleh dikontrol partai. Menurutnya, kalau Presiden sudah dikendalikan parpol, maka tidak akan ada kepastian. Dengan begitu, para investor akan berpikir seribu kali masuk ke Indonesia.
"Pelaku bisnis dan investor itu mau kepastian yang lebih tinggi. Mereka ingin
the president control, bukan parpol," papar Dillon.
Masih kata Dillon, faktor lain yang menyebabkan ekonomi nasional melambat adalah karena minimnya produksi negara dan masyarakat. Contoh kecil saja, memproduksi kecap menurut Dillon, sebenarnya bisa dilakukan di tingkat rumah tangga.
"Inikan tidak. Seharunya kita berpikir, kalau belum memproduksi kita malu untuk makan," imbuh dia menganalogikan.
Tambah Dillon, kalau negara masih doyan konsumtif, bangsa ini tidak akan maju-maju. Pradigmanya harus dibalik, Indonesia harus banyak memproduksi dan meninggalkan perediket sebagai pasar.
[rus]
BERITA TERKAIT: