Kenaikan Harga Minyak Bikin Logam Mulia Kembali Layu

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 25 September 2026, 07:24 WIB
Kenaikan Harga Minyak Bikin Logam Mulia Kembali Layu
Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo Pasar logam dunia mengalami tekanan berat. Pada penutupan perdagangan Kamis 24 September 2026, harga emas terseret ke level terendah dalam sepekan akibat lonjakan harga energi serta sikap pejabat Federal Reserve yang semakin ketat atau hawkish.

Berdasarkan data pasar, emas spot tercatat turun 0,5 persen menjadi 4.265,50 Dolar AS per ons setelah sempat menyentuh level terendahnya sejak pertengahan September. Kondisi serupa terjadi pada kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Desember yang turut melemah 0,5 persen menjadi 4.298 Dolar AS per ons.

Tekanan terhadap logam mulia ini utamanya dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah sekitar 2 persen setelah serangan rudal kelompok Houthi ke Arab Saudi kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Kenaikan biaya energi ini dikhawatirkan kembali mengerek laju inflasi dan memaksa bank sentral Amerika Serikat untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Sentimen tersebut semakin diperkuat oleh sinyal dari para petinggi The Fed. Berdasarkan alat pantau FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan Oktober mendatang telah mencapai 69 persen. 

Kenaikan suku bunga secara langsung meredupkan daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil, sementara imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun tetap bertahan di dekat level tertinggi dalam hampir dua dekade.

Penguatan Dolar AS ke level tertinggi dalam dua bulan terakhir turut memperparah keadaan, karena membuat harga emas yang dihargai dalam mata uang greenback menjadi jauh lebih mahal bagi pembeli internasional.

Pergerakan negatif ini turut menulari logam mulia lainnya. Harga perak spot tercatat merosot paling tajam sebesar 1,3 persen menjadi 63,60 Dolar AS per ons, disusul oleh platinum yang melemah tipis 0,1 persen ke posisi 1.748,46 Dolar AS per ons. 

Di sisi lain, paladium menjadi pengecualian di tengah tren pelemahan pasar setelah berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 0,7 persen menjadi 1.268,24 Dolar AS per ons. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA