Mengapa Tantan Menang Mutlak di Konferensi PWI Jabar?

Minggu, 16 Agustus 2026, 03:31 WIB
Mengapa Tantan Menang Mutlak di Konferensi PWI Jabar?
Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
TULISAN ini awalnya tak ingin saya buat. Namun, banyak teman bertanya dan berdiskusi, mencari jawaban, mengapa Tantan Sulthon Bukhawan bisa menang mutlak dalam Konferensi PWI Jawa Barat 2026?

Saat itu, banyak para senior wartawan dan anggota PWI se-Jabar tentunya memiliki pandangan yang berbeda-beda. Saya pun sependapat dengan sejumlah pandangan tersebut.

Tetapi sebagai bagian dari timses kecil yang ikut merancang dan mendesain kemenangan Tantan dan melihat bahwa kemenangan itu tak lahir dari salah satu faktor. Banyak variabel yang ikut bekerja secara bersamaan.

Kemenangan Tantan dalam pertarungan pemilihan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat periode 2026-2031, bukan hanya sekadar soal angka. Tapi banyak hal dan hikmah yang dapat kita pelajari.

Berdasarkan data yang diperoleh, Tantan meraih 444 suara, sedangkan Hardiansyah memperoleh 247 suara. Dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 755 pemilik hak suara, tercatat 699 suara masuk, dengan dua suara abstain dan enam suara tidak sah.

Secara matematis, kemenangan tersebut itu sangat kuat. Tantan menguasai sekitar 63,5 persen dari seluruh DPT. Sementara perolehan Hardiansyah berada di kisaran 29 persen dari DPT.

Bahkan jika seluruh 45 suara yang belum masuk diasumsikan diberikan kepada Hardiansyah, perolehan lawan menjadi 292 suara. Tantan tetap unggul 152 suara. Artinya, ini bukan kemenangan tipis yang ditentukan oleh beberapa suara terakhir.

Lalu, mengapa Tantan bisa menang dengan selisih suara yang signifikan?

Jawabannya tidak semata-mata terletak pada jumlah dukungan sejak awal. Ada proses lain yang bekerja di antaranya, tim sukses yang membangun persepsi dan positioning, mengefektifkan mesin relawan, memanfaatkan setiap momentum, menjaga komunikasi.

Termasuk membangun koalisi dengan berbagai lintas elemen, mulai dari Forum Pemred, eksekutif, legislatif, yudikatif, organisasi masyarakat, hingga berbagai jaringan lainnya.

Ubah Pertarungan Figur Jadi Kepercayaan

Salah satu kekuatan utama Tantan adalah kemampuan timsesnya mengubah cara pandang pemilih terhadap kontestasi yang terjadi.

Pemilik hak suara tidak lagi semata-mata dihadapkan pada pertarungan personal antarkandidat. Pertanyaannya bergeser menjadi, PWI akan seperti apa ke depan? dan figur siapa yang dianggap paling layak membawa perubahan?

Gagasan Tantan mengenai perlindungan wartawan, peningkatan akses Uji Kompetensi Wartawan (UKW), kesejahteraan, BPJS Ketenagakerjaan, digitalisasi, penguatan jaringan hingga PWI Creative Hub menjadi jawaban atas berbagai keluh kesah yang selama ini muncul. 

Pilihan terhadap Tantan inilah yang kemudian menjadi lebih konkret dan realistis. Di titik ini, Tantan tidak hanya menjual figur. Ia menjual arah organisasi.

PWI Jawa Barat mau dibawa ke mana jika ia dipercaya? Tentunya bagi pemilih rasional, perbedaan ini sangat penting. Kedekatan personal memang dapat memengaruhi pilihan. Namun, gagasan memberikan pembenaran yang lebih kuat terhadap pilihan tersebut.

Timses Bekerja Tanpa Banyak Suara

Di dalam sebuah kontestasi, jumlah orang yang terlihat paling ramai belum tentu berbanding lurus dengan jumlah suara yang diperoleh.

Tantan bersama timsesnya justru menunjukkan pola sebaliknya. Mereka bekerja secara profesional dan senyap tanpa banyak mempertontonkan aktivitas ke permukaan. Bahkan, nyaris tidak terlihat konflik terbuka di antara timses.

Pesan-pesan kampanye dijaga dan dikendalikan. Masing-masing bergerak dalam koridornya. Prinsipnya sederhana, tidak ada Superman, yang ada Superteam. Hasil akhirnya terlihat dalam angka 444 suara.

Inilah ukuran paling konkret dari sebuah mesin pemenangan. Bukan seberapa gaduh kampanyenya, bukan seberapa banyak orang yang terlihat, tetapi seberapa efektif seluruh mesin itu bekerja dalam mendulang suara.

PWI Jabar Istimewa Menjadi Identitas

Tagline PWI Jabar Istimewa mengadopsi jargon kampanye Gubernur Dedi Mulyadi. Ini menjadi salah satu identitas kampanye Tantan yang mudah diingat dan memberikan kesan adanya kedekatan dengan narasi pembangunan di Jawa Barat.

Tagline ini kemudian memberikan identitas yang kuat. Pemilih tidak hanya mengingat nama calon, tetapi juga mengingat gagasan dan program PWI Jawa Barat yang ingin dilaksanakan.

Dalam komunikasi politik, tagline bekerja seperti jangkar. Pesan yang kompleks disederhanakan menjadi sesuatu yang mudah diingat, diulang, dan diteruskan dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

Bagi organisasi PWI, identitas semacam ini menjadi penting. Pemilih tak hanya memilih seorang pemimpin, tetapi juga membayangkan seperti apa masa depan organisasinya.

Sukses Membangun Positioning

Timses Tantan berhasil membangun positioning yang relatif jelas terhadap figur Tantan. Mampu menciptakan figur yang memahami PWI dari dalam, memiliki pengalaman berorganisasi, mempunyai jaringan luas, serta dianggap paling siap dan mampu mengelola sekaligus memimpin organisasi.

Apalagi muncul persepsi di kalangan pemilih bahwa Tantan memiliki sumber daya manusia dan jaringan yang kuat. Di sisi lain, rivalnya dipersepsikan memiliki pendekatan yang berbeda.

Persepsi mengenai perbedaan inilah jelas sangat menentukan. Karena positioning itu menghasilkan dua kesan sekaligus.

Pertama, continuity-ada kesinambungan terhadap hal-hal baik yang sudah berjalan. Kedua, readiness-ada kesiapan melakukan perubahan ketika organisasi menghadapi tantangan baru.

Bagi pemilih yang masih mengambang, kombinasi tersebut dapat menjadi sangat menentukan. Mereka tidak harus memilih berdasarkan fanatisme atau pragmatisme. 

Namun cukup bertanya, siapa yang paling layak dan siap mengelola PWI Jawa Barat ke depan? Jawabannya, bagi mayoritas pemilih, jatuh kepada Tantan. Di sinilah sebenarnya pertarungan persepsi berlangsung.

Efek Ikut Arus

Di setiap kontestasi, ada titik ketika persepsi tentang siapa yang lebih kuat mulai terbentuk.Pada fase itu, sebagian pemilih yang sebelumnya belum menentukan pilihan dapat bergerak mengikuti kandidat yang mereka anggap memiliki peluang lebih besar.

Tentunya dalam ilmu psikologi politik, gejala ini dikenal sebagai bandwagon effect. Momentum semacam itu tidak muncul begitu saja. Ia dapat dibangun melalui obrolan warung kopi, pertemuan informal, konsolidasi, komunikasi antarkawan, hingga percakapan di berbagai grup WhatsApp.

Termasuk kekompakan tim, cara penyampaian visi-misi, hingga ekspresi percaya diri kandidat juga ikut membentuk persepsi. Ketika salah satu kandidat terlihat percaya diri, terorganisir, dan memiliki arah yang jelas, persepsi tentang kekuatan itu tumbuh. Persepsi kemudian berubah menjadi keyakinan. Dan keyakinan akhirnya berubah menjadi suara.

Propoganda Halus

Ada hal lain yang menarik dari strategi komunikasi timses Tantan. Serangan kepada lawan relatif tidak dijadikan pusat perhatian. Ini penting karena PWI merupakan organisasi profesi yang diisi wartawan dan kaum intelektual.

Timses Tantan lebih banyak membangun komunikasi yang santun, menjual program, dan berusaha tidak melukai. Ketika muncul serangan dari tingkat akar rumput, tim inti berupaya meluruskan.

Alasannya sederhana. Kampanye yang terlalu agresif berpotensi meninggalkan luka yang lebih panjang daripada masa kampanye itu sendiri.

Tantan dan timnya lebih banyak menjual ide, gagasan, dan arah organisasi ke depan. Bagi pemilih yang berada di tengah, pendekatan semacam ini memberikan ruang untuk memilih tanpa harus menjadi bagian dari konflik.

Maka dengan kata lain, perang informasi tidak selalu dimenangkan oleh pihak yang paling keras bersuara. Terkadang, perang informasi justru dimenangkan oleh pihak yang paling mampu mengendalikan narasi.

Bukti Pertemanan Jadi Kemenangan

Ada fakta lain yang tidak boleh dilewatkan. Perolehan 444 suara terlalu besar jika hanya dijelaskan oleh satu basis pendukung. Dukungan sebesar itu lebih masuk akal jika dibaca sebagai indikasi terbentuknya dukungan lintas kelompok.

Artinya, Tantan bukan hanya mampu mempertahankan basis pendukungnya, tetapi juga berhasil menarik kelompok lain yang sebelumnya mungkin belum berada di barisan utamanya.

Di sinilah kemenangan Tantan menjadi menarik. Ia bukan sekadar memenangkan pertarungan suara, tetapi berhasil memperluas radius penerimaan terhadap dirinya melalui jaringan pertemanan.

Tantan dan timses juga mencoba membangun komunikasi bukan hanya dengan pengurus dan anggota PWI se-Jawa Barat, tapi juga dengan lembaga atau instansi terkait.

Termasuk menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai media tempat para wartawan bekerja. Sehingga, meski start awal relatif terlambat dan dengan anggaran yang terbatas, Tantan tetap mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari berbagai elemen.

Inilah salah satu paradoks dalam sebuah kontestasi, modal besar tidak selalu menghasilkan suara besar. Sebaliknya, modal yang terbatas dapat menjadi efektif ketika dikelola dengan strategi, jaringan, komunikasi, dan konsolidasi yang tepat.

444 Hanyalah Hasil Akhir

Pada akhirnya, angka 444 hanyalah hasil akhir dari proses yang jauh lebih panjang. Tantan memenangkan pemungutan suara. Namun lebih dari itu, ia juga memenangkan persepsi bahwa dirinya merupakan kandidat yang dianggap paling mampu mengonsolidasikan, mengelola, dan memimpin PWI Jawa Barat untuk periode berikutnya.

Itulah makna yang lebih dalam dari sebuah kemenangan mutlak. Namun, kemenangan dalam pemilihan hanyalah tahap awal.

Setelah kemenangan, strategi kepemimpinan Tantan harus berubah menjadi: REKONSILIASI ? SATUKAN ? BEKERJA ? BUKTIKAN ? WARISKAN.

Karena ketika Tantan sudah memenangkan kepercayaan, sudah waktunya membuktikan kepada seluruh anggota PWI Jawa Barat. Saatnya kemenangan ini menjadi titik awal untuk membangun PWI Jawa Barat yang lebih solid, profesional, terlindungi, sejahtera, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Sebab pada akhirnya, kontestasi memiliki pemenang. Tetapi organisasi membutuhkan pemimpin yang benar benar bekerja nyata, bukan hanya memenangkan strategi saat pemilihan berlangsung.

Kualitas kepemimpinan Tantan selama lima tahun ke depan, tidak akan ditentukan oleh seberapa besar ia menang pada 12 Agustus 2026. Tapi akan ditentukan oleh seberapa jauh kemenangan tersebut mampu diubah menjadi kepercayaan bersama. Namun yang paling penting, seberapa nyata janji-janji kampanye dapat diwujudkan.

Tutup Perbedaan, Kembali ke Rumah Besar PWI

Konferensi PWI Jawa Barat telah usai dan berlangsung sukses dan demokratis. Kendati prosesnya diwarnai dinamika dan ketegangan. Namun semuanya berakhir dengan baik, tanpa ekses.

Saatnya kita menutup perbedaan, merajut kembali kebersamaan, dan bersama-sama membangun PWI Jawa Barat yang lebih bermartabat, profesional, solid, dan istimewa.

Berbeda pilihan adalah hal yang biasa.Tetapi menjaga persaudaraan dan persatuan adalah yang utama. Kini saatnya kita semua kembali ke rumah besar PWI Jawa Barat. Karena setelah suara dihitung, tidak ada lagi 444 dan 247. Tapi yang ada satu PWI Jawa Barat.rmol news logo article

Jejep Falahul Alam
Pengurus PWI Jabar Periode 2021-2026 dan Ketua PWI Majalengka Periode 2015-2021
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA