Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Gerai Hero Yang Tersisa Pun Tampak Sepi Pembeli

26 Tokonya Ditutup, 532 Karyawan Di-PHK

Selasa, 15 Januari 2019, 09:39 WIB
Gerai Hero Yang Tersisa Pun Tampak Sepi Pembeli
Foto/Net
rmol news logo Tahun 2018 menjadi ujian berat bagi PT Hero Supermarket. Sebanyak 26 tokonya ditutup. 532 karyawannya diberhentikan. Musababnya, bisnis merugi. Gerai yang masih tersisa pun sepi pembeli.

Kemarin siang, salah satu gerai Hero Supermarket, di ka­wasan Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat sepi. Hanya terlihat be­lasan pembeli. Mereka asyik memilih barang yang tertata rapi. Tidak dimasukkan keranjang maupun trolly, beberapa minuman dan makan yang telah dipilih, ke­mudian diserahkan ke kasir. "Lagi istirahat kerja. Mau jajan," ujar salah satu pembeli, Susi.
 
Hero Supermarket ini, berada di lantai basement Gedung Sarinah. Ada dua eskalator yang tersedia. Ukurannya kecil. Hanya bisa satu orang. Setelah sampai di basement, terhampar gerai yang luas. 2500 meter persegi. Di depan toko terdapat tulisan besar, "Hero".

Masuk lebih dalam, terdapat pintu masuk di sisi kiri. Sangat lebar. Puluhan trolly tersedia tepat di sini. Namun, tidak ada satu pun pembeli yang meng­gunakannya. Mereka memilih membawa barang dengan tan­gan. "Tidak banyak yang dibeli. Pakai tangan saja," ucap Susi kembali.

Di dalam gerai, kondisinya sangat bersih. Tidak ada satu pun sampah tercecer. Dua petu­gas kebersihan terus mengepel lantai. Pendingin ruangan terus menyala. Sejuk. Pembeli yang datang dibuat betah berlama-lama saat berbelanja.

Belasan rak setinggi dua meter ditata di setiap sudut ruangan. Aneka makanan dan minuman ringan ditempatkan di dalamnya. Tak ketinggalan, buah segar turut dijual. Beberapa pembeli sibuk memilih barang-barang. Mereka dimanjakan lengkapnya barang yang dijual. "Jadi, tidak perlu beli kemana-mana," ucap Susi.

Sedangkan beberapa pegawai sibuk mengecek barang-barang. Bila ada barang yang tidak tercantum harganya, pegawai buru-buru mencantumkannya. "Harganya relatif sama dengan di luar, jadi tidak terlalu mahal," klaim salah seorang pegawai.

Dalam suasana sepi pem­beli ini, tiga petugas keamanan berkeliling. Mereka mengamati pembeli yang datang. Karena tidak ada yang mencurigakan, petugas kembali berjaga di de­pan gerai.

Sebelum keluar gerai, terdapat lima kasir. Namun, hanya dua kasir yang dioperasikan. Sisanya ditutup karena pembeli tidak ramai. Dua kasir yang buka juga tidak terlalu sibuk. Sebab, tidak ada antrean pembeli. "Biasanya, saat pulang kerja ramai," ucap salah seorang kasir yang enggan ditulis namanya.

Kasir ini memastikan, gerai Hero yang berada di Sarinah tidak akan ditutup. Sebab, setiap hari selalu ramai didatangi pem­beli. Apalagi, toko ini salah satu yang pertama di Jakarta. "Toko sudah ada sejak tahun 1993," ucap wanita berjilbab ini.

Wanita tersebut mengatakan, toko buka setiap hari. Mulai pukul 09.00 WIB hingga 21.00 WIB. "Sabtu dan Minggu kami tetap buka," ucapnya.

Tanggung Kerugian Rp 163 Miliar
  General Manager Corporate Affairs PT Hero Supermarket Tony Mampuk menyatakan, perusahaannya telah melakukan langkah efisiensi dan penerapan strategi untuk mendukung ke­berlanjutan bisnis.
Caranya, dengan melakukan penutupan toko dan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan. "Ada 26 toko ditutup dan 532 karyawan terdampak ke­bijakan efisiensi ini," ujar Tony.

Tony mengklaim, 92 persen yang di-PHK, telah menerima dan menyepakati untuk mengakhiri hubungan kerja. "Mereka telah mendapatkan hak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan," tandasnya.

Tony menambahkan, perusa­haannya saat ini sedang mengh­adapi masalah besar terkait bis­nis, sehingga perlu mengambil langkah efisiensi yang bertujuan untuk keberlangsungan usaha.

Memburuknya kinerja perusa­haan sejak kuartal III 2018, lan­jut dia, menjadi salah satu alasan perusahaan melakukan PHK. Toko yang rugi tidak mungkin menanggung beban jika tidak ada keuntungannya. "Kami juga sudah mengeluarkan surat kepada karyawan yang tokonya ditutup," ucapnya.

Dia mengatakan, perusahaan­nya menanggng kerugian Rp 163 miliar pada kuartal ke­tiga tahun 2018. Lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 2017, sebesar Rp 79 miliar. "Dengan penutupan gerai, perusahaan dapat lebih stabil dan karyawan mendapatkan dampak yang positif," klaimnya.

Kendati banyak ditutup, Tony menegaskan, gerainya yang ada saat ini masih menawarkan produk berkualitas sehingga masih dipercaya pelanggan. "Kami juga tetap memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan," tandasnya.

Terkait dugaan, PT Hero Supermarket melakukan praktik union busting atau pemberan­gusan serikat pekerja, Tony me­nyebut, tudingan itu tidak benar dan tidak berdasarkan fakta. Dia menambahkan, kejadian di Semarang adalah dua orang karyawan yang meninggalkan waktu kerja tanpa adanya ket­erangan, atau cuti, atau tanpa izin atasan. Kemudian, adapula yang menggunakan alasan sakit, namun ternyata tidak bisa mem­berikan surat resmi keterangan dari dokter.

Dengan kejadian itu, kata dia, pihaknya telah memberi­kan surat peringatan kepada karyawan tersebut. Setelah itu, perusahaannya, memberikan toleransi dan mengizinkan kary­awan di kesempatan berikutnya untuk hadir di pengadilan. "Tapi setelah kami cek, karyawan yang bersangkutan tidak hadir," pungkasnya.

Latar Belakang
Pekerja Demo Di Kantor Pusat Hero


 Sejumlah pusat perbelan­jaan menutup gerainya sepan­jang tahun 2018. Mulai Seven Eleven, WTC Mangga Dua, Ramayana, Matahari, Clarks dan New Look, Debenhams hingga PT Hero Supermarket (Hero).

Sebanyak 26 gerai Hero di­tutup karena sepi pengunjung. Akibatnya, sebanyak 532 pe­gawai kehilangan pekerjaan.

Hingga 30 September 2018, PT Hero telah mengoperasikan 448 gerai. Yang terdiri dari 59 Giant Ekstra, 96 Giant Ekspres, 31 Hero Supermarket, 3 Giant Mart, 258 Guardian Health, dan 1 toko IKEA.

Pemutusan hubungan ker­ja (PHK) diprotes ratusan pekerja dari Serikat Pekerja Hero Supermarket (SPHS). Para pekerja menggelar demonstrasi di depan kantor pusat PT Hero Supermarket, di Jalan Boulevard Bintaro Sektor 7, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan pada Jumat, 11 Januari lalu. Mereka menilai, pemecatan ratusan karyawan itu merupakan PHK sepihak.

Presiden Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia Mirah Sumirat mengatakan, pihaknya menolak PHK secara sepihak yang dilakukan PT Hero. Sebab, terjadi pelangga­ran Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dengan adanya pemu­tusan kerja massal tersebut. "Seharusnya, ketika toko tu­tup, karyawan ditempatkan di toko lain yang masih ada atau masih aktif," ujar Mirah dalam orasinya.

Menurut Mirah, PT Hero Supermarket sudah melaku­kan PHK sejak tahun 2017. Awalnya, PHK berjalan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku. Namun, memasuki tahun 2018, pihak manaje­men tidak lagi melaksanakan ketentuan. Yakni, melaku­kan PHK tanpa memberi tahu lebih dahulu kepada pekerja. Manajemen, kata dia, tidak melalui proses perundingan atau menginformasikan kepada pekerja. "Langsung kirim ke rumah pakai kurir tanpa pem­beritahuan," tandasnya.

Selain adanya PHK secara sepihak, Mirah mengungkap­kan dugaan perlakuan union busting atau penghapusan ser­ikat pekerja. Para serikat kerja diberi sanksi ketika melakukan kegiatan organisasinya berupa surat peringatan (SP) 2. "Ini yang dijadikan kekesalan dan kekecewaan oleh para serikat buruh," tandasnya.  ***
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA