Menurut Adi, perombakan kabinet kali ini tidak sekadar berkaitan dengan evaluasi kinerja, tetapi juga menjadi bagian dari konsolidasi politik pemerintahan Prabowo.
“Reshuffle kali ini bagian dari konsolidasi. Saya lihat partai politik yang cukup tegak lurus, selalu bersama Prabowo Subianto, portofolionya semakin meningkat,” ujar Adi, Senin, 5 Oktober 2026.
Di sisi lain, Adi melihat perombakan kabinet tersebut menjadi tanda bahwa hubungan politik pemerintah saat ini dengan kubu Solo yang diasosiasikan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo mulai merenggang.
Adi menilai frekuensi reshuffle yang dilakukan pemerintahan Prabowo menunjukkan bahwa evaluasi terhadap para pembantu Presiden tidak dilakukan secara berkala dalam hitungan tahunan.
“Reshuffle dilakukan sering dan tanpa henti. Evaluasinya bukan tahunan, tapi day to day,” tegasnya.
Lebih lanjut, Adi berharap menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo yang genap pada 20 Oktober mendatang, kembali dilakukan evaluasi terhadap jajaran menteri.
Direktur Parameter Politik Indonesia itu berharap menteri yang dinilai kontroversial, termasuk yang terseret isu suap, menjadi bagian dari evaluasi tersebut.
“Semoga jelang 20 Oktober, genap dua tahun memerintah, akan dilakukan reshuffle menteri yang dinilai kontroversial, termasuk yang terlibat isu suap,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: