Gubernur Sumbar:

Daerah Menjadi Ruang Tumbuhnya Pemimpin Indonesia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/adityo-nugroho-1'>ADITYO NUGROHO</a>
LAPORAN: ADITYO NUGROHO
  • Rabu, 02 September 2026, 04:01 WIB
Daerah Menjadi Ruang Tumbuhnya Pemimpin Indonesia
Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi Ansharullah. (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
rmol news logo Kepemimpinan daerah memiliki posisi strategis, bukan hanya sebagai pelaksana pembangunan, tetapi sebagai penggerak lahirnya sumber daya manusia unggul dan generasi pemimpin masa depan. Nasib Indonesia sebagai negara maju dan demokratis ditentukan dari daerah.

Pesan tersebut disampaikan Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi Ansharullah, S.P. dalam Kuliah Umum dan Peluncuran Buku melalui paparan bertajuk “Memimpin Manusia, Menyiapkan Peradaban: Kepemimpinan Nasional sebagai Kunci Pembinaan SDM Unggul Bangsa” di Institut SEBI, Senin, 31 Agustus 2026.

Menurut Mahyeldi, pembangunan Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada infrastruktur, investasi, maupun kemajuan teknologi. Faktor penentunya tetap manusia yang mampu memberi arah terhadap seluruh instrumen pembangunan tersebut.

“Masa depan bangsa tidak dimenangkan oleh teknologi semata, tetapi oleh manusia yang mampu memberinya arah,” kata Mahyeldi dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.

Karena itu, tantangan kepemimpinan saat ini bukan hanya bagaimana menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut disertai peningkatan kualitas manusia, perluasan kesempatan, pemerataan manfaat pembangunan, serta kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan.

Mahyeldi menekankan bahwa besarnya penduduk usia produktif Indonesia merupakan peluang, tetapi tidak otomatis menjadi bonus pembangunan. Tanpa pendidikan yang relevan, kesehatan, karakter, pembelajaran sepanjang hayat, serta kesempatan kerja berkualitas, bonus demografi justru dapat berkembang menjadi tekanan sosial dan ekonomi.

BPS mencatat pada Mei 2026 angkatan kerja Indonesia mencapai 155,41 juta orang, dengan 148,19 juta penduduk bekerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 4,65 persen.

Besarnya angka tersebut, menurut Mahyeldi, perlu diterjemahkan menjadi agenda konkret di tingkat nasional maupun daerah: menyediakan akses peningkatan keterampilan, menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, memperkuat literasi digital dan AI, serta memberi generasi muda kesempatan menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

Daerah dalam konteks ini memiliki keunggulan karena berada paling dekat dengan masyarakat, sekolah, kampus, dunia usaha, desa dan nagari. Pemerintah daerah dapat menjadi penghubung berbagai ekosistem tersebut sehingga pembangunan SDM tidak berjalan secara parsial.

“Kepemimpinan nasional pada akhirnya juga dibangun dari daerah. Daerah harus menjadi tempat lahirnya manusia yang kompeten, berkarakter, berani mengambil tanggung jawab, dan mampu bekerja untuk kepentingan yang lebih luas,” tutur Mahyeldi.

Sumbar dan Tradisi Melahirkan Pemimpin

Dalam paparannya, Mahyeldi juga mengangkat sejarah Sumatera Barat yang telah melahirkan banyak tokoh nasional seperti Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, dan Buya Hamka.

Tokoh-tokoh tersebut memiliki jalan pemikiran dan perjuangan yang berbeda, tetapi mempunyai benang merah berupa keberanian belajar, kemandirian berpikir, kekuatan literasi, integritas, kemampuan menyampaikan gagasan, dan pengabdian melampaui kepentingan daerah asal.

Lanjut Mahyeldi, sejarah tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai kebanggaan simbolik.

“Sejarah bukan museum; sejarah adalah perintah untuk melanjutkan,” tegasnya.

Generasi sebelumnya menghadapi penjajahan dan perpecahan. Generasi sekarang menghadapi persaingan talenta, kecerdasan artifisial, ketimpangan sosial, perubahan iklim, serta transformasi ekonomi global.

Karena itu, tantangannya bukan menghadirkan kembali tokoh masa lalu, tetapi menciptakan ekosistem yang memungkinkan lahirnya generasi baru yang memiliki kualitas kepemimpinan sesuai dengan tantangan zamannya.

“Nilai Minangkabau seperti Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Alam Takambang Jadi Guru, serta semangat Tungku Tigo Sajarangan dinilai tetap relevan sebagai fondasi dalam membangun kepemimpinan modern,” bebernya.

Sambung dia, nilai memberi arah, pengalaman masyarakat memberi pemahaman terhadap realitas, sementara ilmu dan teknologi menyediakan instrumen untuk menemukan solusi.

Kepemimpinan Harus Melahirkan Pemimpin Baru

Mahyeldi menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan sekadar besarnya kewenangan atau banyaknya orang yang mengikuti dirinya.

Pemimpin yang berhasil justru mampu melahirkan manusia-manusia baru yang kompeten dan dapat dipercaya.

Untuk itu, ia menawarkan agenda pembinaan 5T: Temukan potensi dan hambatan; Tempa karakter, disiplin, dan daya juang; Tingkatkan kompetensi bidang, digital, AI, dan komunikasi; Tumbuhkan jejaring, mentor, serta ruang berkarya; dan Tugaskan generasi muda memimpin penyelesaian persoalan nyata.

Pendekatan tersebut menempatkan pembinaan SDM lebih jauh daripada sekadar pelatihan dan sertifikasi.

Pembinaan dinilai berhasil apabila pengetahuan dan keterampilan berubah menjadi kapasitas untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Ekosistem pembinaan itu juga membutuhkan keterlibatan keluarga, masjid dan surau, sekolah dan kampus, desa dan nagari, dunia usaha, masyarakat, serta pemerintah.

Pengalaman pembangunan Sumatera Barat menunjukkan bahwa kemajuan harus selalu dibaca bersama tantangan yang masih tersisa. Pada triwulan II 2026, ekonomi Sumatera Barat tumbuh 4,54 persen secara tahunan, sementara pertumbuhan semester I 2026 mencapai 4,77 persen.

Pada Maret 2026, tingkat kemiskinan tercatat 5,27 persen atau sekitar 311,14 ribu orang. Namun kemiskinan perdesaan sebesar 6,88 persen, masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan sebesar 3,82 persen.

Bagi Mahyeldi, data semacam ini bukan hanya angka capaian. Data harus menjadi dasar untuk mengetahui siapa yang belum terjangkau dan pekerjaan apa yang belum selesai.

Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, kepemimpinan daerah karena itu tidak lagi cukup hanya mengelola administrasi pemerintahan. Kepala daerah perlu tampil sebagai penggerak pembangunan manusia, penghubung ekosistem pembelajaran, pembuka kesempatan, serta pencetak pemimpin baru.

“Indonesia Emas membutuhkan daerah-daerah yang berani mengambil peran tersebut,” jelasnya.

Sebab masa depan Indonesia bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi berkembang atau seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi oleh seberapa baik bangsa ini mempersiapkan manusia yang akan memimpin perubahan.

“Pemimpin terbaik tidak membuat semua orang bergantung kepadanya; ia menyiapkan semakin banyak orang untuk memimpin dengan amanah,” pungkasnya. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA