Mengutip data
Bloomberg hingga pukul 09.40 WIB, Rupiah bergerak ke level Rp17.936 per Dolar AS, melemah 20 poin atau 0,11 persen dari perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan mengatakan tekanan terhadap pasar masih datang dari ketidakpastian global, salah satunya perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi harga energi.
“Iran dan Amerika Serikat masih berbeda pendapat mengenai cara mengakhiri perang mereka, namun diplomasi harus terus berjalan,” kata Ibrahim dalam risetnya.
Selain geopolitik, sentimen pasar juga dibayangi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Sejumlah pejabat bank sentral AS mulai memberikan sinyal hawkish di tengah kekhawatiran inflasi yang masih persisten.
“Pengambil kebijakan The Fed memberikan nada hawkish dengan Deputi Gubernur Michael Barr pada hari Rabu mengatakan bahwa ‘penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan’ untuk mengendalikan inflasi,” jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai ruang kebijakan Bank Indonesia masih menghadapi tantangan. Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan pada September berpotensi hanya menjadi jeda sementara di tengah tingginya risiko eksternal.
“Para ekonom memperingatkan bahwa langkah Bank Indonesia pada bulan September untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil selama tiga bulan berturut-turut mungkin hanya merupakan jeda sementara, mengingat masih tingginya risiko eksternal akibat imbal hasil global yang meningkat, harga minyak yang fluktuatif, serta tekanan geopolitik,” jelasnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga minyak hingga menembus 100 Dolar AS per barel juga dapat memperbesar tekanan terhadap mata uang dan inflasi domestik.
“Kenaikan harga minyak di atas 100 Dolar AS/barel berpotensi menekan mata uang melalui meningkatnya biaya energi. Terlebih, adanya fenomena El Nino yang juga meningkatkan risiko gangguan produksi dan pasokan pangan,” tandas Ibrahim.
BERITA TERKAIT: