Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Rabu (13/12).
Hal yang sama diutarakannya dalam pertemuan Evaluasi Upsus Siwab Nasional Tahun 2017 yang berlangsung di Provinsi Jawa Timur, baru-baru ini.
Pertemuan itu turut dihadiri Kepala Dinas yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan seluruh Indonesia dan Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis), serta Direktur lingkup Ditjen PKH. Tujuannya, untuk mengetahui hasil capaian pelaksanaan Upsus Siwab tahun 2017.
Dalam pertemuan tersebut, Ketut menjelaskan bahwa kegiatan UPSUS SIWAB (Upaya Khusus sapi Indukan wajib Bunting) menjadi fokus utama di jajaran Ditjen PKH tahun 2017 dan akan dilanjutkan pada tahun 2018.
Menurutnya, Upsus Siwab merupakan langkah nyata Pemerintah untuk mengakselerasi percepatan target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri.
"Dari laporan iSKHNAS per tanggal 8 Desember 2017, jumlah kebuntingan nasional mencapai 1.624.614 ekor atau 54,13% dari target 3 juta ekor, serta jumlah kelahiran sebanyak 706.314 ekorâ€, kata I Ketut Diarmita. “Capaian masih terus kita evaluasi sampai tahun 2018, mengingat tanda-tanda kebuntingan baru bisa dideteksi setelah beberapa bulan setelah sapi di IB," jelas Ketut.
Dia melanjutkan, untuk kegiatan pendukung Upsus Siwab telah dilaksanakan beberapa hal, yaitu: Pertama, penanganan gangguan reproduksi tahun 2017 telah diperiksa sebanyak 288.345 ekor sapi dan sebanyak 281.117 ekor dilakukan penanganan gangguan reproduksi.
"Hal ini artinya untuk penanganan gangguan reproduksi tercapai 93,7 persen dari yang targetkan sebanyak 300.000 ekor, sedangkan untuk kesembuhannya terealisasi sebanyak 149.615 ekor atau 53 persen dari target 200.000 ekor.
Menurut Ketut, gangguan reproduksi pada akseptor merupakan salah satu penyebab kegagalan kebuntingan. Karenanya, upaya penanganan gangguan reproduksi secara terus menerus dilakukan dan menjadi aktivitas yang tidak terpisahkan mendukung keberhasilan Upsus Siwab.
Kedua, untuk mempertahankan struktur betina dewasa dan angka betina produktif sebagai akseptor yang akan di IB, maka telah dilaksanakan pencegahan pemotongan betina produktif di 17 Provinsi.
"Sampai dengan akhir November 2017 telah diselamatkan atau ditolak pemotongannya sebanyak 6.974 ekor. Implementasi penanggulangan pemotongan betina produktif tersebut bekerjasama dengan Baharkam Polri," ujar Ketut.
Ketiga, untuk menjamin aktifitas pelayanan dalam pelaksanaan Upsus Siwab, Ditjen PKH menargetkan produksi semen beku pada tahun 2018 sebanyak 6 juta yang dihitung berdasarkan services per conception (SC) 2 yang akan disebar ke seluruh peternak Indonesia.
Ketersediaan dan produksi semen beku di balai inseminasi buatan pemerintah, yaitu, BBIB Singosari, BIB Lembang dan BIBD Kalimantan Selatan sebanyak 9.040.003 dosis, sedangkan jumlah semen beku yang sudah didistribusikan pada tahun ini sebanyak 5.995.075 dosis ke peternak seluruh Indonesia.
Keempat, Ditjen PKH bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan dalam proses distribusi N2 cair dan semen beku dengan menggunakan pesawat ATR Garuda pada 44 rute penerbangan.
"Kita lakukan kerjasama ini untuk mengatasi kendala akan sulitnya mendapatkan N2 cair di lapangan. ketersediaan sarana tersebut dilapangan merupakan faktor yang sangat penting dalam mensukseskan Upsus Siwab," jelas Ketut.
Kelima, Untuk penguatan pakan, telah dilakukan pengembangan HPT (Hijauan Pakan Ternak) yang terealisasi seluas 5.925 Ha atau 62,45 persen dari target 9.487 Ha, sedangkan pakan konsentrat terealisasi 2.747 ton atau 92,65 persen dari target 2.965 ton.
Ketut mengungkapkan, saat ini merupakan tahun pertama pelaksanaan Upsus Siwab, sehingga kendala dan permasalahan yang terjadi pada tahun ini akan dicari penyelesaiannya bersama agar pelaksanaan tahun 2018, dapat berjalan lebih baik.
"Untuk kelancaran pelaksanaan tahun 2018 kami mengajak kepada seluruh pihak untuk all out bersama-sama mewujudkan target yang telah kita tetapkan. Kita semua tentunya berharap Upsus Siwab ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mewujudkan target pembangunan peternakan," katanya.
"Kita harapkan semoga melalui Upsus Siwab, tujuan kita untuk mempercepat peningkatan populasi sapi dan kerbau dapat terwujud sesuai dengan yang ditargetkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan Swasembada Daging Sapi di tahun 2026," demikian Ketut.
[sam]
BERITA TERKAIT: