Rata-rata Pasien DBD Dirawat Selama 5 Hari

Di Rumah Sakit Umum Kota Tangsel

Senin, 11 Februari 2019, 10:04 WIB

Foto/Net

Pasien demam berdarah dengue (DBD) di Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) cukup banyak. Ada 22 pasien yang dirawat. Mayoritas dewasa.

 Kesibukan terlihat di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam (IPD) RSU Tangsel. Dua perawatsibuk menata obat. Yang sudah lengkap dibungkus plas­tik. Kemudian diletakkan di atas meja. Isinya tidak banyak. Hanya tiga tablet. Sudah ada nama pasien di setiap bungkus­nya. Obat itu untuk pasien yang akan pulang.

"Hari ini ada lima pasien DBD yang akan pulang," ucap Kepala Tim Perawat Pasien Dewasa, Intan Nuryani saat berbincang-bincang dengan Rakyat Merdeka pada Kamis (7/2).

Berdasarkan pengamatan, pasien DBD di RSU Tangsel ditempatkan di dua ruang terpisah. Lantai 3 dan 4. Di lantai 3 khusus anak-anak. Di bawah 18 tahun. Di lantai 4 khusus dewasa.

Di lantai 3, khusus untuk Neonatus Intensif Care Unit (NICU). Kondisinya steril. Tidak banyak keluarga pasien yang menunggu. Hanya ada beberapa perawat keluar masuk ruang perawatan. Di belakang pintu masuk, terda­pat ruang perawat. Tidak besar. Sekitar 3x3 meter. Lengkap dengan sekat setinggi 1,2 me­ter. Kondisinya penuh. Tidak ada kursi tersisa. Tiga perawat lainnya memilih berdiri. Para perawat kompak mengenakam seragam, serba putih. Hanya jilbab yang berbeda. Warna hijau tua.

"Ada tujuh pasien DBD yang dirawat di sini," ujar Afriani, salah satu perawat.

Tepat di depan ruang perawat, terdapat selasar. Ukurannya cukup besar. Sekitar empat meter. Kondisinya juga bersih. Satu petugas kebersihan terus mengepel lantai. Agar tidak ter­lihat kotor.

Di kanan dan kiri selasar terdapat empat kamar. Setiap kamar diisi empat tempat tidur. Total ada 16 tempat tidur.

"Seluruh kamar penuh. Tidak hanya DBD, juga penyakit lain," sebut Afriani kembali.

Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam kamar perawa­tan. Harus mendapat izin dulu dari keluarga pasien. Selama tidak ada izin, seluruh pengun­jung harus puas menunggu di ruang perawat. "Hari ini ada tiga pasien DBD yang akan pulang," ujar Afriani.

Menurut Afriani, rata-rata pasien DBD dirawat selama lima hari. Bila trombosit sudah naik, pasien diperbolehkan pu­lang ke rumah masing-masing. "Batas kami, minimal trombosit 60 ribu. Baru boleh pulang," ucapnya.

Beranjak ke lantai 4. Di lantaiini khusus pasien dewasa. Di atas 18 tahun. Kondisinya sepi. Hanya ada tiga orang yang menunggu. Belasan kursi yang tersedia terlihat kosong melom­pong. Mereka sabar menunggu panggilan perawat.

"Istri sudah seminggu dirawat di sini karena DBD," ujar Erwin, warga Pamulang, Tangsel.

Di sisi kanan ruang tung­gu, terdapat pintu kaca. Pintu tersebut menuju ruang pera­watan IPD. Kondisi tertutup rapat. Ada akses khusus untuk membukanya. Hanya perawat dan dokter yang bebas keluar masuk. Untuk keluarga pasien, waktunya terbatas. Hanya pukul 11.00-13.00 WIB dan 17.00-19.00 WIB.

Setelah pintu masuk terdapat ruang selasar. Tak besar. Hanya tiga meter. Di kanan kirinya terdapat kamar. Ada 12 kamar di selasar sepanjang 50 meter. Isi tempat tidur di dalam kamar bervariasi. Ada yang tiga, ada yang empat. Jumlah totalnya ada 44 tempat tidur.

"Baru terisi 38 orang. Masih ada enam yang kosong," ujar Kepala Tim Perawat Pasien dewasa, Intan Nuryani.

Di tengah selasar, terdapatruang perawat. Cukup luas. Bentuknya memanjang. Kondisinya penuh sesak. Kursi yang terse­dia tidak mencukupi. Sebagian dari mereka memilih berdiri. Beberapa perawat sibuk meny­iapkan obat. Sebagian lainnya, sibuk mengecek pasien.

"Ada sembilan pasien DBD di rawat di sini," sebut dia.

Dari jumlah itu, kata Intan, 5 pasien sudah diperbolehkan pulang karena trombosit sudah naik lebih dari 60 ribu. "Mereka pulang hari ini," ucapnya.

141 Pasien DBD Sejak Oktober Hingga Januari

 Kepala Bidang Pelayanan Medis (Kabid Yanmed) RSU Tangsel Dr Imbar Umar Gozali mengatakan, jumlah pasien DBD yang menjalani perawatan mencapai 12 orang, Rabu (6/2).

Rinciannya, sebanyak lima pasien dirawat di Ruang Perawatan Anak, sisanya di Ruang Inap Penyakit Dalam (IPD). "Sehari kemudian, bertambah empat pasien baru," ujar Imbar kepada Rakyat Merdeka.

Rinciannya, kata Imbar, tu­juh orang dirawat di ruang perawatan anak, dan sembilan pasien di ruang IPD. "Juga masih ada enam pasien lagi yang berada di Unit Gawat Darurat (UGD)," ucapnya.

Sehingga, total keseluruhan pasien DBD di RSU Tangsel, kata Imbar, sebanyak 22 orang. "Yang di UGD belum bisa masuk rawat inap karena kamar penuh," tandasnya.

Bila kamar di ruang rawat inap sudah tersedia, lanjut Imbar, pasien yang berada di UGD agar masuk ke ruang rawat inap. "Mungkin dalam waktu satu atau dua hari ini," ujarnya.

Imbar menegaskan, pihaknya akan terus meningkatkan pe­layanan bagi pasien DBD. Meski kamar inap terbatas, kata dia, apabila dibutuhkan karena kondisi mendesak, maka perawatan bisa dilakukan di ruangan lain ataupun selasar rumah sakit.

"Semua pasien yang berobat akan ditangani, nggak boleh ditolak," tegasnya.

Lebih lanjut Imbar mengatakan, seluruh pasien DBD yang beradadi RSU Tangsel bebas biaya. Sebab, mayoritas pasien telah memiliki kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Bila tidak ada, kata dia, mereka menggunakan KTP Tangsel.

"Asal bawa KTP Tangsel gra­tis rawat inap," ucapnya.

Imbar menjelaskan, berdasar­kan data pasien per tiga bulan, sejak Oktober 2018 hingga Januari 2019, RSU Tangsel telah melayani 141 pasien DBD. Yang meninggal satu pasien berinisial A, pada akhir Januari 2019.

"Sebenarnya korban men­derita pneumonia (infeksi paru). Jadi, bukan karena DBD," tandasnya.

Untuk pasien meninggal karena murni penyakit DBD, Imbar memastikan tidak ada selama tiga bulan terakhir. "Pokoknya kondisi membaik, langsung bisa pulang," pungkasnya.

Latar Belakang
Sederet Pertanda Yang Patut Diwaspadai Jika Terkena Demam Berdarah Dengue

Demam berdarah dengue (DBD) adalah infeksi yang disebabkan virus dengue. Beberapa jenis nyamuk menularkan atau menyebarkan virus dengue.

Demam dengue juga disebut sebagai breakbone fever atau bonebreak fever (demam sendi), karena demam tersebut dapatmenyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat, seakan-akan tulang mereka patah.

Sejumlah gejala dari demam dengue adalah demam, sakit kepala, kulit kemerahan yang tampak seperti campak, nyeri otot dan persendian. Pada sejumlah pasien, demam dengue dapat berubah menjadi satu dari dua bentuk yang mengancam jiwa.

Pertama adalah demam ber­darah, yang menyebabkan pen­darahan, kebocoran pembuluh darah (saluran yang mengalirkan darah), dan rendahnya tingkat trombosit darah (yang menyebabkan darah membeku). Kedua, adalah sindrom renjat dengue, yang menyebabkan tekanan darah rendah berbahaya.

Terdapat empat jenis virus dengue. Apabila seseorang te­lah terinfeksi satu jenis virus, biasanya dia menjadi kebal terhadap jenis tersebut seumur hidupnya. Namun, penderita hanya akan terlindung dari tiga jenis virus lainnya dalam waktu singkat.

Jika kemudian dia terkena satu dari tiga jenis virus tersebut, dia mungkin akan mengalami masalah yang serius. Hingga saat ini, belum ada vaksin yang dapat mencegah seseorang terkena virus dengue tersebut.

Terdapat beberapa tindakan pencegahan demam dengue. Orang-orang dapat melindungi diri mereka dari nyamuk dan meminimalkan jumlah gigitan nyamuk.

Apabila seseorang terkena de­mam dengue, biasanya dia dapat pulih hanya dengan meminum cukup cairan, selama penyakitnya tersebut masih ringan atau tidak parah. Jika seseorang mengalami kasus yang lebih parah, dia mungkin memerlukan cairan infus (cairan yang dimasukkan melalui vena, menggunakan jarum dan pipa infus), atau tranfusi darah.

PelaksanaTugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Deden Deni mengatakan, Pemkot Tangsel menganggarkan dana cukup besar bagi penanganan nyamuk aedes aegypti penyebab DBD di wilayahnya.

"Totalnya Rp 2,5 miliar," ujar Deden dalam keterangannya.

Alokasi dana tersebut, kata Deden, dibagi untuk biaya operasional juru pemantau jen­tik (Jumantik), fogging atau pengasapan, serta pengadaan serbuk pembunuh jentik nyamuk lafasida.

Deden mengatakan, Dinkes Tangsel telah menerima laporan bahwa dari 29 Puskesmas yang ada, semuanya merawat pasien DBD. Rata-rata tiap Puskesmas merawat 3 pasien, meskipun hanya 25 Puskesmas yang memi­liki fasilitas rawat inap.

"Jika harus mendapat pen­anganan berlanjut, pasien akan dipindahkan ke rumah sakit," kata dia.

Deden mengungkapkan, setiap dua hari sekali, ada warga Tangsel yang terkena DBD. Sehingga, pihaknya sudah mengimbau agar warga, Jumantik, dan Puskesmas bersiap menghadapi siklus tahu­nan ini. Dia menilai, tindakan pencegahan melalui program Jumantik sudah optimal.

"Meskipun harus ada yang dievaluasi," tandasnya.

Tahun ini, dengan anggaran itu, kata Deden seluruh kecama­tan di Tangsel bisa melaksana­kan program Jumantik.

Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany menambah­kan, hingga saat ini pihaknya masih memantau kondisi yang berlangsung terkait wabah DBD. "Kita akan menentukan apakah itu kejadian luar biasa (KLB) atau belum," ujar Airin.

Menurut Airin, untuk menentukan status KLB harus berdasarkan data dan regulasi yang berlaku. Namun Airin mengatakan, akan memaksimalkan seluruh ruangan yang ada di puskesmas dan RSU Tangsel untuk penanganan pasien DBD.

"Puskesmas ada juga rawat inap, tidak selalu dirujuk ke rumah sakit," ujarnya.

Selain itu, menurut Airin, pihaknya mendorong kerja sama dengan rumah sakit swasta. "Apalagi dengan BPJS, harapan­nya ada solusi," ucapnya.

Dia memastikan, semua warganya harus mendapat pelayanan kesehatan. Bila ada rumah sakit yang menolak, lanjut Airin, bisa disampaikan ke Pemkot Tangsel melalui aplikasi yang ada. "Di mana ditolaknya, masalahnya apa, akan kita tindak lanjuti," pungkasnya. ***

Kolom Komentar


loading