Pagelaran wayang kulit ini menampilkan dalang Ki Sigit Ariyanto yang membawa lakon "Wahyu Makutharama" dipadati warga masyarakat Blora. Pagelaran wayang kulit ini turut dihadiri Bupati Blora Djoko Nugroho dan jajaran pimpinan dan SKPD Kabupaten Blora. Dari MPR tampak hadir Ketua Kelompok DPD MPR RI Bambang Sadono, Ketua Fraksi Partai Demokrat untuk MPR RI Guntur Sasono, perwakilan Fraksi Partai Nasdem M. Fadholi , perwakilan Fraksi Partai Gerindra Sri Wulan, dan perwakilan dari Fraksi PKS M. Gamari.
Bambang Sadono yang mewakili pimpinan MPR mengatakan bahwa MPR memanfaatkan seni budaya wayang kulit sebagai media sosialisasi karena wayang merupakan seni budaya tradisional Indonesia yang tidak hanya sebagai tontonan tapi juga tuntunan dalam kehidupan masyarakat.
"Kegiatan wayang adalah bentuk kesenian yang lengkap, tak hanya ajaran tapi juga musik, drama, keterampilan pedalangan, hiburan," katanya sesaat sebelum menyerahkan tokoh Arjuna kepada dalang Ki Sigit Ariyanto sebagai pertanda dimulainya pagelaran wayang kulit ini.
Sementara lakon "Wahyu Makutharama" menurut Bambang bercerita tentang sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin agar menjadi panutan dan teladan bagi rakyat.
"Cerita ini mirip dengan Bung Karno ketika menggali Pancasila, menggali sifat-sifat kepemimpinan, yaitu Astra Brata. Dalam kondisi bangsa dan negara saat ini, cerita Wahyu Makutharama dapat dijadikan sebagai refleksi bagi setiap pemimpin apakah sudah mengamalkan dan melaksanakan ajaran Astra Brata demi mewujudkan janji-janji kebangsaan," kata Bambang yang juga ketua Badan Kajian MPR ini.
Bambang berharap pagelaran seni budaya ini dapat menjadi media yang efektif untuk membangun jati diri bangsa Indonesia dalam kerangka penguatan karakter dan kepribadian bangsa.
"Tentunya dijiwai nilai-nilai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika," kata senator asal Jawa Tengah ini.
Lakon "Wahyu Makutharama" sendiri mengisahkan tentang pencarian mahkota yang diberinama Sri Batara Rama. Barangsiapa memiliki mahkota itu maka akan menjadi sakti dan kelak akan menurunkan raja-raja yang memerintah di Marcapada. Karena berkasiat menurunkan raja-raja, mahkota itu kemudian disebut sebagai "Wahyu Makutharama".
Ternyata, dalam pencarian mahkota itu, diketahui bahwa mahkota itu bukanlah berwujud benda, melainkan berupa ajaran luhur bagi seorang pemimpin. Ajaran luhur itu dinamakan Astra Brata (delapan prinsip kepemimpinan berlandaskan pada sifat-sifat alam).
[ian]
BERITA TERKAIT: