Setelah Hancur-hancuran, Iran dan Amerika Sepakat Damai

Rabu, 17 Juni 2026, 05:10 WIB
Setelah Hancur-hancuran, Iran dan Amerika Sepakat Damai
Representative Image (Foto: AI)
YANG senang keributan, pasti tak senang tulisan ini. Soalnya, Iran dan Amerika Serikat sepakat berdamai setelah keduanya saling hancur-hancuran.

Pada 15 Juni 2026, Amerika dan Iran mengumumkan sebuah kerangka kesepakatan atau Memorandum of Understanding (MoU). 

Penandatanganan resmi dijadwalkan Jumat 19 Juni 2026 di Swiss. Tentu saja Swiss. Negara ini sudah seperti gedung serbaguna dunia. Mau damai? Swiss. Mau negosiasi? Swiss. Mau pura-pura akur? Swiss. Tinggal pesan ruangan, siapkan kopi, lalu foto bersama.

Kesepakatan ini dimediasi Pakistan di bawah PM Shehbaz Sharif dengan bantuan Qatar. Di atas kertas terlihat megah. Di lapangan terasa seperti memasang plester pada bendungan yang mulai bocor.

Isi utamanya adalah gencatan senjata selama 60 hari. Ya, hanya 60 hari. Bahkan garansi rice cooker kadang lebih lama. Dalam periode itu, Selat Hormuz dibuka kembali. 

Jalur yang mengangkut sekitar 20 persen minyak dunia ini sebelumnya berubah seperti gerbang neraka versi industri energi. Kapal-kapal tanker melintas sambil deg-degan seperti mahasiswa yang belum bayar UKT tetapi nekat ikut ujian.

Paman Sam juga akan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Sebagai gantinya, Iran membersihkan ranjau yang mereka pasang. 

AS kemudian membuka sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan bernilai miliaran dolar, melonggarkan sebagian sanksi, dan menghentikan operasi militer termasuk di Lebanon.

Lalu bagaimana dengan masalah nuklir yang selama ini menjadi sumber keributan utama? Nah, di sinilah letak komedinya.

Masalah nuklir justru ditaruh di kotak "nanti dibahas". Pengayaan uranium, pembongkaran stok enriched uranium, sistem verifikasi, dan detail teknis lainnya ditunda ke periode 60 hari berikutnya. 

Nuan bayangkan dua orang bertengkar karena satu masalah besar, lalu saat berdamai mereka berkata, “Masalah utamanya nanti saja ya.”

Trump langsung berkeliling membawa piala imajiner sambil meneriakkan versi diplomatik dari “let the oil flow!”. Iran juga tidak mau kalah. 

Mereka mengklaim berhasil mempertahankan pengaruh di Hormuz bersama Oman dan memperoleh manfaat ekonomi tanpa menyerah total. Dua-duanya mengaku menang. Mirip laga Belanda vs Jepang berakhir 2-2, tetapi kedua tim sama-sama mengadakan konvoi juara.

Pasar keuangan langsung pesta tujuh hari tujuh malam. Harga minyak turun. Investor tersenyum. Grafik ekonomi mendadak terlihat lebih sehat. 

Namun para pengamat geopolitik justru memandang semuanya seperti penonton sinetron yang sudah hafal plot twist-nya.

Aniseh Tabrizi dari Chatham House menegaskan, ini baru memorandum of understanding, belum kesepakatan final. 

Jonathan Panikoff dari Atlantic Council menyebutnya hanya outline kasar yang penuh perbedaan tafsir soal Hormuz dan nuklir. 

Catherine Ashton, mantan pemimpin negosiasi JCPOA 2015 mengingatkan, tanpa verifikasi kuat dan komitmen berkelanjutan dari AS, Iran, serta Israel, semuanya bisa runtuh sewaktu-waktu.

Robert Malley menambahkan, persoalan nuklir pasca-perang jauh lebih rumit dari sebelumnya. 

Sementara Steven Cook dari Council on Foreign Relations hanya memberi komentar yang terdengar seperti bapak-bapak yang sudah capek melihat drama keluarga, “Kita pernah berada di sini sebelumnya.”

Brookings, Institute for the Study of War, dan Soufan Center juga mengingatkan, perang memang mahal bagi semua pihak, tetapi Iran masih memegang kartu penting berupa Hormuz. 

Di sisi lain Trump membutuhkan kemenangan politik yang bisa dijual ke publik domestik. Belum lagi ketidakpercayaan yang sudah mengakar, perbedaan isi MoU, misteri otoritas pengambil keputusan di Iran yang disebut-sebut melibatkan Mojtaba Khamenei, serta Israel yang belum sepenuhnya ikut dalam pesta perdamaian ini.

Kesimpulannya sederhana. Ini bukan akhir cerita. Ini cuma jeda iklan. Minyak mungkin kembali mengalir, kapal tanker bisa bernapas lega, dan pasar keuangan boleh berjoget sebentar. Namun program nuklir Iran, pengaruh regional, dan rasa saling curiga masih menggantung seperti bom waktu di ruang tamu.

“Bang, kalau udah damai, Selat Hormuz dibuka, berarti harga Pertamax bisa turun ni.”

“Mestinya begitu, wak. Cuma, di negeri ini, kalau udah naik susah turun, kecuali buah kelapa.” Upsrmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA