Wall Street Loyo Dibayangi Harga Minyak

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 25 September 2026, 07:42 WIB
Wall Street Loyo Dibayangi Harga Minyak
Ilustrasi (RML/Reni Erina)
Kecil Besar
rmol news logo Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuat harga minyak kembali naik membatasi pergerakan  Wall Street pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, waktu setempat.

Pada penutupan perdagangan, indeks S&P 500 terpantau turun tipis 0,02 persen ke 7.704,13. Nasdaq justru naik 0,01 persen menjadi 26.939,37, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,31 persen ke 51.349,98.

Pergerakan saham berlangsung beragam. Microsoft turun 0,5 persen dan Broadcom melemah 1,3 persen, sementara AMD naik 2,4 persen. Meta Platforms menjadi salah satu penguat utama dengan kenaikan 4,5 persen setelah meluncurkan perangkat genggam yang dirancang untuk digunakan bersama asisten kecerdasan buatannya.

Di sisi lain, Oracle dan Blue Owl sama-sama tertekan. Saham Blue Owl turun 3,5 persen setelah laporan menyebut perusahaan mengirimkan pemberitahuan force majeure kepada pengembang pusat data di New Mexico. Saham MGM Resorts juga anjlok 11 persen setelah People Inc menarik proposal untuk mengakuisisi operator kasino tersebut.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor material menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,18 persen, disusul sektor kebutuhan pokok konsumen yang turun 0,96%. Di seluruh indeks S&P 500, jumlah saham yang turun hampir dua kali lipat dibandingkan saham yang menguat.

Tekanan terhadap pasar datang ketika harga minyak Brent melonjak lebih dari 3 persen hingga mendekati 107 Dolar AS per barel setelah serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan. Kenaikan harga minyak turut memperbesar kekhawatiran inflasi dan dampaknya terhadap suku bunga.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkat. Imbal hasil Treasury 30 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak 2004, membuat aset pendapatan tetap semakin menarik bagi investor dibandingkan saham yang menawarkan imbal hasil lebih tidak pasti.

Di tengah kondisi tersebut, investor juga mencermati kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga. Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun merupakan kemungkinan yang masuk akal. Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada bulan depan hampir 70 persen.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA