Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Gedung DPR Tak Terlihat Dari Lapangan Tembak

Arena Tertutup Seng Warna Hijau

Senin, 22 Oktober 2018, 10:34 WIB
Gedung DPR Tak Terlihat Dari Lapangan Tembak
Foto/Net
rmol news logo Lapangan Tembak Senayan, Jakarta Pusat, ditutup sementara sejak awal pekan lalu demi penyelidikan kasus peluru nyasar ke Gedung Nusantara I DPR.

Jumat pagi (19/10), kepolisian melakukan rekonstruksi di tempattersebut. Saat itu, tersangka IAW dan RMY, telah hadir di tempat rekonstruksi sejak pukul sembilan pagi. Mengenakan baju tahanan berwarna oranye, keduanya dibawa penyidik denganpengawalan ketat polisi bersenjata.

Setengah jam kemudian, ad­egan pertama rekonstruksi dimu­lai. Keduanya memperagakan adegan per adegan penembakan. Adegan diawali kedatangan ked­ua tersangka ke tempat tersebut pada Senin siang (15/10), sekitar jam 12.30.

Sejurus kemudian, keduanya secara terpisah memasuki gudang senjata. Tujuannya, mengambil senjata dan magasin peluru. Dari gudang senjata, keduanya memilih senjata yang berbeda. Pistol tipe Glock 17 dan Akai Custom dengan magasin peluru berukuran 19 milimeter.

Tak lama usai mengambil peluru, keduanya kemudian bergerak menuju arena tembak nomor enam untuk memulai latihan tembak. IAW dan RMY mengarahkan pistolnya lurus ke target sasaran.

Setelah beberapa kali bergan­tian menembak, IAW meminta kepada salah satu petugas lapangan tembak berinisial HS untuk mengubah pengaturan pistol. Pengaturannya diubah dari semi otomatis jadi full oto­matis dengan mengganti switch automizer.

Seusai mengubah switch, keduanya mengarah ke arena tembak nomor tujuh. Tak lama, peluru pistolnya habis dan kem­bali ke arena tembak enam untuk mengisi peluru. Tak lama kemudian, mereka melanjutkan latihannya di arena tembak no­mor tujuh.

Arena tembak tempat IAW dan RMY berlatih merupakan wilayah terbuka. Untuk penga­manan, di sekitar arena lapangan tembak dipasangi seng setinggi 10 meter. Seng tersebut pun me­nancap ke tanah di bawahnya.

Dari arena tembak nomor tujuh pun sama sekali tidak terlihat kompleks DPR karena tertutup seng hijau pelindung itu. Diduga, peluru nyasar itu akibat kelalaian tersangka saat menembak pistol Glock 17 da­lam pengaturan otomatis.

Lapangan tembak yang jadi tempat keduanya berlatih untuk jenis senjata api ini, berada di be­lakang area gedung. Kondisinya terbuka. Tidak seperti lokasi lati­han tembak untuk jenis senapan angin yang berada di area dekat pintu masuk gedung.

Terdapat dua papan sasaran untuk latihan. Beberapa pohon besar juga tampak mengelilingiarea tersebut. Di area itu, setidaknya ada empat titik yang biasa di­gunakan untuk berlatih tembak.

Dari awal dimulainya rekonstruksi, tercatat ada 25 adegan yang dilakukan. Rekonstruksi yang dimulai sekitar jam 9.30, be­rakhir pada pukul 11 siang, jelang persiapan ibadah salat Jumat.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto mengatakan, rekonstruksi yang dipimpin Wadir Krimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary itu, mem­buat kasus tersebut semakin gambling. Hal itu menghindari munculnya berbagai spekulasi.

"Tadi sudah dilaksanakan. Dari jam setengah 10 sampai dengan jam 11 siang. Sudah selesai. Ada 25 adegan, mulai dari yang bersangkutan datang melakukan kegiatan di Lapangan Tembak sampai dengan kembali, itu sudah terangkum dalam re­konstruksi ini," jelas Setyo.

Ketua Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Indonesia (Perbakin) DKI Jakarta tersebut menjelaskan, tersangka IAW sudah mengikuti sertifikasi tem­bak reaksi atau tes kemampuan dan keterampilan sejak April 2018 yang akan digunakan mendaftar ke klub menembak. Selanjutnya, klub akan mengurus kartu Perbakin.

"Kartu Perbakin itu tidak ada keanggotaan perorangan, keanggotaan Perbakin adalah organisasiatau klub menembak," kata Setyo.
Senjata Otomatis Tidak Boleh Untuk Olahraga
  Menurut Kadivhumas Polri yang juga Ketua Perbakin DKI Irjen Setyo Wasisto, Perbakin sebenarnya melarang keras penggunaan alat auto switch ketika latihan. Pasalnya, bisa membahayakan. Selain mampu mengeluarkan lebih dari satu pe­luru dalam satu tembakan, juga memiliki hentakan yang kuat.
Namun, karena diduga pena­saran, kedua tersangka menjajal senjata api yang ditawarkan oleh HS, yakni jenis Glock 17 yang dimodifikasi, ditambah alat auto switch di lapangan reaksi. Setyo menambahkan, apa yang dilaku­kan oleh HS adalah pelanggaran karena lalai dalam mendampingi penembak, namun sampai saat ini HS masih berstatus saksi.

"Dari organisasi kami, Perbakin, itu pelanggaran karena aturannya tidak boleh senjata otomatis digunakan untuk olah­raga," terangnya.

HS sempat dimintai keteranganoleh penyidik Polda Metro Jaya sebagai saksi karena menawarkan alat auto switch kepada para tersangka saat latihan. HS bukan anggota Perbakin, melainkan hanya petugas pembantu (asisten) atau caddy.

"Penyidik segera mengambil keterangan ulang terhadap HS. Sebelumnya sudah dimintai keterangan, tapi bisa saja nanti diperiksa ulang. Nanti saya minta penyidik untuk melakukan pendalaman," tuturnya.

Di tempat sama, Ketua DPR Bambang Soesatyo yang juga menyaksikan proses rekonstruksimenyatakan, dari proses tersebut, terlihat kasus peluru nyasar ke Kompleks Parlemen, Senayan, karena ketidaksengajaan.

"Tadi sudah dilaksanakan prarekonstruksi. Tadi sangat jelas, unsur ketidaksengajaan sangat menonjol. Kemudian arah larasnya mengarah ke gedung parlemen. Walaupun ada pem­batas seng, itu sangat lemah," kata Bamsoet.

Dia menduga, kedua tersangka sempat terkejut saat senjatanya tiba-tiba berubah ke mode oto­matis. Bamsoet juga menduga, lantaran terkejut, posisi tangan tersangka terangkat sehingga peluru bisa menyasar Gedung Nusantara I.

Bamsoet yang juga anggota Perbakin mengatakan, peluru berkaliber sembilan milimeter yang ditembakkan kedua ter­sangka memiliki daya jelajah lebih dari 1.000 meter. Karena itu, ia menilai wajar peluru nyasar yang ditembakkan oleh ter­sangka bisa menjangkau Gedung Nusantara Isebab hanya berja­rak 300 meter dari Lapangan Tembak.

"Maka jelas tidak ada lagi spekulasi. Ini menjawab spekulasi adanya terorisme atau kesenga­jaan. Ini sudah dijawab dengan tegas, bahwa tidak ada unsur kesengajaan atau ancaman terorismeyang dilakukan ke Gedung DPR," tegasnya.
Peluru Nyasar Tembus 6 Ruang Kerja Anggota DPR

Pekan lalu, masyarakat dihe­bohkan dengan kejadian peluru nyasar di sejumlah ruangan di Gedung Nusantara I, Komplek DPR, Senayan, Jakarta Pusat.

Tak tanggung-tanggung, ada enam anggota DPR yang ru­angannya tersasar peluru yang disebut berasal dari Lapangan Tembak Senayan tersebut.

Yang pertama ditemukan, adalah peluru bersarang di ru­ang anggota DPR dari Fraksi Gerindra Wenny Warouw. Peluru bersarang di kaca ruang kerja nomor 1601 yang terletak di lantai 16. Peluru tersebut me­nembus kaca dan tembok ruang kerja Wenny.

Usai peristiwa terjadi, dia melihat keadaan sekitar. Wenny menyebut, peluru melintas 10 centimeter di atas kepala salah satu tamunya. Peristiwa itu terjadi saat pensiunan jenderal bintang satu itu tengah menerimatamu. Dia bahkan sempat curiga, apak­ah aksi itu sengaja dilakukanoleh penembak jitu atau sniper.

Tak lama berselang, polisi menangkap dua pelaku, IAW dan RMY. Keduanya bekerja sebagai PNS di salah satu ke­menterian.

Usai ruangan Wenny, pelurudari senjata yang dipakai IAW dan RMY warga Duren Sawit, Jakarta Timur itu juga menyasar ruang anggota DPR lain. Ruangan milik anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Golkar, Bambang Heri Purnomo di lantai 13 jadi korban.

Saat insiden terjadi, anggota DPR, Bambang Heri Purnomo sedang tidak di tempat. Usai kejadian tersebut polisi menggelar rekonstruksi. Hasilnya, kedua peluru nyasar tersebut berasal dari senjata berjenis Glock 17 kaliber 9 mm yang telah di­modifikasi.

Selanjutnya, peluru kembali ditemuakan di ruangan Anggota DPR Totok Daryanto. Peluru ditemukan pada Selasa (16/10). Penemuan peluru itu pun agak mengejutkan. Pasalnya, polisi yang tengah menggelar olah TKP menemukan bekas tembakanpe­luru di ruang kerja 2003 milik anggota Fraksi PAN tersebut.

Ruangan Totok terkena proyektil di bagian kaca. Saat dim­intai konfirmasi terkait insiden tersebut, anggota Fraksi PAN itu mengaku peluru tidak masuk ke ruangannya. Tapi mengenai besi penyekat kaca.

"Sehingga, melepas ke atas. Pelurunya nggak tahu ke mana. Nah itu biar diurus sama kepoli­sian, dicari pelurunya di mana itu," ucap Totok.

Totok berharap kejadian pe­luru nyasar tak kembali terulang. Dia juga meminta Lapangan Tembak Senayan segera menin­gkatkan pengamanan.

Selanjutnya, ruangan anggota DPR Vivi Sumantri Jayabaya juga jadi korban peluru nyasar. Di hari yang sama saat temuan di ruangan Totok, Polisi juga menemukan bekas proyektil peluru di ruangan kerja anggota Fraksi Partai Demokrat itu. Saat kejadian, Vivi mengaku tengah berada di daerah pemilihannya.

"Ditemukan peluru nyasar di kaca, kalau tadi bukan tembok ya,di dinding. Dinding itu bahannya dari partisi. Jadi memang kalau ada peluru nyasar kita ginikan, bukan tembok dari beton tapi dari partisi di ruang 1008, ruang Ibu Vivi," ujar Kapolres Jakarta Pusat Roma Hutajulu.

Vivi menceritakan peritiwa yang baru saja dialami stafnya. Ketika itu, usai salat zuhur, staf­nya melihat ada lubang di dind­ing ruang kerja. Usai mendapat laporan, dia mengecek untuk memastikan adanya lubang yang diduga bekas peluru.

"Saat saya masuk ke ruangan, mau salat, terus bilang kayaknya ruangan kita kena peluru nyasar. Karena ada serpihan peluru dan ruangan bolong. Terus saya lan­jut rapat di Banggar," cerita Vivi. Usai meminta pihak keamanan gedung mengecek ruangannya, sebuah peluru ditemukan di dalam lemari pakaiannya.

Ruangan anggota Fraksi Partai Demokrat lainnya, Khatibul Umam Wiranu juga turut jadi korban peluru nyasar. Posisi proyektil peluru yang berada da­lam lemari di ruang kerja nomor 915 itu, sempat tak terlihat saat sweeping dilakukan.

"Setelah dikeluarkan dari lemari, ternyata peluru nyasar itu juga memiliki kaliber 9 mili­meter," kata staf ahli Khatibul, Nur Rainy.

Hal ini dibenarkan oleh Kapokja Kunci Gedung Nusantara I, Edys Rahmadi. Bekas tem­bakan peluru ditemukan pada pukul 15.30 WIB. Saat itu posisi peluru masih berada di dalam lemari.

Setelah dikeluarkan dari lemari, kata dia, peluru nyasar itu juga memiliki kaliber 9 milimeter. Bentuk peluru saat ditemukan masih utuh. "Tadi saya lihat sih masih berbentuk peluru, enggak tahu itu bekasnya atau apa. Tapi bentuknya masih peluru utuh," ucap Edys.

Terakhir, peluru nyasar kee­nam. Kali ini proyektil tersebut bersarang di lantai enam, ruang kerja nomor 0617 yang ditempa­ti anggota Fraksi PDIP Effendi Simbolon, Rabu.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, peluru tersebut ditemukan pada pukul 09.30 WIB. Dikabarkan, peluru tersebut menembus dind­ing dari arah luar, lalu bersarang di dinding atas jendela kaca bagian dalam.

"Pagi pukul 8.30 pagi, di­lakukan penyisiran kembali terhadap Gedung DPR. Dari hasil penelusuran maupun penyisiran sementara, di lantai 6, di kamar 617, di ruangan pak Effendi Simbolon, ditemukan ada lubang. Lubang di kaca," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di Polda Metro Jaya. ***
EDITOR:

ARTIKEL LAINNYA