Dia menolak lantaran kerugian negara yang diperkirakan mencapai Rp 15 triliun yang muncul dari Jiwasraya terjadi karena adanya perampokan. Said Didu tidak ingin kerugian besar itu ditutup dengan menggunakan uang negara.
Setidaknya ada tiga alasan mengapa mantan staf khusus Menteri ESDM itu menolak ide menteri berpredikat terbaik dunia tersebut.
“Saya menolak ide bailout Jiwasraya karena, pertama perampok dan penikmat hasil rampokan selamat,†ujarnya dalam akun Twitter pribadi, Senin (2/3).
Selain itu, dia juga menolak lantaran ada fenomena yang harus dibongkar. Fenomena itu adalah perampokan jelang pilpres.
“Ini perampokan ketiga tiap mau pilpres, 2003 Bank CIC Rp 2,3 T, 2009 Bank Century Rp 6,7 T, dan 2019 Jiwasraya sekitar Rp 15 T,†pungkasnya.
Sementara alasan ketiga karena dana APBN sangat berat. Terutama untuk bayar utang negara yang menggunung.
BERITA TERKAIT: