KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/jamaludin-akmal-1'>JAMALUDIN AKMAL</a>
LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL
  • Jumat, 25 September 2026, 14:23 WIB
KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid
Massa dari KPK NU demo di depan Gedung Merah Putih KPK (Foto: RMOL)
Kecil Besar
rmol news logo Massa yang mengatasnamakan kader dan elemen KPK Nahdlatul Ulama (NU) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat, 25 September 2026.

Aksi tersebut menyoroti Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, yang dikaitkan massa dengan perkara dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) lahan PT Summarecon Agung Tbk yang tengah ditangani KPK.

Dalam orasinya, KH Khosim dari Majalengka mengungkit sejarah perjuangan para muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama. Ia mengingatkan agar organisasi yang didirikan para ulama besar tersebut tidak dicemari oleh kepentingan politik praktis maupun materi.

"Kami keluarga NU dari Jawa Barat datang ke Jakarta karena para pendiri NU mendirikan tatanan organisasi bukan untuk sekadar hura-hura. Tetapi NU saat ini, ketika pimpinan utamanya, sudah diincar oleh para anasir," kata KH Khosim di hadapan massa.

KH Khosim juga menyinggung dinamika internal NU serta proses pemilihan di tingkat Muktamar yang dinternalisasi oleh kepentingan segelintir elite di birokrasi pusat.

"Banyak yang menjual agama demi kepentingan dunia, na'udzubillahi min dzalik. Saya menangis mengingat pendiri-pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy'ari, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Hasbullah, dan sebagainya," tuturnya.

"Mendengar tuntutan Muktamar ke-34, ada segelintir orang yang membawa uang dari Jakarta ke sana. Pemilih ketua Ahwa adalah sembilan kiai sepuh yang bergaris lurus. Mereka orang yang ikhlas, murni, tidak tahu-menahu, tetapi dikotori oleh segelintir kader NU di birokrasi pusat. Oleh karena itu, mari kita sama-sama doakan, semoga NU diselamatkan!" sambungnya.

Sementara itu, orator lainnya secara terbuka menyoroti figur Nusron Wahid. Dalam orasinya, orator tersebut menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk membuka aib organisasi, melainkan menyuarakan keresahan atas runtuhnya marwah kebesaran NU.

"Kami hadir hari ini bukan untuk gagah-gagahan, melainkan menyuarakan ketidakrelaan atas hancurnya marwah kebesaran Nahdlatul Ulama, khususnya Ahlussunnah wal Jama'ah," ujar salah satu orator.

Orator tersebut turut menyinggung lembaga Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) yang berisikan para kiai sepuh. Menurutnya, siapa pun yang memperdagangkan marwah para kiai sepuh demi kepentingan tertentu tidak akan mendapat ampunan moral dari umat.

Pantauan di lokasi menunjukkan massa mengenakan kaus putih bertuliskan "KPK NU" dengan atribut hijau. Mereka membentangkan berbagai poster berukuran besar dan spanduk di depan Gedung Merah Putih KPK. Poster-poster tersebut memuat tulisan seperti "Merusak Marwah NU", "Malu Gus Segera Mundur", "Malu Senior Segera Mundur", "Tangkap Money Politic", serta desakan agar Presiden Prabowo bertindak tegas memberantas korupsi. Sejumlah poster juga menampilkan foto Nusron Wahid.

Sebagai bentuk ekspresi penolakan terhadap korupsi, massa aksi sempat melakukan sujud bersama di halaman depan Gedung Merah Putih KPK. Aksi ini diikuti oleh peserta dari berbagai elemen, termasuk Fatayat, Muslimat, Ansor, serta aktivis muda NU.

Aksi unjuk rasa dari KPK NU ini berlangsung di tengah langkah penyidikan intensif yang sedang dilakukan KPK terhadap perkara dugaan suap pengurusan HGB lahan Summarecon di Kabupaten Bogor, yang turut menyeret sejumlah anak buah serta orang dekat Menteri ATR/BPN Nusron Wahid sebagai tersangka. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA