Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS Amin AK menyebut perlambatan tersebut antara lain dipengaruhi faktor musiman.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2026, turun dari 5,61 persen pada kuartal I. Meski demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada kuartal II 2025 yang mencapai 5,12 persen.
Amin menilai struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terlalu bertumpu pada konsumsi rumah tangga. Sementara itu, investasi produktif, ekspor bernilai tambah, dan industri manufaktur dinilai belum memberikan kontribusi secara optimal.
Menurut dia, ketergantungan pada konsumsi membuat pertumbuhan ekonomi lebih mudah terpengaruh momentum tertentu, seperti Ramadan, Idulfitri, pencairan tunjangan hari raya (THR), hingga periode akhir tahun.
“Karena itu, ketika efek musiman berakhir, laju pertumbuhan cenderung ikut melambat seperti yang terjadi pada kuartal II,” kata Amin kepada RMOL, Kamis, 6 Agustus 2026.
Karena itu, Amin mendorong pemerintah memperkuat sumber pertumbuhan yang lebih berkelanjutan melalui percepatan investasi, hilirisasi yang mampu menciptakan lapangan kerja, penguatan daya saing industri manufaktur, serta peningkatan ekspor produk bernilai tambah.
“Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya lebih tinggi, tetapi juga lebih berkualitas dan tidak bergantung pada konsumsi semata,” ujarnya.
Meski demikian, Amin menilai pemerintah telah berada di jalur yang tepat melalui berbagai program strategis. Menurutnya, tantangan selanjutnya adalah memastikan implementasi kebijakan berjalan cepat dan tepat sasaran, sekaligus mampu mendorong sektor swasta meningkatkan ekspansi.
“Dengan sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan reformasi struktural yang konsisten, saya optimistis momentum pertumbuhan ekonomi dapat kembali menguat pada semester kedua tahun ini,” pungkasnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,12 persen.
Namun, pertumbuhan kuartal II 2026 melambat dari kuartal I yang mencapai 5,61 persen. Angka pada kuartal I tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi setelah pandemi Covid-19.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 bila dibandingkan dengan triwulan II-2025 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,29 persen,” ungkap Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud dalam konferensi pers Rilis Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Kantor BPS, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
BERITA TERKAIT: