Pimpinan MPR: Tidak Benar Pesantren Dikaitkan Dengan Radikalisme

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Minggu, 24 Januari 2016, 06:56 WIB
Pimpinan MPR: Tidak Benar Pesantren Dikaitkan Dengan Radikalisme
hidayat nur wahid
rmol news logo . Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengatakan kehadiran pondok pesantren di Indonesia adalah sebuah fakta pesantren memang untuk bangsa. Demikian ia sampaikan saat menghadiri acara silaturrahim alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, di Kota Tangerang, Banten, pada 22 Januari 2016.

Diungkapkan, dulu pada masa perang pra kemerdekaan, para santri dan kiai serta pemimpin yang berada di pesantren berjuang untuk Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, para santri dan kiai dan pemimpin pesantren pun mengisi kemerdekaan dengan aktivitas yang luar biasa seperti melalui pendidikan dan aktivitas penting lainnya.

Dengan demikian, Hidayat menegaskan tidak benar kalau pesantren dikaitkan dengan radikalisme apalagi terorisme. Menurut pria yang juga alumni Gontor itu justru pesantrenlah yang mengajarkan cinta Tanah Air, mengisi kemerdekaan sesuai dengan cita-cita luhur dan menolak komunisme.

Dari fakta tersebut Hidayat menyayangkan kalau pesantren dicurigai, justru menurutnya pesantren harus dihormati dan diajak bersama-sama untuk menghadirkan generasi Islam yang moderat dan Islam yang memajukan bangsa.

Dalam kesempatan itu, Hidayat mengatakan, sekarang alumni Gontor sudah mendirikan 300 pesantren. Jumlah ini menurutnya sangat banyak. "Itu jumlah yang besar dan menyebar di seluruh Indonesia," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan alumninya pun banyak menduduki tempat-tempat yang strategis seperti ketua lembaga negara, menteri, ormas terbesar, duta besar, dan lain sebagainya.

Dari fakta itu Hidayat mengakui bahwa alumni pesantren pada puncak-puncak kekuasaan dan menghadirkan kebaikan. Dari sini pula menunjukkan pesantren tak pernah mengajarkan radikalisme apalagi terrorisme.

Sistem pendidikan pesantren menurut Hidayat masih relevan. Sistem pendidikan pesantren dikatakan sangat beragam. Ada yang khusus mengajarkan pendidikan agama, ada pula yang menggabungkan pendidikan umum. Menurut Hidayat semua ilmu dibutuhkan. Selain perlu ilmu juga dibutuhkan iman.

Ditambahkannya, bila pesantren dihormati dengan baik, ia akan menjadi partner yang luar biasa yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA