Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/faisal-aristama-1'>FAISAL ARISTAMA</a>
LAPORAN: FAISAL ARISTAMA
  • Selasa, 07 April 2026, 14:02 WIB
Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (Tangkapan layar dari siaran YouTube DPR)
rmol news logo Pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk mengantisipasi kenaikan harga pangan yang dipicu oleh krisis energi global.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi pangan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan optimalisasi penggunaan bahan bakar nabati (biofuel).

“Bapak Presiden telah menginstruksikan optimalisasi penggunaan bahan bakar nabati dari sawit, tebu, ubi kayu, dan jagung,” ujar Amran.

Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Amran menjelaskan, Kementerian Pertanian juga telah menyusun rencana implementasi program B50 pada tahun ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan dampak kenaikan harga energi terhadap sektor pangan.

“Insyaallah tahun ini, Indonesia tidak akan impor solar sebanyak 5,3 juta ton,” tegasnya.

Ke depan, kata Amran, pemerintah juga akan mendorong pembangunan pabrik etanol dengan bahan baku dari ubi kayu (singkong), tebu, dan jagung.

“Ke depan, kita akan implementasikan pabrik etanol dan bahan bakunya dari ubi, tebu, dan jagung. Ubi atau singkong,” pungkasnya. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA