Ashari, tokoh yang selama ini berdiri gagah di balik jubah kesucian, kini berakhir seperti penjahat sinetron episode terakhir, ditangkap subuh-subuh di Wonogiri setelah lari ke sana kemari bak peserta audisi Ninja Warrior versi pesantren.
Dari Kudus, Bogor, Jakarta, Solo, sampai Wonogiri, pelariannya panjang juga. Mungkin dikira kalau pindah kota terus, dosa bisa
buffering dan polisi kehilangan jaringan.
Padahal selama ini mulutnya penuh kata suci. Mengaku Wali Nabi. Waliyullah. Khariqul ‘Adah.
Wah, gelarnya panjang sekali. Tinggal tambah “Distributor Resmi Surga Cabang Pantura” lengkaplah sudah. Tapi seperti banyak drama negeri ini, semakin tinggi gelar spiritual dijual, sering kali semakin busuk ruang bawah tanahnya.
Benar saja. Di balik tembok pondok yang katanya tempat mendidik akhlak, justru muncul cerita paling menjijikkan yang membuat nurani waras muntah berjamaah.
Santriwati dipanggil malam-malam dengan alasan “keperluan spiritual”. Ada yang disuruh memijat. Ada yang diminta menemani tidur.
Semua dibungkus ancaman dosa dan laknat kalau menolak. Astaga. Setan pun mungkin geleng-geleng sambil berkata, “Wah, ini kreatif juga modusnya.”
Yang bikin amarah rakyat meledak, korbannya banyak anak yatim dan anak keluarga miskin.
Mereka datang mencari ilmu, malah masuk jebakan manusia yang menjadikan agama seperti kartu member untuk memuaskan syahwat.
Nuan bayangkan betapa kejamnya manipulasi ini. Anak-anak polos dicekoki doktrin, patuh pada “wali” berarti jalan menuju surga.
Melawan berarti durhaka kepada Tuhan. Ini bukan sekadar pelecehan. Ini kolonialisme mental berkedok agama.
Lalu muncullah ironi paling lucu sekaligus paling memuakkan, lelaki yang mengaku dekat dengan Tuhan ternyata takut sekali dekat dengan kantor polisi.
Begitu status tersangka keluar, langsung kabur. Hilang semua aura kesaktian. Tak ada cahaya langit. Tak ada mukjizat. Yang ada cuma teknik survival pengecut kelas kampung, sembunyi, pindah kota, lalu berharap rakyat lupa.
Tapi publik telanjur marah. Memang harus marah. Karena kasus beginian bukan cuma soal satu predator cabul.
Ini penghinaan terhadap agama, penghinaan terhadap pendidikan, dan tamparan keras bagi ribuan kiai tulus yang benar-benar mengajar dengan hati.
Ulama asli ikut tercemar gara-gara satu manusia yang menjadikan sorban sebagai kamuflase nafsu.
Kabarnya korban yang sudah melapor ada delapan. Tapi jumlah sebenarnya diduga bisa mencapai puluhan.
Dari 2020 sampai 2026. Bertahun-tahun. Selama itu seorang manusia bisa berdiri memberi ceramah moral sambil menyimpan kebusukan di balik pintu kamar.
Kalau kemunafikan bisa dijadikan bahan bakar, mungkin kasus ini sudah cukup menghidupi satu pembangkit listrik.
Sekarang rakyat cuma ingin satu hal, jangan ada drama jilid dua. Jangan mendadak sakit.
Jangan mendadak lupa ingatan. Jangan mendadak muncul narasi “kriminalisasi ulama” untuk mengaburkan penderitaan korban.
Karena terlalu sering negeri ini ganas kepada maling ayam, tapi mendadak lembut kepada manusia berjubah dan berpengaruh.
Ashari sudah tertangkap. Bagus. Tapi borgol bukan akhir cerita. Itu baru trailer. Rakyat masih menunggu film utamanya, hukuman yang benar-benar setimpal.
Sebab luka korban tak akan sembuh hanya dengan konferensi pers dan foto tersangka pakai rompi tahanan.
Mereka butuh keadilan yang nyata. Dan negeri ini, sekali saja, harus membuktikan bahwa jubah suci bukan tiket kebal hukum.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar
BERITA TERKAIT: