Setelah 28 tahun menunggu, Indonesia akhirnya merebut emas beregu putra Asian Games. Caranya bukan kaleng-kaleng. Bukan menang santai sambil ngopi. Indonesia sempat masuk jurang 0-2 melawan China, lalu bangkit dan membalikkan keadaan.
Drama dimulai ketika Jonatan Christie, sang peringkat satu dunia, justru tumbang. Fajar dan Fikri kemudian ikut tergelincir. 0-2. Waduh! Harapan Indonesia sudah seperti proposal yang dilempar ke meja birokrasi, menunggu nasib.
China tinggal membutuhkan satu kemenangan. Sebagian penonton mungkin sudah mulai pasrah. Saya sendiri sudah pindah
channel. Dalam hati, tidak ada lagi harapan. Tapi, penasaran.
Tetapi Indonesia rupanya belum membaca naskah kekalahan. Alwi Farhan muncul. Pemuda ini menghadapi Li Shifeng dan bertarung tiga set.
Keringat bercucuran, napas berat, tetapi tangan tidak gemetar. Alwi menang. Indonesia hidup lagi. Nonton semangat lagi. Kopi tambah segelas lagi. Tapi, jantung deg-degan.
Kemudian Leo dan Daniel masuk. He Jiting/Liu Yi mereka libas 23-21, 21-10. Skor 2-2. China mulai serius. Indonesia juga sudah tidak bisa diajak bercanda.
Pertandingan terakhir diserahkan kepada anak 19 tahun dari Sampang, Madura: Mohammad Zaki Ubaidillah alias Ubed.
Ini anak belum cukup umur untuk punya koleksi kenangan panjang tentang kejayaan Indonesia pada 1998, tetapi malam itu justru dia diminta mengembalikan kejayaan tersebut.
Set pertama? Tertinggal 16-20. Empat angka lagi! Kalau ini proyek pemerintah, mungkin sudah ada yang bilang, “Kita evaluasi dulu.” Kalau ini rapat politik, mungkin sudah dibentuk panitia khusus. Tetapi Ubed bukan politisi.
Dia tidak rapat. Dia tidak bikin konferensi pers. Dia main! Ubed bangkit. Set berikutnya dimenangkan 21-13. Lalu pertarungan terakhir berlangsung seperti film laga. Setiap pukulan membuat jutaan rakyat menahan napas.
Sampai akhirnya smash silang terakhir jatuh. Selesai! Indonesia menang. 28 tahun menunggu akhirnya lunas.
Di rumah-rumah, warung kopi, pos ronda, kampus, kantor, sampai grup WA, orang-orang mendadak menjadi komentator profesional.
Yang biasanya ribut soal politik, malam itu kompak berteriak. “Indonesia…!” Begitulah bulutangkis. Kadang raket lebih berhasil menyatukan bangsa dari pidato pejabat.
Berdasarkan pembaruan klasemen Kamis, 24 September 2026 malam WIB, Indonesia berada di peringkat ke-16 dengan 1 emas, 4 perak, dan 15 perunggu, total 20 medali.
Presiden Prabowo Subianto telah menjanjikan bonus Rp3 miliar bagi peraih emas Asian Games 2026.
Namun jangan buru-buru menghitung enam pemain ini masing-masing dapat Rp3 miliar. Skema Rp3 miliar disebut untuk emas nomor perorangan. Sedangkan nomor ganda dan beregu dihitung tersendiri dan nominalnya belum diumumkan.
Tetapi malam ini, rupiah boleh dihitung belakangan. Sebab yang baru saja mereka menangkan jauh lebih mahal, kebanggaan.
Ketika sebagian elite sibuk menghitung kursi, kekuasaan, anggaran, dan siapa dapat apa, anak-anak muda ini menunjukkan cara paling sederhana membela nama bangsa: masuk lapangan, berkeringat, lalu menang.
Ubed tidak membawa proposal. Dia membawa raket. Tidak membawa janji. Dia membawa keberanian. Akhirnya, setelah 28 tahun, emas itu pulang.
Indonesia tertinggal 0-2, tetapi tidak menyerah. Ternyata bangsa ini masih punya satu penyakit belum berhasil disembuhkan oleh politik, keras kepala untuk bangkit. Akhirnya, ada juga yang dibanggakan dari negeri MBG ini.
Rosadi Jamani
Mantan wartawan
BERITA TERKAIT: