Anggota Komisi XI DPR RI Amin AK mengatakan perhatian utama seharusnya tidak hanya tertuju pada pergerakan nilai tukar, melainkan bagaimana momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi perekonomian.
"Fokus kita bukan meratapi rupiah yang melemah, melainkan mengejar ekonomi yang kuat. Ketika Rupiah tertekan oleh dinamika global, kita harus mampu mengubah tantangan itu menjadi peluang ekonomi," ujar Amin dalam keterangan tertulis, Kamis, 6 Agustus 2026.
Pada perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026, Rupiah dibuka menguat 20 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.913 per Dolar AS, melanjutkan penguatan sehari sebelumnya.
Menurutnya, pelemahan Rupiah justru dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan penerimaan devisa, terutama melalui sektor pariwisata, ekspor, dan percepatan hilirisasi industri.
Ia menjelaskan, ketika Rupiah melemah, biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara sehingga berpotensi meningkatkan kunjungan dan pemasukan devisa.
"Pariwisata adalah ekspor yang datang ke Indonesia. Wisatawan membawa devisa tanpa kita harus mengirim barang ke luar negeri. Karena itu, pemerintah perlu menjadikan sektor ini sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif," katanya.
Selain pariwisata, Amin mendorong percepatan hilirisasi agar Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah.
"Hilirisasi harus terus dipercepat agar Indonesia tidak lagi hanya menjual bahan mentah. Semakin tinggi nilai tambah produk yang kita ekspor, semakin besar devisa yang masuk dan semakin kuat fondasi ekonomi nasional," tegasnya.
Meski demikian, sejumlah ekonom masih memperkirakan Rupiah berpotensi kembali tertekan dalam jangka pendek seiring pelaku pasar menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Nonfarm Payrolls) yang menjadi acuan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Amin pun mengingatkan stabilitas nilai tukar tetap harus dijaga karena pelemahan yang terlalu dalam berpotensi memicu inflasi, meningkatkan biaya produksi, dan menekan daya beli masyarakat.
BERITA TERKAIT: