Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Bagian Tanggul Jebol di Kali Pulo Mirip Got

Lebarnya Kurang dari Dua Meter

Jumat, 18 Januari 2019, 09:59 WIB
Bagian Tanggul Jebol di Kali Pulo Mirip Got
Foto/Net
rmol news logo Dinding atau tanggul Kali Pulo jebol lagi. Puluhan rumah di Kelurahan Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, terendam luapan kali tersebut.
  Dinding kali yang jebol berada di RW 6, Jatipadang. Jaraknya, sekitar 30 meter dari tanggul yang jebol pada akhir 2017. Dinding yang jebol kali ini, berada di sisi selatan. Tapi, lokasinya mirip. Dekat tanah kosong.
Rabu lalu, banjir akibat dind­ing kali yang jebol, sudah surut. Tak terlihat lagi genangan air. Yang ada hanya sisa-sisa lumpur di pinggir kali. Terkumpul begitu saja. Bersama puing-puing ban­gunan yang terseret air. Membuat lingkungan tampak lembab. Juga kumuh.

Hari itu, dinding yang jebol mulai dibenahi. Puluhan petugas dari Dinas Tata Air melakukan penebalan dinding kali. Caranya, dengan menumpuk karung putih berisi pasir. Tumpukan karung pasir ditahan potongan-potongan kayu. Dari dua sisi. Dan, ditan­capkan ke tanah.

Panjang dinding yang jebol sekitar lima meter. Posisinya berdempetan dengan rumah-rumah warga. Cukup sulit men­jangkaunya. Soalnya, pemuki­man padat. Jalan yang mesti di­lalui sempit. Rata-rata, lebarnya hanya sekitar 1,5 meter. Hanya cukup untuk motor berpapasan. Bahkan, ada yang hanya cukup untuk satu motor.

Di sisi dinding yang jebol, lebar Kali Pulo, sangat mempri­hatinkan. Bahkan, lebih cocok disebut got. Lebarnya kurang dari dua meter. Lebih sempit dari titik yang tanggulnya jebol pada 2017. Di sana, lebar kali masih mencapai lima meter.

Semakin ke hilir, kali semakin "menghilang". Semakin me­nyempit. Hingga hanya sisa satu meter. Bahkan kurang. "Malah di bawah, ada yang ruang tamu rumahnya di atas kali," ujar Rohani, warga sekitar.

Rumah Rohani terendam cu­kup parah saat air bercampur lumpur menerjang. Hampir satu meter tingginya. Saat itu, Azan Maghrib baru saja usai. Rohani hendak beribadah. Dinding ka­mar mandinya bergetar.

Dia bergegas keluar kamar mandi. Tujuannya, ke bagian depan rumah. Melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dia sangat khawatir. Soalnya, rumahnya menempel dengan badan kali.

"Sampai depan, air sudah tinggi," ucapnya.

Katanya lagi, air terus datangdan semakin tinggi. Selain lum­pur, puing-puing bangunan yang ambruk turut terbawa air. Bahkan, dinding satu meter yang membatasi tanah kosong dengan jalan, ikut ambrol.

"Itu puingnya terbawa sam­pai ke dalam rumah saya," bebernya.

Pada hari itu, Suryadi, warga lainnya, tengah bersantai di ruang tamu rumahnya. Suara gemuruh dinding tanggul jebol terdengar jelas olehnya.

"Saya dengar suara bruk. Kirain hujan kencang kali ya," katanya.

Namun, dia sangat terkejut saat melihat yang terjadi. Dinding penahan air Kali Pulo hancur. Air mengalir deras. Masuk ke rumahnya. "Saya lihat air kayak mutar gitu, saking derasnya," cerita Suryadi.

Arus air yang deras, bahkan mampu menyeret motornya. Saat itu, motornya diparkir di depan rumah. Motornya berpindah sekitar 60 centimeter (Cm). Dia juga melihat motor tetangga sebelahnya terbawa arus. Bahkan, hingga ke jalanan. Padahal, jaraknya cukup jauh dari rumah.

"Anak umur 12 tahun juga bisa itu terbawa arus. Saking kencangnya. Motor saja terba­wa, padahal jalannya berkelok," tuturnya.

Suryadi juga mulai melihat air masuk ke rumah-rumah warga. Air yang masuk sedengkul orang dewasa. Sedangkan di jalan dan gang yang lokasinya lebih ren­dah, air mencapai paha. Bahkan, pinggang orang dewasa.

Dua dari lima laci lemari bajunya terendam air. Kasurnya pun basah. Tapi, dia memilih bertahan di rumahnya. "Padahal, saya sudah tutup pintu rumah, biar air yang masuk tak langsung banyak," katanya

Sebenarnya, lanjut Suryadi, di depan rumahnya sudah diturap. Tapi, air tetap masuk. Dalam situasi itu, petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umun (PPSU) bergerak cukup cepat. Sekitar jam sembilan malam, pasukan oranye turun tangan. Mulai membantu membereskan tanggul yang jebol. Sehingga, air yang masuk tidak sebanyak sebelumnya.

Sekitar jam satu pagi, air mu­lai surut. Air baru benar-benar habis pada siang hari. Tanggul sementara dipasang. Sampah-sampah juga mulai dibersihkan dari lingkungan itu.

Trauma, Warga Rela Direlokasi
Rumah Rohani menempel dengan Kali Pulo. Tak ada pembatas apapun. Bahkan, muka air Kali Pulo lebih tinggi dari lantai bawah ru­mahnya.

Bangunannya terdiri dari dua lantai. Ukuran totalnya sekitar 60 meter persegi. Ada beberapa ruangan di rumah itu. Salah satunya dijadikan warung. "Sehari-hari berda­gang saja," tutur Rohani.

Sudah 28 tahun lebih Rohani dan keluarga menempati rumah itu. Selama itu pula dia kerap kebanjiran. Namun, tidak pernah separah akhir pekan lalu. Menurutnya, saat itu air menerjang hebat.

Rohani trauma. Begitu juga keluarganya. Termasuk satu anak lagi yang masih tinggal bersamanya. Rasa trauma itu membuat Rohani ikhlas. Menerima kebijakan pemer­intah. Termasuk jika harus direlokasi.

"Asal dengan kompensasi yang layak," harapnya.

Dia merasa pantas menerima kompensasi. Soalnya, status rumahnya resmi. Bersertifikat. "Dari awal bangun sudah resmi," jelasnya.

Warga lainnya, Suryadi, juga mengaku sudah cukup lama tinggal di wilayah itu. Lima tahun.Dia bilang, ban­jir memang jadi rutinitas. "Namun, tidak pernah separah kemarin," ucap Suryadi.

Senada dengan Rohani, dia juga rela menerima se­gala kebijakan Pemda DKI. "Yang penting, warga sini nggak kebanjiran lagi," ucapnya.


Warga Dirikan Rumah Persis Di Sisi Kali Pulo
Bahkan Ada Yang di Atasnya

Warga RT 4, RW 6, Kelurahan Jatipadang, Jakarta Selatan, kebanjiran. Penyebabnya, dind­ing atau tanggul Kali Pulo jebol lagi. Kejadian setahun lalu terulang lagi.

Dalam catatan, jebolnya tanggulakhir pekan lalu, adalah yang pertama sepanjang musim hujan 2018/2019. Setahun lalu, tanggul jebol juga menyebabkan banjir. Bahkan, hingga empat kali. Lokasinya tersebar antara RT 2, 3, 4, dan 14. Di RW yang sama.

Banyak bagian di kali itu, kini hanya selebar tiga hingga empat meter. Bahkan, ada yang tak sampai dua meter. Penyempitan dan penutupan kali oleh pembangunan rumah-rumah, diduga sebagai penyebab kali sering meluap. Hingga, akhirnya menjebol tanggul berulang kali.

Karena bolak-balik banjir, kawasan itu dikenal sebagai Kampung Air. Menurut warga setempat, banjir kerap datang sejak 2011. Dan, tanggul jebol malam itu terjadi di lokasi tang­gul darurat. Tanggul itu hanya ditinggikan akhir tahun lalu.

Kali Pulo di Kampung Air, berada di daerah cekungan. Di sebelah timurnya, daratan lebih tinggi daripada muka air Kali Pulo. Di seberangnya, daratan lebih rendah. Dapat dipastikan, jika tanggul jebol, bagian terse­but pasti terendam.

Ketua RW setempat Arief Syarifuddin bilang, banyak warga sekitar yang membangun rumah di bantaran Kali Pulo. Bahkan, ada juga yang di atasnya. Arief berharap, Pemprov DKI segera menormalisasi kali ini.

Arief menjelaskan, yang be­rada di bantaran kali sudah lamaberdiri. Awalnya, warga mendi­rikan rumah di bantaran. Namun, sekitar 2010, makin banyak yang mendirikan tempat tinggal di atas kali. Pemprov pun heran. Tapi, saat itu Arief belum jadi Ketua RW. "Pak Gubernur Anies menanyakan, ini RT-RW kok bisa mengizinkan," ucap Arief.

Arief menambahkan, ada sebagian warga yang memiliki sertifikat hak milik (SHM). Dia pun mempertanyakan hal itu. Karena, seharusnya tidak ada legalitas kepemilikan lahan, bagi warga yang mendirikan bangunan di bantaran dan di atas kali.

Dia bilang, sebagai Ketua RT atau RW, hanya mengiyakan kebijakan pejabat di atasnya. Kalau lurah menyatakan salah, harusnya surat nggak ditandatangani. Membuat sertifikat har­us mendapat rekomendasi. Dari lurah dan camat. Makanya, ked­uanya harus mengecek dulu.

"Sebelah timur misalnya per­batasannya kali, nah dicek dulu dong itu," ucapnya.

Dia menampik disebut diam saja. Katanya, dia pernah me­negur warga yang mendirikan bangunan di bantaran dan di atas kali. Namun tak menghasilkan apa-apa. Aturan tetap ditabrak. "Pas mau digusur, warga mau­nya ganti untung, bukan ganti rugi," tuturnya.

Dia sudah menyampaikan ke Anies. Warga sudah siap jika Kali Pulo dinormalisasi. Dengan sistem ganti untung. Jawaban Anies saat itu, penggantian sesuai ketentuan. Ketentuannya akan dibahas bersama para kepala suku dinas terkait. "Setelah itu, baru bertemu warga yang akan ter­dampak normalisasi," terangnya.

Soal normalisasi, kata dia, saat ini ada 121 rumah permanen di wilayah RW 6 yang dibangun di bantaran dan di atas Kali Pulo. Hal tersebut nantinya akan dibahas lagi. Sesuai dengan ke­tentuan yang berlaku.

"Itu kalau bicaranya normalisasi, lebarnya lima meter," tan­das Arief. ***
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA