Laporan intelijen AS yang dikutip
New York Times menyebut, meski permusuhan terbaru masih terbatas, pemerintah Iran diyakini tengah mempertimbangkan eskalasi besar.
Sejak perang berlangsung, Iran disebut semakin memahami kemampuan militernya dan memiliki keyakinan lebih besar untuk menggunakannya.
"Iran menjadi lebih percaya diri akan kemampuannya menyerang target-target di Timur Tengah dan tampak bertekad untuk melanjutkan konflik selama berbulan-bulan demi membuat Amerika Serikat frustrasi," ungkap laporan tersebut, dikutip Minggu, 6 September 2026.
Laporan tersebut juga memperkirakan kesepakatan untuk mengakhiri konflik akan sulit dicapai.
Iran disebut berkepentingan memperburuk persoalan politik yang dihadapi Trump menjelang pemilu sela. Sementara itu, sanksi AS diperkirakan tetap menjadi faktor yang mendorong Teheran meningkatkan eskalasi.
"Mereka justru lebih memilih untuk memperparah masalah politik Presiden Trump menjelang pemilihan umum paruh waktu AS," kata laporan
New York Times.Iran bahkan dinilai berpotensi mengulangi sejumlah aksi pada Juli lalu, termasuk menyerang pangkalan AS di kawasan, menghantam kapal di Selat Hormuz, serta menargetkan infrastruktur di negara-negara tetangga.
Selain ancaman militer, laporan intelijen itu mengungkap bahwa kelompok peretas Iran disebut telah kembali berkonsolidasi sejak perang dimulai. Mereka dinilai berupaya menggerus dukungan publik AS terhadap perang melalui serangan siber.
Wakil Presiden AS JD Vance mengakui adanya potensi serangan siber Iran, namun menilai ancamannya terhadap masyarakat AS relatif terbatas.
“Jika Anda melihat kemampuan Iran untuk mengganggu kehidupan normal warga Amerika, saya rasa itu cukup terbatas. Bukan nol, tetapi cukup terbatas. Saya akan jauh lebih khawatir tentang serangan siber dari aktor lain," kata Vance.
Dalam laporan, Iran juga disebut memahami bahwa gangguan terhadap Selat Hormuz dan kenaikan harga gas dapat menjadi beban politik bagi Trump dan Partai Republik.
Teheran bahkan berpotensi menggunakan media sosial untuk memengaruhi pemilih AS, termasuk melalui jaringan akun Facebook dan Instagram yang menurut laporan Meta berasal dari Iran dan menyebarkan “anti-Republican views”, sebagian dengan bantuan kecerdasan buatan.
BERITA TERKAIT: