‎Berbagai aspek menjadi titik pengendalian program, di antaranya peningkatan kulitas pakan, bibit, kesehatan hewan, pengendalian pemotongan betina produktif dan pasca panen dan pengolahan produk asal hewan seta manajemen usaha.
Begitu kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/4).
Pemerintah, kata dia, juga telah berupaya untuk meningkatkan pembiayaan di subsektor peternakan, khususnya sapi.
"Di antaranya dengan memperbesar alokasi anggaran untuk peternakan sapi, dimana sejak tahun 2017 alokasi APBN difokuskan kepada UPSUS SIWAB (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting)," katanya.
Peningkatan populasi ternak melalui UPSUS SIWAB tidak akan mengikuti pola lama dengan memberikan bantuan sapi kepada peternak. Peternakan kali ini lebih diarah kepada kemandirian peternak. Caranya dengan memperkuat subsektor pendukung seperti penyediaan bibit dan pakan berkualitas, serta pendampingan petugas di lapangan
"Dengan program yang dijalankan pemerintah, diharapkan produktivitas sapi lokal bisa meningkat," ujarnya.
Sementara itu, dalam rangka penguatan skala ekonomi dan kelembagaan peternak, pemerintah juga mengupayakan serangkaian kebijakan seperti mendorong pola pemeliharaan sapi dari perorangan ke arah kelompok dengan pola perkandangan koloni, sehingga memenuhi skala ekonomi.
“Selain itu juga melakukan pendampingan kepada peternak untuk berkorporasi melalui kegiatan pengembangan kawasan peternakan, pendampingan petugas, dan pengembangan pola integrasi ternak tanaman, seperti integrasi sapi-sawit, jagung-sawit,†tukasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: