IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Dibayangi Risiko Global

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Kamis, 24 September 2026, 18:17 WIB
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Dibayangi Risiko Global
Ilustrasi pergerakan IHSG. (Foto: RMOL/Alifia)
Kecil Besar
rmol news logo Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup  di zona merah pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Pelemahan ini juga terjadi pada nilai tukar Rupiah yang tertekan terhadap Dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 6.298, ambruk 76 poin atau 1,20 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Mayoritas saham berada di zona merah. Tercatat 462 saham menguat, sedangkan 188 saham melemah dan 144 saham lainnya stagnan.

Aktivitas perdagangan cukup tinggi dengan volume mencapai 29 miliar saham dan nilai transaksi Rp11,2 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,6 juta kali, sementara kapitalisasi pasar turun menjadi Rp11.048 triliun.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah ikut melemah hari ini. Mengutip data Bloomberg, Rupiah ditutup di level Rp17.916 per Dolar AS, melemah 98 poin atau 0,55 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan mengatakan tekanan terhadap pasar masih datang dari ketidakpastian global, salah satunya perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi harga energi.

“Iran dan Amerika Serikat masih berbeda pendapat mengenai cara mengakhiri perang mereka, namun diplomasi harus terus berjalan,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Menurutnya, Teheran masih meninjau respons Washington terhadap proposal perdamaian yang diajukan Iran. Proposal tersebut memprioritaskan pencabutan blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Selain geopolitik, sentimen pasar juga dibayangi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Sejumlah pejabat bank sentral AS mulai memberikan sinyal hawkish di tengah kekhawatiran inflasi yang masih persisten.

“Pengambil kebijakan The Fed memberikan nada hawkish dengan Gubernur Michael Barr pada hari Rabu mengatakan bahwa ‘penyesuaian kebijakan lebih lanjut mungkin diperlukan’ untuk mengendalikan inflasi,” jelas Ibrahim.

Presiden Fed Richmond Tom Barkin dan Presiden Fed Boston Susan Collins juga mendukung kenaikan suku bunga baru-baru ini dengan alasan tekanan inflasi yang masih berlanjut.

Kondisi tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober kembali meningkat. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin kini mencapai 69,7 persen, dari sebelumnya 48,7 persen pada pekan lalu.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai ruang kebijakan Bank Indonesia masih menghadapi tantangan. Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan pada September berpotensi hanya menjadi jeda sementara di tengah tingginya risiko eksternal.

“Para ekonom memperingatkan bahwa langkah Bank Indonesia pada bulan September untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil selama tiga bulan berturut-turut mungkin hanya merupakan jeda sementara, mengingat masih tingginya risiko eksternal akibat imbal hasil global yang meningkat, harga minyak yang fluktuatif, serta tekanan geopolitik,” jelasnya lagi.

Menurut Ibrahim, tantangan tersebut semakin kompleks karena pertumbuhan ekonomi melambat, belanja rumah tangga masih lesu, dan sentimen pasar rentan. Kondisi ini membuat rupiah tetap sensitif terhadap penguatan Dolar AS dan arus keluar modal asing.

“Jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, maka BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten,” tegasnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga minyak hingga menembus 100 Dolar AS per barel juga dapat memperbesar tekanan terhadap mata uang dan inflasi domestik.

“Kenaikan harga minyak di atas 100 Dolar AS/barel berpotensi menekan mata uang melalui meningkatnya biaya energi. Terlebih, adanya fenomena El Nino yang juga meningkatkan risiko gangguan produksi dan pasokan pangan,” tandas Ibrahim.rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA