Albanese mengatakan perlu ada aturan global untuk mengatur pengembangan AI yang berlangsung sangat cepat.
Menurutnya, Australia juga memiliki peran dalam mendorong pembentukan aturan tersebut dan memastikan manusia tetap memegang kendali atas teknologi AI.
"Saya tentu menerima bahwa ada risiko dan itulah sebabnya kita perlu memitigasi mereka," kata Albanese kepada wartawan saat mengunjungi kantor pusat Apple di Cupertino, California, dikutip Senin, 21 September 2026.
"Ada kebutuhan untuk diskusi tentang apa kerangka global untuk peluncuran AI, karena ini bergerak sangat cepat, dan kita perlu memastikan bahwa manusia tetap memegang kendali," sambungnya.
Dalam wawancara dengan program ABC Insiders, Albanese menilai AS dan Tiongkok merupakan dua kekuatan besar dalam perkembangan AI sehingga kerja sama keduanya diperlukan.
Dia mendorong kedua negara mencapai kesepakatan yang dapat dianalogikan dengan perjanjian nonproliferasi nuklir yang ditandatangani pada 1970.
"Keduanya adalah raksasa di sini, jadi kami ingin melihat kerja sama. Presiden Trump, tentu saja, akan bertindak demi kepentingan Amerika Serikat. Tetapi kita semua perlu bertindak demi kepentingan kemanusiaan," tegasnya.
Seruan tersebut disampaikan di tengah perdebatan mengenai kecepatan pengembangan AI. CEO Anthropic Dario Amodei, dengan dukungan CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk, menyerukan perlambatan pengembangan AI secara terkoordinasi.
Namun, Presiden AS Donald Trump menolak perlambatan AI dengan alasan hal itu dapat memberikan keuntungan bagi Tiongkok.
Albanese dijadwalkan membahas aturan global terkait AI dengan para pemimpin negara yang memiliki pandangan sejalan dalam Sidang Umum PBB.
Australia juga tengah menyiapkan standar nasional untuk AI dan pusat data, termasuk aturan mengenai keselamatan, lingkungan, dan industri.
BERITA TERKAIT: