Memaknai Tausiah Ashari

Minggu, 10 Mei 2026, 04:30 WIB
Memaknai Tausiah Ashari
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ndolo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng), Kiai Ashari. (Foto: Istimewa)
ANDA pasti sering mendengar ungkapan L? tanzhur il? al-q?il, wal?kin isma‘ m? yuq?l. Artinya, “Jangan lihat siapa yang berkata, tapi dengarkan apa yang dikatakannya.” 

Nah, kalau begitu mari kita dengarkan tausiah Kiai Ashari.

Silakan bayangkan suasananya. Seorang kiai berdiri gagah di mimbar. Jubah putihnya berkibar pelan diterpa kipas angin Maspion tiga tombol yang bunyinya sudah seperti drone tempur. 

Tasbih muter lebih cepat dari kalkulator bendahara bansos akhir tahun. Sorot matanya teduh seperti promo umrah “berangkat dulu bayar kapan-kapan”. 

Lalu beliau berkata lembut, “Titipkan anak perempuan kalian di pesantren agar menjadi salehah.”

Para orang tua langsung meleleh macam es batu disiram kuah bakso. Dalam kepala mereka, pesantren itu seperti kombinasi surga, bengkel tune up iman, dan klinik anti maksiat 24 jam. Anak masuk pondok pakai sandal swallow, keluar jadi bidadari dunia akhirat lengkap dengan paket akhlak premium edition. 

Branding-nya mantap kali. Kalau dibuat iklan TV, mungkin ada efek cahaya turun dari langit sambil backsound suara merpati dan rebana Dolby Surround.

Tapi beginilah negeri +62. Plot twist datang lebih cepat dari kurir COD yang nelepon, “Bang, keluar bentar saya sudah depan gang.”

Di depan publik, Kiai Ashari dari Ponpes Ndolo Kusumo di Pati bicara soal adab, keberkahan, dan pentingnya taat total kepada guru. 

Santri diajarkan hormat tanpa batas. Jangan membantah. Jangan curiga. Jangan banyak tanya. 

Pokoknya kalau kiai bilang galon Aqua bisa baca kitab kuning, santri wajib menjawab, “MasyaAllah, fasih sekali tajwidnya.”

Eh ternyata… di balik ceramah aroma kasturi dan minyak wangi Arab 3 liter itu, muncul dugaan pelecehan seksual terhadap sekitar 50 santriwati. 

Lima puluh, wak! Itu bukan angka kecil. Itu sudah hampir cukup bikin kompetisi voli antar trauma tingkat kecamatan. 

Mayoritas korban adalah remaja dari keluarga sederhana yang datang buat cari ilmu dan menjaga akhlak. Tapi yang didapat malah trauma seumur hidup plus bonus trust issue level dewa.

Modusnya bikin otak salto tanpa matras. Dugaan manipulasi spiritual. Doktrin ketaatan dipelintir jadi alat kontrol. 

Nasihat yang harusnya membawa manusia menuju cahaya malah dipakai seperti kartu akses VIP menuju lorong gelap. 

Bahkan setan mungkin sampai buka buku catatan sambil ngomel, “Buset, manusia sekarang kreatif kali dosa-dosanya.”

Yang lebih absurd lagi, setelah kasus meledak, sang kiai kabur ke petilasan keramat dan menyamar jadi peziarah. 

Ini pelarian rasa lokal wisdom. Bukan kabur naik jet pribadi kayak buronan internasional. 

Ini malah vibe-nya seperti villain sinetron azab jam sahur yang sembunyi sambil pegang tasbih dan muka sok teduh. Tinggal kurang efek petir CGI dan suara, “Allahuakbarrrr!”

Tapi akhirnya tetap ditangkap. Kementerian Agama langsung mencabut izin pesantrennya permanen. 

Tamatlah kerajaan ceramah akhlak yang ternyata fondasinya lebih rapuh dari janji caleg habis pemilu.

Dari sinilah kita belajar, hormati ulama itu wajib, tapi jangan parkir otak di luar pagar pesantren. 

Akal sehat tetap harus hidup. Sebab di negeri ini, kadang yang paling keras bicara soal moral justru diam-diam jadi final bos kemunafikan. 

Mulai sekarang, kalau ada manusia minta ditaati mutlak tanpa kritik, tanpa pertanyaan, tanpa logika, hati-hati wak… jangan-jangan itu bukan guru, tapi admin grup WA keluarga yang naik level jadi boss terakhir.rmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA