Berbicara di markas UNESCO di Paris, Prancis, Jumat, 25 September 2026, Paus menilai diplomasi internasional berisiko kehilangan makna jika dialog hanya menjadi formalitas tanpa menghasilkan upaya nyata untuk mencari solusi bersama. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Sidang Umum PBB di New York tengah berlangsung dalam suasana tegang.
“Alih-alih menghormati hukum, mereka yang berkuasa menggunakannya ketika hal itu menguntungkan kepentingan mereka dan mengabaikannya ketika hal itu membatasi mereka,” kata Leo, dikutip dari Vatican News, Sabtu, 26 September 2026.
Ia juga menilai kondisi tersebut membuat dialog internasional berisiko kehilangan tujuan utamanya.
“Dialog dipandang sebagai penghalang tindakan daripada sumber daya untuk perdamaian, sebuah sandiwara daripada kesempatan untuk mencari kebaikan bersama,” ujarnya.
Paus Leo, yang menjadi paus pertama dari Amerika Serikat dan mulai menjabat pada Mei 2025, dalam beberapa bulan terakhir memang kerap menyampaikan kritik terhadap kondisi kepemimpinan dunia. Ia sebelumnya juga menuai kemarahan Presiden AS Donald Trump setelah mengkritik perang Iran.
Selain persoalan diplomasi global, AI menjadi salah satu isu utama dalam kunjungan Leo ke Prancis. Dalam pidatonya di Istana Elysee, ia meminta dunia mempertimbangkan kembali arah pengembangan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, perkembangan teknologi harus tetap mempertimbangkan nilai kemanusiaan.
“Jika kita ingin menghindari kehilangan kemanusiaan di tengah ‘surga mesin’ yang memasuki dan mengatur kehidupan sehari-hari kita, ada kebutuhan mendesak untuk pendidikan dalam membedakan mana yang etis,” kata Leo.
Dalam kunjungannya, Leo juga memimpin misa doa di Katedral Notre-Dame, yang kembali dibuka setelah mengalami kebakaran hebat pada 2019. Ia memuji upaya bersama masyarakat Prancis dalam memulihkan bangunan bersejarah tersebut.
Kunjungan empat hari Leo ke tiga kota di Prancis juga memiliki latar belakang persoalan internal Gereja Katolik. Para pemimpin Gereja berharap kedatangannya dapat membantu memperbaiki citra Gereja setelah laporan pada 2021 mengungkap dugaan pelecehan terhadap sekitar 330.000 anak oleh pendeta dan tokoh awam Katolik selama tujuh dekade.
Ia dijadwalkan bertemu dengan tujuh korban pelecehan oleh anggota Gereja pada Minggu di Lourdes.
BERITA TERKAIT: