Di balik temuan 25 kontainer mineral strategis bernilai triliunan rupiah itu, tersimpan dimensi intelijen, geopolitik, keamanan nasional, hingga persaingan global memperebutkan sumber daya masa depan.
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah menilai pengungkapan kasus tersebut harus dibaca dalam perspektif yang jauh lebih luas daripada sekadar pelanggaran kepabeanan atau tata niaga ekspor mineral.
“Kasus ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman serius berupa perburuan sumber daya strategis oleh jaringan yang kemungkinan memiliki kemampuan logistik, pendanaan, dan koneksi internasional yang kuat,” kata Amir, dikutip Kamis 4 Juni 2026.
Menurut Amir, keberhasilan TNI AL menggagalkan pengiriman mineral yang mengandung unsur Logam Tanah Jarang, Thorium, Uranium, Zirconium, dan berbagai mineral strategis lainnya merupakan capaian yang sangat penting bagi keamanan nasional Indonesia.
Amir menjelaskan bahwa Logam Tanah Jarang saat ini menjadi salah satu komoditas paling strategis di dunia.
Negara-negara besar berlomba menguasai pasokan LTJ karena mineral tersebut menjadi bahan utama dalam industri teknologi tinggi, kendaraan listrik, industri pertahanan, satelit, radar, semikonduktor, hingga teknologi energi masa depan.
“Kalau minyak adalah komoditas strategis abad ke-20, maka Logam Tanah Jarang adalah minyaknya abad ke-21. Siapa yang menguasai LTJ akan memiliki posisi tawar sangat besar dalam ekonomi global dan industri pertahanan modern,” kata Amir.
Ia menilai keberadaan unsur Thorium dan Triuranium Oktasida yang ditemukan dalam hasil laboratorium membuat kasus ini memiliki sensitivitas yang jauh lebih tinggi dibanding penyelundupan mineral biasa.
Pasalnya, unsur-unsur tersebut berkaitan dengan teknologi energi nuklir yang di banyak negara dikategorikan sebagai sumber daya strategis yang pengawasannya sangat ketat.
BERITA TERKAIT: