Salah satu alasan utama penyelenggaraan diskusi tentang bahasa daerah adalah karena rasa kepedulian dan kekhawatiran sebagai anak bangsa, melihat fakta sekitar lima belas bahasa daerah Indonesia sudah punah dan sekitar seratus berpotensi terancam punah.
Dalam kesempatan itu, Ma'ruf Cahyono menyampaikan, sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia yakin, kegiatan ini bisa memberi kontribusi besar pada upaya menjalin kualitas Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus melestarikan kebudayaan yang beragam dan menjaga kebhinnekaan.
"Kegiatan ini, tidak jauh dari upaya yang dilakukan MPR yakni Sosialisasi Empat Pilar MPR dengan berbagai metode penyampaian," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perustakaan MPR, Roosiah Yuniarsih mengungkapkan rasa bahagianya karena dari enam puluhan penulis, penyair, dan budayawan yang meramaikan acara tersebut, kebanyakan baru pertama kali mengunjungi gedung MPR. Bahkan ada sengaja datang jauh dari Aceh. Dan rata-rata merasa bangga bisa berada dalam acara itu.
Hal senada juga diungkapkan Krisna Mukti, yang memuji penggagas acara. Dalam acara itu, Khrisna berpartisipasi membacakan puisi karya Na Dhien yang merupakan puisi favorit di Ubud Writers and Readers Festival 2016, yang berbahasa Jawa.
"Jujur saya akui, saya terbiasa berbahasa Betawi ketimbang bahasa Jawa, sampe dingin tangan saya ini," akunya, disambut tawa peserta.
Acara ini sendiri, selain diramaikan dengan pembacaan puisi dalam berbagai bahasa daerah, acara diisi dengan membahas novel trilogi Si Tumoingkarangan Saut Poltak Tambunan dalam bahasa Batak, yang dimoderatori Kurnia Effendi. Sebelumnya penulis menyerahkan satu set novel tersebut kepada Krisna Mukti.
[rus]
BERITA TERKAIT: