Farah.ID
Farah.ID

Riwayat Tanah Langkat, Penemuan Sumur Minyak Tertua Di Indonesia Yang Ratusan Tahun Dikuasai Belanda

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 15 Juni 2021, 06:21 WIB
Riwayat Tanah Langkat, Penemuan Sumur Minyak Tertua Di Indonesia Yang Ratusan Tahun Dikuasai Belanda
Sumur minyak bumi tertua di Langkat, Sumatera Utara/Net
RMOL Tidak banyak yang mengenal Desa Telaga Said yang terletak di Langkat, Sumatera Utara. Padahal desa itu menyimpan catatan penting; penemuan sumur minyak tertua di Indonesia pada 1881 dan dimulainya sejarah perminyakan di Indonesia.

Yang membuat miris, sejak pertama ditemukan hingga ratusan tahun kemudian, sumber minyak bumi itu hanya dikelola satu perusahaan milik Belanda, yakni Bataafsche Petroleum Maatschappij atau Perusahaan Minyak Batavia, sampai penutupannya.

Desa itu terletak sekitar 110 km barat laut Medan, Ibu Kota Sumatera Utara, atau sekitar 24 kilometer dari pusat kota Pangkalan Brandan, arah barat menuju Aceh timur.

Sumur minyak ini ditemukan secara tidak sengaja oleh juragan tembakau di Sumara Timur, Aeilko Jans Zijker.

Zijlker, yang juga adalah ahli perkebunan tembako pada Deli Tobacco Maatschappij, baru saja pindah dari Jawa ke Sumatera Timur. Sekali waktu, dia berkeliling memeriksa kebunnya bersama seorang mandor lokal. Saat hujan turun deras, Ziljlker berteduh di barak bekas bekas tempat penimbunan tembakau.

Sang mandor menyalakan obor saat hari mulai gelap. Ziljlker menyangka kayu yang dipakai si mandor  adalah damar karena nyala apinya yang jernih. Namun, Mandor menjelaskan bahwa sumber api yang dipakainya berasal dari tanah liat di kubangan yang tidak jauh dari barak.

Masyarakat setempat memang sudah lama memanfaatkan tanah liat dari kubangan itu untuk obor, katanya.

Besoknya, karena penasaran, Ziljlker memeriksa kubangan yang disebutkan di mandor. Ia menemukan genangan air itu nampak bercampur minyak. Segera air kubangan itu ia bawa ke Batavia untuk diteliti.

Hasilnya, daerah tersebut memiliki kandungan minyak sebesar 59 persen. Ini membuat Ziljlker bergairah. Ia segara pulang ke Belanda

Pada 1882, Zijker, mencari dan mengumpulkan dana dari teman-temannya di Belanda untuk kebutuhan kegiatan eksplorasi minyak di wilayah Langkat.

Setelah mendapatkan cukup dana, perizinan pun diurus. Setahun kemudian, pada 1883, ia mendapatkan konsesi seluas 500 bahu (3,5 km persegi) dari Sultan Lahat saat itu, Sultan Musa. Setelah mendapatkan izin konsesi, kegiatan pengeboran pun dilakukan.

Pada 1883, Zijlker menerima konsesi atas lahan tersebut dari Sultan Langkat. Pada 17 November 1884, setelah lebih kurang dua bulan melakukan pengeboran, minyak yang diperoleh sekitar 200 liter, masih jauh dari espektasi.

Mengharapkan minyak yang didapatkan justru semburan gas bercampur air yang cukup kuat, membuat kegiatan pengeboran terpaksa dihentikan.

Kegiatan pengeboran kemudian dialihkan lokasinya ke wilayah sebelah timur. Beruntung, konsesi yang diberikan Sultan Musa cukup luas, meliputi wilayah pesisir Sei Lapan, Bukit Sentang sampai ke Bukit Tingi, Pangkalan Brandan. Sehingga bisa mendapatkan titik pengeboran yang lebih banyak jumlahnya.

Selanjutnya, pengeboran dilakukan di desa Telaga Said. Pengeboran di lokasi ini sedikit kesulitan karena struktur tanah yang lebih keras dibandingkan di tempat sebelumnya.

Usaha mendapatkan minyak bumi di Telaga Said, mulai menemukan titik cerah ketika pada kedalaman 22 meter, dalam waktu 48 jam kerja minyak yang diperoleh sudah mencapai 1.710 liter.

Pada 15 Juni 1885, dilakukan pemboran di sumur telaga tunggal pada kedalaman 121 meter. Hasil pemeriksaan membuktikan bahwa lahan milik Zijlker mengandung minyak bumi berkualitas. Ini catatan sejarah dimulai. Zijlker yang tadinya tuan kebun yang kurang berhasil kini menjadi raja minyak.

Penemuan minyak di Telaga Tunggal di Indonesia itu berjarak 26 tahun dari penemuan sumur minyak pertama di dunia di Titusville, Amerika Serikat, tepatnya pada 27 Agustus 1859.

Nama Aeliko Janszoon Zijlker pun tercatat dalam Sejarah Pertambangan dan Industri Perminyakan Indonesia, sebagai penemu sumur minyak pertama dalam sejarah perminyakan di Indonesia.

Telaga Tunggal I itu sendiri akhirnya akhirnya berhenti operasi pada 1934. Ketika ditinggalkan pada 1934, jutaan barel minyak sudah berhasil dikeluarkan dari bumi Langkat melalui Sumur Telaga Tunggal.

Zijlker memang bukan orang pertama yang melakukan pengeboran minyak di Indonesia. Bahkan pada saat yang hampir bersamaan dengan Zijlker, seorang Belanda lainnya, yaitu Kolonel Drake, juga tengah melakukan pencarian ladang minyak di Pulau Jawa. Namun Zijlker berhasil mendahuluinya. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

ARTIKEL LAINNYA