Jumlah ini terus meningkat meski pemerintah sudah melakukan beragam cara, mulai dari pembatasan sosial, jaga jarak, hingga bekerja dari rumah.
Melihat kecenderungan yang terus meningkat, ekonom senior Rizal Ramli pun menyuguhkan perbandingan penanganan Covid-19 yang terjadi di negara dengan tingkat penyebaran yang minim, salah satunya Taiwan.
"Taiwan tidak menetapkan
lockdown, stay at home dan work from home. Cukup dengan
social distancing. Kasus positif tidak lebih dari 400," kata Rizal Ramli kepada redaksi, Kamis (16/4).
Menurut mantan Menko Perekonomian ini, perbedaan jumlah pasien positif terjadi karena cara pencegahan dini yang dilakukan berbeda. Kunci keberhasilan Taiwan ada pada tindakan cepat yang sudah dilakukan sejak Januari 2020.
"Langkah pertama pemerintah (Taiwan) mengambil alih pabrik-pabrik masker dan alkohol. Dilarang ekspor masker dan alkohol (
hand sanitizer). Distribusi masker dan
hand sanitizer dikendalikan pemerintah kepada apotek-apotek resmi," jelas RR, sapaan akrab Rizal Ramli.
Dalam pendistribusiannya, semua warga Taiwan yang terdaftar dalam program jaminan kesehatan Taiwan diberikan jatah yang sama per orang. Semua orang wajib pakai masker meski saat itu WHO hanya mengharuskan untuk yang sakit.
"Langkah kedua, Taiwan menutup semua pintu-pintu masuk wisatawan di bandara, pelabuhan, dan lain-lain. Khususnya wisatawan mancanegara dari China, Macau,dan Hongkong," sambung RR.
Cara-cara inilah yang tidak dilakukan pemerintah Indonesia sejak awal. Transparansi pemerintah dalam memerangi Covid-19 juga seakan tidak diindahkan pemerintah Indonesia sejak awal kemunculan kasus Covid-19.
Imbasnya, pasien positif virus corona baru di tanah air tak kunjung surut, bahkan terus bertambah hingga ribuan orang.
"Langkah awal (Taiwan) yang menentukan sepertinya tidak terjadi dengan pemerintah kita. Ya enggak sih?" tandasnya.
BERITA TERKAIT: