Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat. Berbagai indikator ekonomi makro menunjukkan kondisi perekonomian nasional masih berada pada jalur yang aman meskipun pasar keuangan tengah menghadapi tekanan.
“Kalau melihat fundamental ekonomi Indonesia saat ini, saya melihat masih cukup baik. Defisit anggaran kita masih sekitar 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan itu masih tergolong aman,” ujar Habib Idrus, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.
Meski demikian, ia mengakui pelemahan rupiah dan penurunan IHSG perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Menurut dia, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat memengaruhi kepercayaan pasar dan aktivitas ekonomi nasional.
Habib Idrus mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilihat hanya dari satu indikator semata. Selain kondisi pasar modal dan nilai tukar, pemerintah juga perlu memperhatikan permintaan terhadap rupiah di pasar internasional serta minat investor terhadap instrumen investasi di Indonesia.
“Kita tidak bisa melihat pelemahan rupiah hanya dari sisi IHSG atau PDB saja. Permintaan rupiah di pasar internasional juga harus menjadi perhatian, begitu juga dengan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia,” katanya.
Ia menilai meningkatnya ketergantungan terhadap impor dan penggunaan dolar AS dalam transaksi ekonomi perlu menjadi perhatian bersama. Sebab, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
“Jangan sampai impor kita semakin tinggi, penggunaan dolar semakin besar, sementara kepercayaan publik terhadap rupiah justru menurun. Itu yang tidak kita harapkan,” ujar Habib Idrus.
BERITA TERKAIT: