Mufti Damaskus sekaligus Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah Syeikh Dr. M. Adnan al-Afyouni menyampaikan banyak negara yang terlibat dalam konflik atau krisis Suriah.
"Dan mereka bertempur untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing," ujar Syeikh Adnan di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (1/11) malam.
Gencatan senjata yang dilakukan oposisi didukung campur tangan asing tidak akan melemahkan Suriah. Bahkan Syeikh Adnan menegaskan, Suriah merupakan negara teraman di dunia, bahkan melebihi Eropa.
"Kami di Suriah tidak mengenal adanya perang etnis atau suku. Suriah termasuk negara yang paling murah dalam kebutuhan-kebutuhan pokok hidup," lanjut Syeikh Adnan.
Makanya tidak ada orang miskin di Suriah sejak lama, bahkan ketika ada konflik perang.
"Lalu kenapa orang-orang ini kemudian beroposisi melakukan perlawanan terhadap pemerintah? apakah karena mereka miskin atau karena masalah agama atau politik?" tutur Syeikh Adnan.
Syeikh Adnan menceritakan, konflik yang terjadi sebetulnya bermula dari lengsernya rezim Presiden Tunisia, Moncef Marzouki berlanjut ke Mesir.
"Kemudian berpindah ke Yaman dan hingga hari ini Yaman diporak-poranda dengan konflik tersebut, berlanjut ke India dan terjadi krisis yang hebat hingga banyak orang turun dari takhtanya," urainya.
Hingga kemudian kata Syeikh Adnan, para oposisi menguatkan tekad untuk menyapu bersih Suriah. Mereka berpikir Suriah akan kalah seperti negara-negara lain.
"Akan tetapi hal itu tidak terjadi, karena tujuan mereka adalah politik," pungkasnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: