RMOL. Seorang pria berpostur badan tinggi keluar dari lift di halaman parkir basement BI Gedung Ditjen Pajak, Jakarta. Ia mengenakan kemeja panjang biru dan celana hitam. Sambil melangkah terburu-buru, tangan pria yang berusia 30 tahunan ini masih sempat memainkan BlackBerry warna putih.
Tidak butuh waktu lama, ia suÂdah berada di samping mobil ToÂyota New Vios warna hitam. Dari pelatnya bisa diketahui bahÂwa mobil itu bukan kendaraan dinas.
Tanpa menoleh kanan kiri, dia masuk ke dalam mobil. Secara perlahan, mobil itu meninggalkan tempat parkir dengan dibantu aba-aba dari petugas sekuriti.
“Itu tadi salah satu karyawan di sini, karena ada kartu identitas karyawan yang diselipkan di kantong bajunya,†kata petugas sekuriti itu. Meski tak kenal nama dan unit kerjanya, dia meÂngaku setiap hari melihat pegaÂwai itu ngantor.
Saat itu masih jam kerja. Tak jeÂlas apakah kepergian pegawai muda di Ditjen Pajak itu dalam rangka dinas atau keperluan priÂbadi. Belum lama Pusat PeÂlaÂpoÂran dan Analisis Transaksi KeÂuangan (PPATK) mencurigakan aliran dana di rekening 10 pegaÂwai negeri sipil. Usia mereka maÂsih muda, tapi sudah memiliki reÂkening dalam jumlah besar.
Penelusuran Rakyat Merdeka, pegawai muda itu bekerja di lingÂkungan Kementerian Keuangan. Ada beberapa unit kerja yang diÂanggap tempat “basahâ€. MiÂsalÂnya, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak dan Ditjen Bea Cukai.
Masih ingat Gayus Halomoan TamÂbunan? Usianya masih 32 tahun. Golongannya masih IIIA. Tapi dia sudah memiliki rekening puluhan miliar. Ia juga meÂnyimÂpan mata uang asing puluhan miliar di deposit box.
Gayus merupakan contoh peÂgaÂwai muda di Ditjen Pajak yang memiliki rekening gendut dengan cara mengakali maupun peratuÂran. Banyak pihak yang curiga masih banyak “Gayus-gayus†lain. Sebab, mereka pintar meÂnyaÂmarkan kekayaannya dengan berpenampilan sederhana.
Seorang pegawai instansi ini membisikkan ada aturan tak terÂtulis agar jangan berpeÂnampilan mencolok. Walaupun punya beberapa mobil mewah tapi yang diÂbawa ke kantor adalah mobil butut. Banyak juga yang meÂnganÂdangkan mobil mewah di rumah. Mereka ngantor naik angkot maupun kereta
“Pegawai lama paham aturan ini. Tapi yang baru-baru lebih berani pamer,†kata peÂgawai yang sudah bekerja puÂluhan tahun ini.
Keberanian untuk tampil wah itu terlihat begitu menginjak lobÂby gedung utama Ditjen Pajak. SeÂorang perempuan muda meÂngenakan setelan batik dan rok hitam berdiri di depan lobby. Tangannya sibuk memainkan komputer tablet.
Tak lama, mobil Daihatsu Luxio berhenti di samping peÂremÂpuan itu. Ia pun masuk ke dalam dan mobil melaju menuju pintu keluar.
Dalam kurun waktu setengah jam, sedikitnya ada lima orang yang keluar dari lobby dengan dijemput mobil. Usia mereka maÂsih muda. “Yang dari tadi keluar itu, rata-rata pegawai di sini,†kata seÂorang petugas sekuriti yang berjaga di situ.
Seorang pegawai berinisial H mengakui banyak pegawai muda di instansi ini yang tajir. “Banyak yang gayanya mirip orang besar. Handphone-nya bagus-bagus, bawa laptop atau iPad. Banyak juga yang ke kantor mengÂguÂnaÂkan mobil,†tuturnya.
“Kalau dibilang tajir, mungkin saja benar. Tapi bisa saja mereka kaya karena orangtua. Yang saya dengar banyak anak orang kaya yang kerja di sini,†kata dia.
Terungkapnya kasus Gayus juga membawa perubahan di kaÂlaÂngan pegawai. Pegawai yang dulu berlomba-lomba pamer keÂkaÂyaan kini mengubah penamÂpiÂlannya jadi sederhana. “Mungkin takut disebut Gayus juga,†kataÂnya sambil tertawa.
Ditjen Pajak:
Layanan Kami Sudah Bersih Dari Korupsi
Komisi Pemberantasan KoÂrupsi (KPK) sudah meÂnganÂtoÂngi data PNS yang memiliki reÂkening gendut. Data itu telah diÂserahkan ke Inspektorat JenÂderal (Itjen) Kementerian KeÂuangan untuk diperiksa.
“Laporan atau surat KPK ke Itjen pasti direspons. Ada yang sudah selesai. Ada yang masih diperiksa,†kata Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenkeu, Sonny Loho.
Ia menegaskan, Kemenkeu pasti akan mengambil tindakan bila pegawainya terbukti koÂrupÂsi. “Kalau terbukti salah pasÂti tiÂdak akan naik jabatan, malah diÂkenakan hukuman tuÂrun jaÂbaÂtan, bebas tugas. BahÂkan diÂseÂrahÂkan untuk proses pidana,†jelasnya.
Namun, bila laporan reÂkeÂning mencurigakan itu tidak terÂbukti ada pelanggaran, tetap akan dilakukan sejumlah tinÂdaÂkan. “Paling bisa mutasi dari jaÂbatan yang sama,†imbuhnya.
Sonny mengaku pihaknya teÂtap berupaya melakukan pemÂbukÂtian ada dugaan pelangÂgaÂran. Mengingat ketidakwajaran dari rekening yang dimiliki PNS tersebut.
“Itjen terus berkoordinasi deÂngan KPK. Kemenkeu tidak komÂpromi dengan korupsi. Yang terbukti salah tidak ada yang naik jabatan, malah dikeÂnaÂkan hukuman,†jelasnya.
Pihak Ditjen Pajak belum tahu apakah pegawai muda yang punya rekening gendut berÂasal dari instansi ini.
“Kami memang belum meÂmiÂliki info mengenai ke-10 PNS muda itu. Semoga saja buÂkan peÂgawai Dirjen Pajak,†kata Dedi RuÂdaedi, Direktur PeÂnyuÂluhan PeÂlaÂyanan dan Humas Ditjen Pajak.
Dedi menegaskan, instansiÂnya tengah melakukan refÂorÂmasi di segala bidang. Ini untuk menghindari munculnya pegaÂwai yang tak berintegritas.
“Kami tengah melakukan reformasi, khususnya di bidang peÂningkatan kapasitas dan kompetensi SDM. Perbaikan sistem pengendalian internal teÂrus dilakukan, antara lain meÂlalui penerapan whistle blowing system, implementasi values (nilai-nilai) Kemenkeu serta peÂningkatan pengawasan dan keÂteladanan pimpinan,†bebernya.
Menurut dia, upaya pemÂbeÂnaÂhan sudah membuahkan haÂsil. Survei integritas yang diÂlaÂkukan KPK tahun 2011, Ditjen Pajak mendapat skor baik daÂlam pelayanan penyelesaian permohonan pengukuhan PeÂnguÂsaha Kena Pajak (PKP).
Dari 15 unit layanan vertikal di tujuh instansi pemerintah dan BUMN yang disurvei, layanan Kementerian Keuangan menduÂduki posisi empat teratas.
Unit layanan itu adalah pelaÂyanan SP2D di Kantor PeÂlaÂyaÂnan Perbendaharaan Negara (KPPN), pelayanan penyeÂleÂsaiÂan permohonan PKP di Kantor Pelayanan Pajak, pelayanan leÂlang di Kantor Pelayanan NeÂgaÂra dan Lelang (KPKNL) dan pelayanan pengurusan impor baÂrang (bea masuk) di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai.
Dedi menjelaskan ada dua variabel utama yang disurvei. Yakni, pengalaman integritas dan potensi integritas. Variabel pengalaman integritas menilai peÂngalaman korupsi dan cara pandang terhadap korupsi yang dialami pengguna layanan.
Sedangkan variabel potensi integritas menilai berbagai inÂdiÂkator yang mendukung terÂjaÂdinya potensi korupsi. MisalÂnya, pengaruh lingkungan kerja, sistem administrasi dan peÂmanÂfaaÂtan teknologi informasi, periÂlaku individu baik petugas mauÂpun pengguna layanan dan kamÂpanye pencegahan korupsi yang dilakukan. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >