Ketua MPR: Implementasi Pancasila Itu Mudah Dan Logis

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Senin, 26 Desember 2016, 15:10 WIB
Ketua MPR: Implementasi Pancasila Itu Mudah Dan Logis
Zulkifli Hasan
rmol news logo Ketua MPR RI Zulkili Hasan didaulat menjadi pembicara utama Sosialisasi Empat Pilar kepada sekitar 500 peserta warga Muhammadiyah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Senin (26/12).

Acara yang digelar di aula Universitas Muhammadiyah Purworejo itu juga dihadiri pejabat Bupati Purworejo Agus Bastian, pimpinan DPD Muhammadiyah Purworejo dan Forkopimda Purworejo.

Dalam paparannya, Zulkifli mengingatkan bahwa bangsa Indonesia saat ini menghadapi tantanngan yang sangat besar. Yang paling luar biasa adalah tantangan dari dalam negeri. Sejak reformasi bergulir hingga sekarang, tantangan yang paling berat dari dalam antara lain soal kesenjangan yang makin melebar, yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin, serta nilai-nilai kebangsaan yang makin memudar.

"Kesenjangan sosial yang terlalu jauh sangat berbahaya. Kesenjangan sosiallah yang membuat sebagian pihak berpikir keras radikal dan mudah melakukan aksi teror. Pancasila adalah benteng rakyat Indonesia mencegah hal itu terjadi," katanya.

Diutarakan Zulkifli, Pancasila sangat berfungsi sebagai benteng jika dipahami sekaligus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. "Contohnya rasa adil dan berkeadilan sosial. Jika rasa adil dirasakan seluruh rakyat, maka potensi radikalisme tidak akan mudah masuk mempengaruhi," ujarnya.

Berbicara soal Empat Pilar MPR yang di dalamnya ada Pancasila sebenarnya sangat mudah dilaksanakan sangat sederhana dan sangat logis. Contoh, sekolah Muhammadiyah di Papua tidak membeda-bedakan anak untuk bisa bersekolah di sana. Apakah agama Islam atau non Islam semuanya bisa bersekolah, inilah Empat Pilar sangat mudah sekali.

Konflik, lanjut Zulkifli, terjadi karena selain kesenjangan sosial, masing-masing hanya melihat perbedaan bukannya persamaan. Mempermasalahkan perbedaan akan mengakibatkan kebencian dan pertengkaran. Sekarang, bangsa ini harus melupakan perbedaan. Perbedaan adalah sunatullah dan memang merupakan kekayaan bangsa.

"Mulailah dengan melihat persamaan bukan perbedaan. Kita jangan berharap besar pada negara-negara Timur Tengah. Saya sudah menemui pimpinan-pimpinan di sana, sulit sekali meredam konflik antar mereka bahkan saat ini tidak ada tanda-tanda konflik berhenti. Umat Islam Indonesia adalah harapan, kita harus percaya itu," tegasnya.

Mengapa Indonesia menjadi harapan, sebab Indonesia memiliki Pancasila. Dalam Pancasila semua rakyat Indonesia memiliki nilai-nilai yang merupakan saripati nilai luhur bangsa dan agama.  Pancasila harus dijadikan perilaku bangsa. Perilaku rakyat Indonesia harus sejalan dengan nilai Ketuhanan. Jadi jika ada aksi teroris apalagi sampai melakukan bom bunuh diri adalah perbuatan biadab tidak sesuai dengan nilai Ketuhanan.

"Coba liat fenomena aksi damai 212 di Monas Jakarta, semuanya jadi satu umat Islam tanpa melihat beda mazhab, suku, ras semuanya sama, sangat indah sekali jika ini ditetapkan dalam skala nasional," tandasnya. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA