Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Tabloid Indonesia Barokah Disimpan di Ruang Pimpinan

Di Kantor Pos Depok Timur

Rabu, 30 Januari 2019, 09:24 WIB
Tabloid Indonesia Barokah Disimpan di Ruang Pimpinan
Foto/Net
rmol news logo Setelah beberapa daerah di Jawa Tengah dan Timur, Tabloid Indonesia Barokah merambah wilayah Jabodetabek. Beberapa Kantor Pos di Depok, Jawa Barat, menerima kiriman tabloid yang menyudutkan Capres Prabowo Subianto ini.

Salah satu kantor pos yang menerima kiriman tabloid itu yakni, Kantor Pos Depok Timur. Kemarin, suasana kantor pos yang berada di Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya itu, tampak ramai. Puluhan karyawan kantor tersebut, sibuk menyortir ratusan barang yang harus dikirim.

Barang-barang kiriman itu, dikumpulkan di sebuah ruangan. Cukup besar. Letaknya di bagian belakang. Tak cuma barang kiriman, berbagai perlengkapan kantor terlihat di ruangan itu. Ada meja-meja kayu yang sudah disekat, komputer, hingga keran­jang tempat meletakkan barang yang akan dikirim.

Di ruangan itu, tak terlihat amplop berisi Tabloid Indonesia Barokah. Amplop-amplop tabloiditu, diletakkan di ruangan terpi­sah. Adanya, di sebelah ruangan besar. Bagian depan. Ruangan pimpinan kantor pos tersebut.

Amplop-amplop berisi tab­loid itu, tak diletakkan di tempat khusus. Diletakkan begitu saja di lantai. Pembungkusnya hanya kar­ung dan plastik. Jumlahnya cukup banyak. Ratusan. Semua tabloid dikemas dalam amplop yang sama. Warna coklat. Ukurannya sekitar 20x30 centimeter (Cm). Karung dan plastik jadi pelindung amplop-amplop itu dari udara luar.

Bagian luar amplop tak ber­beda dengan amplop barang kiri­man pada umumnya. Warnanya sama. Ukurannya juga sama. Nama pengirim juga sama. Hanya penerima barang yang berbeda. Nama pengirim dan penerima ditulis dalam kertas yang ditempel di luar amplop.

"SIP : Redaksi Tabloid Indonesia Barokah Pondok Melati, Bekasi". Begitu tulisan di kertas pada kolom nama pengirim. Sedangkan nama penerima berbe­da-beda. Namun, salah satunya bertuliskan nama sebuab masjid yang berada di kota itu.

Di atas nama penerima dan pengirim, tertera keterangan kantor pos barang itu berasal. Tulisannya, dari Kantor Pos Jakarta Selatan. Lengkap dengan nomor izin, dan juga masa ber­laku pengiriman barang.

Amplop-amplop itu masih dalam keadaan tertutup dan tersegel. Standar barang kiriman kantor pos. Amplop-amplop itu dibiarkan begitu saja, hingga ada arahan selanjutnya.

Sama seperti karyawan lain­nya, hari itu, Dadang tampak sibuk mengatur barang-barang yang akan diantar. Dadang adalahManajer Antaran Kantor Pos Depok Timur. Terkait amplop yang berisi Tabloid Indonesia Barokah, Dadang mengaku sengaja menahannya.

"Memang sudah ada arahan dari pihak terkait," ucap Dadang, saat ngobrol-ngobrol.

Pihak terkait yang dimaksud yakni, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Depok, hingga pihak Kepolisian. Dia bilang, beberapa hari usai pihaknya menerima amplop-amplop itu, sejumlah aparat berdatangan ke kantornya. Memastikan agar amplop-amplop itu ditahan.

"Katanya, jangan dikirim dulu, makanya kita pisahkan, kita taruh di sini," terangnya.

Dadang mengaku tak tahu sampai kapan amplop-amplop itu akan disimpan. Pihaknya, kata dia, menunggu arahan selanjutnya dari pihak berwenang. "Kalau me­mang harus dikembalikan ke asal atau disita pihak yang berwenang, ya kita laksanakan," tuturnya.

Lebih lanjut, Dadang mengaku tak mengetahui alamat pengirim. Dia bilang, pihaknya hanya menerima amplop-amplop itu. Sedangkan nama pengirim bi­asanya diberitahu di kantor pos barang itu berasal.

"Tapi itu juga nggak wajib. Pengirim nggak harus menyerahkan identitas. Kita juga tahu isinya tabloid itu, dari peneri­manya," terangnya.

Selain di Depok, Tabloid Indonesia Barokah juga ditemukan di kantor pos lain. Namun, Dadang mengaku, belum ada arahan agar melakukan pemeriksaan detail terhadap barang-barang yang dikirimkan melalui kantornya. Dia bilang, prosedur Kantor Pos tetap sama. Menanyakan isi kiriman.

"Nah, kalau kirimannya berisiko, akan dipanggil pihak ketiga, seperti polisi. Sebagai saksi, kalau ada apa-apa," tuturnya.
Sasar Masjid & Ponpes Di Depok

Tabloid Indonesia Barokah yang menyudutkan Capres Prabowo Subianto, menyasar lembaga-lembaga keagamaan. Seperti, masjid dan pondok pesantren (Ponpes). Itulah yang terjadi di berbagai daerah, ter­masuk Depok, Jawa Barat.

Dadang, Manajer Antaran Kantor Pos Depok Timur, mengetahui hal itu setelah melihat alamat penerima di amplop coklat yang diterima pihaknya. "Hampir tidak ada yang ke rumah tinggal biasa," ucap Dadang.

Salah satu masjid yang disasaryakni, Masjid Al Kautsar. Masjid itu berada di Kompleks Perumahan Griya Pancoran Mas Indah, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoran Mas. Di masjid itu ada empat eksemplar Tabloid Indonesia Barokah yang disebarkan.

Nur, salah seorang pengurus masjid tersebut mengatakan, tabloid itu diletakkan begitu saja di dalam masjid. "Akhirnya, dia­mankan pihak pengurus masjid," ucap Nur.

Nur mengaku, pihaknya mengamankan tabloid itu untukmencegah kegaduhan di masyarakat. Apalagi, tabloid itu sudah ramai diberitakan. "Kami nggak tahu jelas siapa yang ngirim. Yang jelas, diletakkan begitu saja di masjid," tuturnya.

Pihaknya kemudian berkoor­dinasi dengan aparat berwenang. Nur bilang, Ketua Panwaslu Kecamatan Pancoran Mas, Sugeng Pribadi mengamankan tabloid tersebut. "Selanjutnya, urusan Panwaslu untuk meng­kaji," tuturnya.

Koordinator Divisi Pencegahan, Hubungan Masyarakat dan Hubungan Antarlembaga Bawaslu Kota Depok Dede Slamet mengatakan, saat menda­pat kabar, Panwaslu langsung bergerak mendatangi lokasi ditemukannya tabloid tersebut. Dia mengatakan, bahwa temuan itu bermula dari laporan Kantor Pos Depok Timur.

Di kantor pos itu, Dede mengaku bertemu dengan Kepala Kantor Pos Depok Timur. Ada 400 paket yang masuk ke kantor positu. Paket-paket itu dikirim dari Kantor Pos Jakarta Selatan pada Rabu lalu. Berdasarkan data si pengirim, sesuai alamat redaksi yang tertera pada tabloiditu. Kawasan Bekasi, Jawa Barat.

Dede bilang, pada saat dia sampai kantor pos itu, ada 18 paket lagi yang belum dikirim ke alamat tujuan. Satu hari sebe­lumnya, yakni Kamis, tabloid itu sudah banyak disebar. "Jadi, su­dah sampai ke sejumlah masjid," tandas Dede.
Latar Belakang
Mencari Kirinkemi Menemukan Kirinkeman

Dalam boks redaksi, kantor Tabloid Indonesia Barokah berada di Bekasi. Tertulis di Jalan Kirinkemi, Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Di aplikasi peta telepon pintar, nama jalan itu mudah ditemukan. Namun, saat Rakyat Merdeka sampai di lokasi, den­gan mengikuti petunjuk yang disajikan aplikasi itu, nama Jalan Kirinkemi tak terlihat. Jika mengikuti aplikasi itu, malah diantarkan ke sebuah jalan bertu­liskan, JL.H.KIRINKEMAN. Tertera juga kode pos lokasi itu, 17414.

Namun, dari pengamatan, tak satu pun rumah yang dijadikan semacam kantor. Bahkan, agak sulit menemukan rumah yang dijadikan tempat usaha, atau jasa. Hanya ada dua sampai tiga rumah yang dijadikan warung. Sisanya, sebagai rumah ting­gal biasa. Baik rumah pribadi, maupun kontrakan.

Sarsono, Ketua RT 7 RW 13, di Jalan Kirinkeman, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, geram. Dia repot. Gara-gara alamat fiktif yang mencatut wilayahnya.

Menurutnya, tindakan men­cantumkan alamat fiktif, bukan tindakan pemberani. Dia be­rani mengatakan fiktif, karena merasa dipilih warga. Dia ingin wilayahnya aman, dan damai. "Nah, kalau ini kan malah me­nampilkan alamat yang nggak jelas," ujar Sarsono.

Sarsono menjelaskan alamat redaksi yang tertera di tabloid tidak sesuai dengan lokasi. Seharusnya yang benar, menurutnya, adalah Jalan H Kirinkeman. Bukan Jalan Kerenkemi seperti yang tertulis di aplikasi peta. Nama Jalan H Kirinkeman ada­lah nama warga yang mewakaf­kan tanahnya di wilayah ini.

Dia bercerita, sejak 19 Januari dirinya dihubungi Bawaslu dan KPU. Dua lembaga ini bertanya soal keberadaan tabloid Indonesia Barokah. Sarsono mengaku sama sekali tidak tahu keberadaan redaksi tabloid ini.

Apalagi, Sarsono mengaku orang yang disiplin administrasi. Sekecil apa pun usaha warga di sini, harus ada izin ke saya. "Saya juga nggak kenal nama-nama yang ada di redaksinya," tuturnya.

Sarsono bilang, mengenal 99 persen warganya. saya hafal. Makanya, dia mengaku asing dengan nama-nama yang tercantum da­lam tabloid. Sebelum jadi Ketua RT, Sarsono juga berhubungan baik dengan para warganya.

Dia merasa, wilayahnya di­catut. Apalagi, tabloid itu sudah tersebar di beberapa wilayah. "Bukan cuma aparat yang repot, ini bikin kacau," kesalnya.

Warga sekitar juga tak mengetahui kantor tabloid ini. Bras, warga Jalan Kirinkeman memastikan, tak ada rumah yang dijadikan kantor tabloid itu. Yang ada hanya rumah seorang pendukung partai. Bukan anggota partai. "Itu yang paling depan," katanya seraya menunjuk ke sebuah rumah.

Pria asli wilayah ini, bahkan tak pernah mendengar nama tabloid itu. "Kalau ada, nggak mungkin warga sini nggak tahu. Mungkin alamatnya fiktif," ujar Bras, saat ngobrol.

Terkait nama jalan, Bras bilang, nama Kirinkeman sudah puluhan tahun dipakai. Dia mengetahui persis hal itu. Soalnya, Haji Kirin keman adalah leluhurnya.

Di mesin pencarian di internet, kata dia, memang tak ditemukan nama Jalan Kirinkeman. Tapi, Kirinkemi. Karena, memang pernah ada kesalahan penulisan. "Almarhum Haji Kirinkeman itu leluhur saya, warga asli sini. Makammya juga ada di jalan ini," beber Bras, sambil menun­juk arah makam.

Dia meminta pihak terkait bisa mengubah nama jalan itu. Agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. "Sepertinya di surat-surat resmi juga Kirinkemi, mudah-mudahan segera diganti," pintanya. ***
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA